baca juga

Minggu, 26 April 2015

Tahapan Pengembangan Lembaga Dakwah Kampus ( LDK )

Tahapan Pengembangan Lembaga Dakwah Kampus ( LDK )
Tahapan dakwah bisa di ibaratkan sebuah anak tangga menuju sebuah hasil. Berpegang pada tahapan ini membuat segala yang kita lakukan menjadi terarah. Tahapan ini tidak dibatasi oleh waktu, akan tetapi tahapan ini merupakan tahapan dimana ada kriteria yang harus dipenuhi sebelum memasuki tahapan selanjutnya. Sehingga bisa saja dalam salah satu tahapan setiap LDK menghabiskan waktu yang berbeda. 

Apa saja tahapan dakwah yang ada ? 

Dalam tulisan ini saya akan mencoba memaparkan 4 tahap yang bisa dilalui:

Tahap Pertama : membangun basis kader inti
Dalam risalah dakwah yang Rasul ajarkan, sebagaimana kita ketahui ada golongan yang pertama masuk Islam atau kita kenal dengan Ashabiqunal Awwalun. Golongan pertama ini dibina dengan intens oleh Rasul dalam rangka menguatkan fondasi terdalam dan paling bawah dari bangunan Islam. Bisa kita cermati sirah nabawiyah, Rasul mendidik Sahabat ini selama 10 tahun, atau hampir setengah dari masa kenabian beliau, yakni 23 tahun. Sebagaimana yang dilakukan oleh Rasul. LDK pun akan melakukan hal yang sama, dengan tentunya waktu yang harus lebih cepat, karena kondisi dakwah kampus yang relatif singkat.

Kaderisasi yang dilakukan pada kader inti ini bersifat khusus dan terbatas, sehingga betul-betul segala yang dibutuhkan untuk dakwah kedepannya diharapkan bisa dimiliki oleh kader inti ini. Hal –hal apakah yang harus dimilki ? dalam hal ini ada 3 kebutuhan utama yang perlu dimiliki.

1. Kepribadian seorang Muslim
kepribadian ini meliputi karakter-karakter yang diperlukan seseorang dalam kehidupannya agar ia bisa menjalankan Islam dan mengajarkannya. Seorang kader inti harus memiliki aqidah yang bersih, ibadah yang benar, akhlak yang baik, tubuh yang sehat, kemampuan menghasilkan atau kuat secara ekonomi, pikiran yang intelek, bersungguh-sungguh dan tekun dalam segala hal, memiliki manajemen diri yang baik, disiplin akan waktu serta mempunyai paradigma untuk selalu bermanfaat bagi orang lain. Dengan adanya kepribadian ini diharapkan seorang kader inti bisa menjadi teladan, bisa menjadi guru dan diterima di kalangan masyarakat luas.

2. Kredibilitas dan Moralitas Pemimpin
Islam mendidik para umatnya untuk menjadi pemimpin bagi dirinya dan kalangannya. Dalam hal ini seorang kader inti, diharapkan bisa menjadi pemimpin dimanapun dia berada dalam rangka mengubah kondisi umat yang dipimpinnya menjadi lebih baik. Bukan untuk kekuasaan semata. Akan tetapi paradigma dakwah dan paradigma memberikan cahaya Islam di muka bumi harus terinternalisasi dengan baik di hati kader inti. Menjadi pemimpin adalah sebuah keniscayaan bagi seorang muslim. Sehingga dalam tahap ini seorang kader inti harus dididik bagaimana menjadi pemimimpin yang kuat dan bertanggung jawab. Seorang pemimpin yang bisa mengayomi seluruh umatnya, seorang pemimpin yang bisa menjadi ulama dan umara dalam waktu bersamaan.

3. Kemampuan khusus lainnya
Setiap manusia dilahirkan dengan potensi , minat , dan bakat yang berbeda. Ada seorang yang ahli dalam hal seni, ada seorang yang mahir berdagang atau saat ini kita kenal dengan entrepreneur, atau ada yang ahli dalam olahraga, dan sebagainya. Kemampuan khusus ini haruslah dikembangkan dengan bijak dan tepat, karena potensi seseorang jika dikembangkan akan jauh lebih cepat dan pesat perkembangannya. 

Seorang kader inti sebagaimana Rasul juga mendidik sahabatnya , juga memiliki kekhasan tersendiri. Sebutlah Ali bin Abi Thalib yang cerdas dan gemar menuntut ilmu, Umar bin Khattab yang ahli bermain pedang, Mushaf bin Umair yang menjadi pedagang sukses, dan sahabat lainya, yang memiliki potensi besar dan digunakan dengan baik dalam pemanfaatannya untuk kebutuhan dakwah. 

Seorang kader inti yang ahli dalam seni, bisa jadi dikembangkan dan bisa menjadi kekuatan dalam mengemas dakwah yang lebih komunikatif, seorang yang gemar berolahraga dikembangkan potensinya dalam rangka untuk sebagai duta dakwah diantara para masyarakat yang gemar berolahraga, seorang yang gemar berbisnis, didukung aktifitas bisnisnya agar mampu mendorong perkembangan dakwah dengan kekuatan yang dimiliki.


Pendidikan kader inti ini menjadi tahapan pertama dan menjadi fondasi yang akan menopang agenda dakwah kedepannya. Sehingga perlu dicermati dan ditelaah juga berapa banyak kader inti yang akan ada dan dibina.Pembinaan ini juga harus komprehensif dengan waktu yang tepat. Dengan harapan bisa menjadi core dalam membangun basis massa simpatisan.

Tahap Kedua : membangun basis massa 
Setelah terbentuk kader inti , dakwah akan masuk di tahapan selanjutnya, yaitu membangun basis massa. Seringkali kita kenal istilah simpatisan, kurang lebih seperti itu yang akan kita bangun, akan tetapi tidak sekedar massa yang hanya mengatakan mendukung, akan tetapi massa yang senantiasa mengikuti pembinaan yang dilakukan oleh kita. Tujuan dari membangun massa ini adalah memperkenalkan Islam, dan menjadikan Islam sebagai way of life. Islam yang komprehensif dan menjadi solusi dalam kehidupan. 

Ada dua metode utama dalam memperkenalkan Islam ini.
1. Dakwah dengan melayani
Menilik sirah nabawiyah, proses yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad SAW adalah menjadikan beliau Al Amin setelah itu mengangkatnya sebagai Rasul. Dalam hal ini bisa kita ambil kesimpulan bahwa Rasul telah sukses melayani kota mekah sehingga beliau diberi gelar tersebut barulah beliau berdakwah, pelayanan dahulu baru dakwah. 

Memberikan apa yang umat butuhkan, memang butuh kita sadari bahwa kebutuhan umat sangat variatif, akan tetapi justru di situlah seni bagaimana kita bisa membuktikan bahwa Islam bisa sebagai solusi dalam segala permasalahan yang ada. Jika kita membicarakan dakwah kampus, maka yang kita berikan haruslah sesuai dengan kebutuhan, sebutlah menyediakan informasi tempat tinggal yang murah dan nyaman, memberikan pelayanan fotokopi buku atau bahkan menyediakan buku kuliah dan catatan kuliah, menyediakan tempat bertanya terkait Islam dan syariatnya, memberikan informasi dalam bentuk tulisan, booklet tentang kampus, kota , dan lain sebagainya. Pelayanan ini bisa sangat variatif pula bentuknya sehingga semakin banyak yang memikirkan ini akan semakin banyak varian metode dakwah yang bisa digunakan.


2. Dakwah dengan memimpin
Jika konsep dakwah sebelumnya dengan tipikal menyentuh grass root. Dakwah dengan memimpin adalah pendekatan yang lebih struktural. Walau sebenarnya tidak sekaku itu dalam pelaksanaanya. Dengan memimpin dalam sebuah kelompok, mulai dari kelompok kecil seperti ketua kelompok tugas, ketua kelas, ketua lomba riset hingga ketua kelompok yang lebih besar seperti ketua himpunan mahasiswa, ketua panitia dan sebagainya. Dengan memimpin ini seorang kader bisa menunjukkan bagaimana etos kerja yang dimilkinya bisa membawa kelompok tersebut kearah keberhasilan dan kearah lebih baik. 

Dalam memimpin ini seorang kader juga bisa berdakwah secara kecil-kecilan dan menanamkan kultur Islam di dalam kelompok. Seperti membiasakan shalat tepat waktu, memulai segala sesuatu dengan niat dan do’a, membiasakan berdo’a kepada Allah dalam setiap keadaan, dan memberikan sebuah nilai-nilai lainnya kepada objek dakwah. Sehingga timbul personal trust seseorang kepada kita , dan menilai bahwa kader kita adalah seseorang yang kuat dan bertanggung jawab, serta mulai meyakini bahwa pola hidup atau way of life yang dilakukan dan dianut oleh kader kita adalah sebuah pemahaman yang baik. 

Harapan yang bisa timbul adalah kedepannya ada kepercayaan yang ada di masyarakat, dan ketika kader kita menyampaikan risalah Islam, tidak terjadi penolakan diantara masyarakat atau bisa dikatakan objek dakwah kita menerima apa yang akan kita sampaikan.
Setelah menjalani dua varian metode ini, dakwah ini juga butuh sebuah wadah yang bisa menampung simpatisan ini untuk mengikuti pembinaan dan menjadi bagian dari massa kita juga. Wadah ini diharapkan bisa menjadi media yang tepat dalam mengembangkan potensi simpatisan ini agar selanjutnya bisa menjadi kader dakwah pula. Sistem permentoringan atau dalam istilah lain kita kenal dengan usrah atau liqo’ atau halaqoh menjadi wadah yang sangat tepat untuk menampung dan membina para objek dakwah ini. 

Mentoring adalah proses transfer nilai antara mentor dan binaanya. Dalam proses mentoring ini seorang mentor diharapkan bisa membina 7-10 adik mentor atau binaanya dan memberikan ilmu serta pemikiran yang ada dalam rangka membuat frame berpikir yang Islami. Proses mentoring ini tidak hanya sampai pada tahapan memberikan ilmu, akan tetapi lebih lanjut, mentoring ini bisa menjadi sebuah keluarga kecil bagi para anggotanya. 

Oleh karena itu makan seorang mentor diharapkan bisa memilki beberapa fungsi , antara lain :
a. Guru, seorang guru yang memberikan ilmu kepada muridnya
b. Pemimpin, seorang pemimpin yang bisa mengarahkan binaanya menuju masa depan yang sesuai dengan koridor yang benar
c. Kakak/Sahabat, sebagai tempat mencurahkan isi hati dikala susah dan butuh bantuan
d. Da’i, dimana seorang mentor tidak hanya memberikan ilmu, akan tetapi juga menyiapkan binaanya untuk menjadi calon mentor di masa yang akan datang.

Proses dalam mentoring ini bisa dengan mudah terus bertambah, dan bercabang hingga tidak terbatas, kader inti yang telah dibina sebelumnya sebisa mungkin menjadi mentor utama, dan diharapkan bisa mengembangkan cabang dan ranting kelompok mentoringnya hingga tak terbatas. Disinilah bagaimana kita akan menguatkan basis massa, basis massa yang kuat akan menopang dakwah ini dan memudahkan langkah kita untuk mebuat gerakan dakwah kita lebih terbuka dan masif.


Tahap ketiga : membangun basis institusi
Pada tahap ini dakwah yang dilakukan di kampus sudah mulai terlembagakan secara formal dan wajar dalam sebuah instansi dakwah bernama Lembaga Dakwah Kampus ( LDK ). LDK disini dibangun atas kebutuhan dan tuntutan dari basis massa yang ada, karena bagaimana pun sekelompok orang atau komunitas yang mempunyai tujuan perlu dilembagakan secara formal agar gerak dakwah menjadi lebih mudah dan legal. Perlu dipahami bahwa dengan mengikuti tahapan yang ada, pembangunan LDK ini menjadi lebih kepada kebutuhan alamiah ketimbang memaksakan pembangunan LDK. 

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memulai melegalkan dan mendirikan LDK ini.
a. Basis Massa yang Setia
Dalam membuat sebuah lembaga di kampus, biasanya memerlukan quota minimal untuk mendirikannya. Quota minimal ini selain untuk memenuhi syarat birokrasi , juga untuk memastikan agar regenerasi dakwah yang ada dapat berjalan. Keberadaan basis massa ini diharapkan terdiri dari berbagai angkatan yang masih ada di kampus. Selanjutnya basis massa inilah yang akan menjadi bangunan yang kokoh dalam mengembangkan LDK di masa yang akan datang.

b. Birokrasi Kampus yang Mendukung
Perlu dipahami bahwa keberadaan LDK tidak bisa terlepas dari kampus dan tata tertib serta birokrasi yang ada di dalamnya. Pendekatan personal ke pihak rektorat, dosen, dan birokrasi kampus lainnya adalah sebuah tuntutan yang perlu kita penuhi agar proses legalisasi ini bisa berjalan mulus. Pendekatan ini dilakukan sejak kita mempunyai basis massa, agar ketika jumlah massa yang dimiliki cukup, pendirian LDK menjadi lebih mudah.

c. Bentuk Lembaga Dakwah Kampus
Menurut pengamatan saya ada beberapa bentuk yang bisa di ajukan sebagai wadah legal formal LDK. Bentuk LDK yang pernah ada antara lain.
Pertama, LDK sebagai unit kegiatan mahasiswa, dimana LDK sebagai unit kerohanian, ini adalah bentuk ideal dan paling diharapkan bisa terbentuk.
Kedua , LDK dengan bentuk Dewan kesejahteraan Masjid, bentuk LDK seperti ini, jika ternyata sudah ada LDK lain di kampus, atau pihak birokrasi ternyata tidak setuju dengan adanya LDK.
Ketiga , LDK berada di bawah Badan Eksekutif Mahasiswa ( BEM ), LDK ini berada di bawah departemen kerohanian di BEM.
Keempat, Jika ternyata sudah ada LDK lain yang kuat, pergerakan dakwah ini bisa dengan membangun basis lembaga dakwah di Fakultas, dengan bentuk LDF, perlu disadari bahwa massa real yang ada kampus berada di fakultas, dan dengan adanya lembaga di fakultas ini daya rangkul kader kita akan lebih optimal.
Kelima, Jika ternyata, di kampus sudah ada LDK lain, yang mungkin kurang begitu aktif, dan pihak birokrasi tidak mengizinkan adanya LDK lagi, maka proses infiltrasi ke LDK yang sudah ada menjadi pilihan. 

Dengan basis massa yang sudah kuat dan setia, kader kita bisa saja secara bertahap mengisi pos-pos yang ada di LDK tersebut, hingga suatu saat ketua LDK beserta jajaran tim intinya adalah kader kita yang punya pemikiran dan gerak dakwah yang sesuai, memang butuh waktu lama akan tetapi, pola ini akan lebih “cantik” dan “apik”.

Setelah Lembaga ini terbentuk perlu dipenuhi beberapa syarat kelengkapan lembaga agar fungsi lembaga dakwah ini bisa optimal. Kelengkapan ini antara lain.
Pertama, Adanya tata organisasi yang sesuai, adanya ketua,sekretaris,bendahara, dan ketua departemen . Untuk LDK mula, departemen yang dibutuhkan antara lain, departemen kaderisasi, departemen syiar dan pelayanan kampus, serta departemen dana. Tiga departemen ini bisa dikatakan kebutuhan dasar sebuah LDK. Dengan pertimbangan jumlah SDM yang terbatas, adanya tiga departemen ini seharusnya bisa menjalankan fungsi LDK dengan baik. Dalam perkembangannya, sebuah LDK diharapkan bisa memenuhi beberapa fungsi lainnya yang menjadi fungsi pokok ( sektor dakwah ) dan diturunkan dalam bentuk departemen, yakni :
a. Sektor Internal ( kaderisasi, mentoring, rumah tangga )
b. Sektor An nisaa / Kemuslimahan
c. Sektor Syiar dan Pelayanan Kampus ( media, event )
d. Sektor Keuangan
e. Sektor Jaringan ( Humas )
f. Sektor Akademik dan Profesi
g. Sektor Kesekretariatan ( administrasi, Litbang )
Tujuh sektor ini adalah representatif dari bentuk serta fungsi yang harus dipenuhi LDK dalam keadaan ideal. Memang butuh waktu dalam membangun LDK hingga tahap ini, akan tetapi bisa saja dalam proses perkembangan LDK , dua fungsi bisa digabung dalam satu departemen. Tergantung dari kapasitas dan kuantitas kader yang ada.

Kedua , Diperlukannya sebuah tata nilai dan tata hukum atau pedoman dakwah yang diberlakukan di sebuah organisasi termasuk LDK. Kebutuhan pedoman dakwah ini, antara lain Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, Visi dan Misi serta perangkat sederhana lainnya yang bisa membuat kader kita terarah dalam menjalankan gerak dakwahnya. Seiring waktu, sebuah LDK juga perlu memiliki pedoman dakwah yang lebih advance, ada beberapa contoh disini, Saudara kita di SALAM UI mempunyai Manajemen Mutu SALAM UI (MMS UI), dimana di dalamnya terdapat berbagai aturan dan norma serta standarisasi yang digunakan dalam pengelolaan LDK. Kawan-kawan di UNDIP, memiliki sebuah komitmen bersama antara LDK dan LDF sehingga gerak dakwah LDK dan LDF menjadi sinergis, di GAMAIS ITB, kami memiliki Pedoman Lembaga Dakwah Kampus GAMAIS ITB ( PLDK GAMAIS ITB ), dimana di dalam nya terdapat blue print GAMAIS ITB 2007-2013, Rencana Strategis Jangka Panjang 2008-2010,dan Panduan Fiqih Praktis Aktifis Dakwah. Berbagai bentuk yang ada disesuaikan tergantung kebutuhan dari LDK, semakin besar LDK, semakin detail pula aturan yang ada, karena dalam tahapan kemandirian LDK, sistem lah yang akan dibangun, karena dengan sistem yang kuat, akan menghasilkan kader yang kompeten pula di masa yang akan datang.

Ketiga, Adanya mekanisme kaderisasi berkelanjutan bagi kadernya. LDK adalah lembaga kaderisasi, sehingga fungsi kaderisasi atau membina kader menjadi fungsi utama, dan harus senantiasa menjadi dinamo yang tidak kenal henti. Sebuah lembaga yang baik haruslah memberikan kemanfaatan bagi kadernya. Meningkatkan kapasitas serta keilmuan yang bisa menunjang aktifitas kader di LDK maupun di kehidupan sehari-hari. Ini menjadi syarat yang mutlak untuk memastikan sistem regenerasi LDK ini bisa berkelanjutan dan membuat dakwah kita di kampus bisa bertahan lama.

Tahap Keempat : Membangun bangunan kampus secara keseluruhan dengan konsep Islam
Legalitas LDK yang ada memudahkan gerak dakwah kita menjadi lebih dinamis dan bebas. Kekuatan formal lembaga ini memberikan banyak kemudahan bagi kita untuk berbuat lebih di kampus. Pada tahap keempat ini varian metode dan objek dakwah semakin luas, dan bisa dikatakan tidak terbatas, semua tergantung manajemen kreatiftas dan inovasi dari kader LDK. Lingkup dakwah pertama yang harus dipenuhi adalah civitas akademika di kampus kita. Selanjutanya bisa meningkat menjadi lingkup Kota lalu nasional, dan Internasional. 

Pada lingkup civitas akademika ini ada beberapa stakeholder yang bisa kita lakukan pendekatan dakwah.
Mahasiswa, objek utama dalam dakwah kampus kita, ketika lembaga sudah ada, metode dakwah bisa kian variaif. Pembuatan event syiar, seperti ta’lim, tabligh, outbound, kajian, olahraga bareng atau mungkin mabit. Media LDK juga bisa semakin terbuka, seperti pamflet, poster, spanduk, baligo, atau perangkat multimedia lainnya. Dengan adanya lembaga yang legal, agenda syiar pun seharusnya akan mendapat respons lebih dari massa kampus. Akan tetapi walaupun sudah ada lembaga yang formal, metode dakwah dengan pelayanan, dakwah dengan memimpin serta wadah mentoring yang ada harus tetap dijalankan. Karena ini merupakan metode klasik yang masih bisa digunakan sampai kapanpun.

Dosen , dakwah ke dosen butuh pendekatan yang lebih persuasif, cara dakwah ke dosen bukan dengan menceramahinya akan tetapi dengan memberikan kesempatan kepada beliau untuk mengisi di acara-acara LDK sesuai dengan kompetensinya atau melibatkan dosen dalam kegiatan seperti sebagai penasihat atau tempat konsultasi. Selain itu memberikan sedikit kenang-kenangan kepada dosen, seperti buku, bisa menjadi media dakwah yang tepat untuk dosen, karena dosen biasanya gemar membaca. Dengan adanya keterlibatan ini, dosen akan mempunyai sense of belonging terhadap LDK dan akan lebih peduli terhadap gerak dakwah kita dan LDK kita.

Birokrasi kampus, pendekatan ke birokrasi kampus hampir sama dengan pendekatan ke dosen. Akan tetapi bisa ditambah dengan silahturahim rutin dalam rangka meningkatkan kedekatan dan kepercayaan satu sama lain. Dengan kedekatan dan kepercayaan ini, gerak dakwah kita akan lebih di dukung dan bisa lebih cepat berkembang.

Karyawan Kampus, karyawan dalam hal ini ada elemen administrasi kampus, satpam, penjaga kantin, merupakan bagian dari kampus yang perlu kita dakwahi. Keteladanan kita, budi pekerti serta akhlak yang baik serta dikenal sebagai mahasiswa yang bermoral menjadi metode dakwah yang bisa digunakan, dukungan dari karyawan kampus ini biasanya juga akan mendukung dakwah secara umum. Karena jumlah mereka yang banyak dan punya peran di kampus. Selain itu, pengadaan ta’lim khusus karyawan atau mungkin memberikan bingkisan untuk mereka di momen tertentu bisa menjadikan kedekatan kita dengan mereka lebih erat.

Pengamatan saya menilai tidak ada metode dakwah yang terbaik diantara metode dakwah di berbagai kampus, yang ada adalah metode dakwah yang tepat. Setiap kampus mempunyai kekhasan tersendiri, dan menjadi tanggung jawab bagi kita untuk bisa mengformulasikan metode dakwah yang paling tepat untuk kampus kita. Berpegang pada tahapan ini, akan sangat membantu paradigma berpikir kita dalam mengembangkan Lembaga Dakwah Kampus.



Internalisasi Dakwah Fardiyah
Kembali kepada asholah da’i
Perjalanan dakwah di Keluarga Mahasiswa Islam ITB yang telah mencapai usia dua dekade semakin kehilangan khitah da’i yang seharusnya di cita-citakan sejak awal. Karakter seorang da’i yang seharusnya melekat pada jiwa kader atau aktifis dakwah semakin memudar ditelan arus perubahan massa atau objek massa. 

Perubahan ini terlalu drastis dan cepat, sehingga tuntutan untuk berubah pun menjadi sebuah keharusan. Akan tetapi ada hal yang disayangkan bahwa perubahan ini tidak di ikuti dengan mempertahankan hal-hal yang bersifat fundamental dari fungsi da’i itu sendiri. Dakwah dalam kata kerja dan Da’i yang merupakan bentuk dari pelaku dakwah memilki makna harfiah menyampaikan. Pada hakikatnya kita sangat memahami bahwa menyampaikan adalah sesuatu yang berasal dari diri ini dan disampaikan melalui lisan maupun tindakan. 

Berdasar pemahaman diatas, fungsi utama seorang kader dakwah adalah menjadi da’i , dimana dia mengajak seorang mad’u atau objek dakwah untuk kenal Islam lebih mendalam. Seorang aktifis dakwah yang dengan lisannya menyampaikan risalah Islam dan mengajak objek dakwahnya untuk belajar Islam. Hal inilah yang juga dicontohkan oleh Rasulullah, dimana beliau menyampaikan firman Allah di depan umum, diatas bukit atau berkunjung langsung ke tempat-tempat tertentu dalam rangka menjalankan tugasnya sebagai da’i.

Begitupula kita sebagai seorang kader dakwah, ternyata dituntut tidak hanya pandai menyusun sebuah agenda dakwah, tidak hanya cepat dalam menghafal Al Qur’an, atau tidak hanya baik dalam hal manajemen sebuah organisasi. Akan tetapi seorang kader dakwah juga dituntut bisa menjadi da’i dimanapun dia berada, dengan berkata, mempengaruhi sekitar dengan perkataan dan keteladanan agar objek dakwahnya bersedia belajar Islam lebih mendalam.

Dakwah Fardiyah
Perjalanan dakwah Islam yang sudah memasuki abad ke 15 ada sebuah metode dakwah yang tidak pernah usang. Sebuah metode dakwah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW, sebuah metode dakwah yang juga dilakukan oleh Para Khulafaur Rasyidin, dan bahkan metode dakwah yang dilakukan Adam AS, Ibrahim AS, Musa AS hingga Isa AS. Semoga Allah SWT senantiasa memberkahi beliau. Dakwah fardiyah atau dakwah secara personal. Bentuk dakwah personal ini memang sesuai dengan namanya, yakni aktifitas dakwah secara personal dari seorang personal, man to man, woman to woman.

Dakwah fardiyah dalam konteks ke-lembaga dakwah kampus-an, mengkrucut pada sebuah tujuan, yakni mengajak objek dakwah agar ikut atau bergabung dalam pembinaan yang dilakukan oleh Lembaga Dakwah Kampus. Karena pada hakikatnya , berbeda dengan zaman Rasul, dimana yang di dakwah-i oleh Rasul adalah seorang non-muslim atau seorang yang masih kafir. Pada medan dakwah kampus, yang kita dakwah-i adalah seorang muslim yang akan kita ajak untuk mempelajari Islam secara mendalam. Dengan berbagai metode pembinaan yang ada, bisa kita gunakan sebagai wadah untuk mem-follow up hasil pendekatan personal kita. Biasanya wadah yang paling cocok untuk mem-follow up adalah kelompok mentoring. Metode lainnya seperti ta’lim dan mabit juga bisa digunakan follow up masif.

Dalam dakwah fardiyah ini ada beberapa tahap yang bisa kita rangkup dalam istilah 5M.
a. Mengenali
Fase pertama dalam dakwah fardiyah adalah mengenali calon mad’u. Mengenal tidak hanya sebatas nama dan nomor handphone , akan tetapi betul-betul mengenal secara mendalam. Dimulai dari kita mengetahui kebiasaanya, dimana tempat tinggalnya, lalu apa aktifitas kesehariannya, kesukaan dan ketidaksukaanya, dan lain sebagainya. Mengenali mad’u ini sangat penting, karena akan mempengaruhi metode pendekatan yang akan dilakukan. Dalam buku personality plus, ada 4 tipikal manusia, yakni, sanguinis, melankolis, korelis, dan plegmatis. Buku ini bisa menjadi sebuah pedoman sederhana dalam mendekati mad’u. Selain itu buku bagaimana menyentuh hati karangan abbas assyisi bisa digunakan sebagai pedoman fundamental dalam melakukan pendekatan personal.

b. Mendekati
Pendekatan yang dilakukan terhadap objek dakwah juga harus berbeda, ada kalanya kita juga harus menyesuaikan dengan bagaimana kedekatan atau seberapa kenal kita dengan mad’u. Pada dasarnya kita tidak perlu mengubah cara kita berkomunikasi atau bersikap kepada beliau. Karena perubahan yang terjadi justru bisa kontraproduktif terhadap dakwah yang kita lakukan. Jadilah diri anda, dan tentukan pola pendekatan yang paling tepat dengan tipikal diri anda.

Seorang mad’u selalu memiliki kekhasan tersendiri. Seorang yang gemar membaca bisa didekati dengan membelikan atau meminjami beliau dengan buku yang menurut kita bisa mengubah paradigma beliau tentang Islam. Sebutlah sirah nabawiyah , atau al islam karangan Sayyid Qutb, atau mungkin buku umum seperti the secret, the world is flat, atau berpikir dan berjiwa besar. Dengan pendekatan buku seseorang bisa tergugah pemikirannya. Kadang kala kita bisa bertemu dengan seorang yang gemar bertanya, bisa saja sesekali kita ajak beliau untuk silahturahim ke tempat seorang ustadz untuk diskusi agama, atau menghadiri ta’lim dengan tema pentingnya pembinaan dan lain sebagainya. Seseorang yang keras kepala harus bisa dipatahkan dan di cairkan dengan pemahaman dan penjelasan yang logis dan realis dari kita. Oleh karena itu, pemahaman Islam yang baik juga menjadi tuntutan seorang da’i. Lain halnya dengan tipikal mad’u yang melankolis-plegmatis, dimana pendekatan intrapersonal, rasa empatik, dan perhatian dari kita bisa menjadi metode yang tepat. Berbagai metode lain bisa berkembang tergantung mad’u dan diri kita sendiri.

Tujuan dari tahapan pendekatan ini yakni membentuk kepercayaan antara diri kita dan mad’u , mengikatkan dan mendekatkan hati, dan menumbuhkan perasaan ingin memperlajari Islam secara mendalam dan konsisten, atau dengan bahasa lain, menimbulkan keinginan untuk mengubah diri sendiri.

c. Mengajak
Setelah mendapatkan kepercayaan dan kedekatan, tugas kita adalah mengajak mad’u kita untuk mengikuti pembinaan Islam secara konsisten. Bagaimana cara dan waktu yang tepat, tergantung situasional yang ada. Bisa jadi perlu ada diskusi panjang hingga beliau bersedia ikut pembinaan, atau ada yang tipikal langsung di “tembak” langsung, ini tipikal pada mad’u yang sudah dekat secara personal kepada kita, atau untuk mad’u yang agak sulit mengambil keputusan, bisa langsung di undang di agenda pembinaan yang ada. Proses pengajakan ini bukanlah akhir dari proses meskipun mad’u menolak untuk mengikuti pembinaan. Proses fardiyah harus tetap jalan. Jika kita sudah merasa tidak ada prospektif di salah seorang mad’u, maka mengganti calon mad’u bisa menjadi pilihan yang tepat.

d. Mendo’akan
Dan jika mereka bermaksud menipumu, maka sesungguhnya cukuplah Allah . Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mu'min, dan Yang mempersatukan hati mereka . Walaupun kamu membelanjakan semua yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana.
[ al anfaal 62-63 ]

Kekuatan do’alah yang bisa menyatukan hati-hati ini, karena sesungguhnya do’a kita kepada sesama muslim akan menjadi amal yang yang sangat bernilai, kekuatan do’a ini pula yang akan membukakan hati kita semua, memudahkan masuknya hidayah, dan menjauhi godaan syetan. Mendo’akan mad’u menjadi kewajiban bagi seorang da’i.

e. Menjaga
Terkadang proses follow up dari hasil fardiyah yang dilakukan tidak selalu di-handle oleh kita sendiri. Bisa jadi orang lain yang membina hasil fardiyah kita lakukan. Oleh karena itu kita perlu tetap menjaga hubungan and never loose contact with him/her. Sesekali kita coba tanya bagaimana pembinaan yang beliau dapat, apa kesannya, atau bisa di ajak diskusi sesekali. Beda halnya jika kita yang membina langsung hasil fardiyah yang kita lakukan, proses penjagaan akan lebih mudah karena kita akan bertemu lebih rutin.


Prospek
Melihat perkembangan dakwah syiar event yang semakin semarak dan berdana besar, dakwah fardiyah bisa menjadi media persiapan massa sebelum event atau media follow up setelah event.

a. Media persiapan sebelum event, dakwah fardiyah bisa sebagai metode yang digunakan untuk mengajak peserta. Dalam tahapan dakwah fardiyah, pengajakan mad’u ke agenda dakwah bisa mempercepat tahapan pendekatan, karena mad’u akan bisa merasakan nuansa Islam di dalam agenda yang diadakan. Dengan mengajak mad’u kita ke agenda dakwah, turut mendukung agenda tersebut dari sisi jumlah peserta.

b. Media follow up setelah event, pada setiap event yang dilakukan oleh lembaga dakwah kampus , sebaiknya ada presensi atau buku tamu dari pengunjung atau peserta event. Pendataan ini sangat penting, karena dengan data ini kita bisa menghitung berapa massa simpatisan kita yang berpotensi menjadi kader. Sehingga proses follow up akan lebih mudah. Salah satu metode follow up yang bisa digunakan, yakni dengan dakwah fardiyah. Seorang kader kita yang dekat dengan peserta agenda dakwah bisa mendekati beliau, sehingga proses follow up simpatisan menjadi kader kian cepat.

Perkembangan agenda dakwah berbasis event seakan-akan menjadi keharusan pada sebuah lembaga dakwah kampus. Betul memang, ketikan lembaga sudah formal, agenda yang masif harus dijalankan, karena massa juga semakin banyak. Akan tetapi, janganlah hal ini menjadi satu-satunya tipikal agenda merangkul massa. Jika ini terjadi, maka label LDK identik dengan event organizer menjadi layak kita sandangkan. 

Sungguh sangat zalim bagi kita para pemimpin lembaga dakwah kampus, jika mendidik kader hanya untuk menjadi ahli dalam organisasi, sebuah lembaga dakwah kampus adalah lembaga kaderisasi, maka mendidik kader untuk menjadi da’i dalam konteks mengajak objek dakwah ikut pembinaan dan membina dengan seksama agar objek dakwah bisa menjadi seorang yang memiliki kepribadian Islam. Sehingga, dengan internalisasi dan menjadikan dakwah fardiyah sebagai kebiasaan diantara kader, kita akan menstimulus karakter kader kita untuk memilki kepribadian da’i.

Prospek cerah sangat tampak dalam proyek ini karena ada efek kali yang sangat baik jika proyek ini bisa dijalankan secara konsisten untuk jangka waktu yang lama. Meng-gerilya kan kader kita untuk terus menerus “menjual” dan mempromosikan produk pembinaan kita setiap saat. Kita akan coba hitung bagaimana potensi penambahan kader yang mungkin bisa terjadi dalam perkembangan proyek ini.

Bulan Jumlah kader
Pertama 50
Kedua 100
Ketiga 200
Keempat 400
Kelima 800
Keenam ( 1 semester ) 1600

Dilihat dari tabel diatas hanya dalam 1 semester peningkatan kader kita akan meningkat hingga 32x lipat. Ini jumlah yang sangat fantastis. Angka 50 Kader di awal ini hanya merupakan asumsi, jika jumlah kader real yang ada pada kampus kita lebih banyak. Maka, multiply effect yang terjadi bisa lebih besar, dan perlu dicermati bahwa contoh diatas menggunakan asumsi, setiap kader hanya perlu mengajak 1 objek dakwah dalam waktu satu bulan. Hanya satu orang setiap bulan, bukan jumlah yang besar untuk waktu satu bulan.

Cara kerja dari habiting dakwah fardiyah pada dasarnya akan berbasis sistem yang sederhana. Karena hanya didukung oleh perangkat promosi dan wadah untuk menampung. Terkait pada perangkat pendukung akan di bahas pada bagian selanjutnya. Di akhir bagian prospek ini ada sebuah cara kerja sederhana yang akan kita gunakan dengan memanfaatkan pola pikir dasar seorang manusia.

Lintasan pikiran
à memori à gagasan ( pola pikir ) à tekad à amal à tingkah laku à karakteristik

Manusia selalu memulai sesuatu dari sugesti, dan sugesti ini bermula dari sebuah lintasan informasi yang melewati pikirannya. Dalam konteks proyek ini, seorang da’i akan mencoba mengisi lintasan pikiran objek dakwah dengan pentingnya pembinaan, saatnya berubah kearah lebih baik, dan sebagainya. Dengan cara mengingatkan objek dakwah, melalui sms atau telepon atau saat bertemu. 

Cara lain adalah dengan banyaknya simbol atau pengumuman reklame dan iklan di kampus, agar objek dakwah senantiasa melihat dan menjadikan informasi yang ada sebagai sugesti. Selanjutnya kita akan menstimulus lintasan pikiran ini dengan diskusi, meminjamkan buku , atau mengajak ke pertemuan kader dan ta’lim agar timbul sebuah memori pada objek dakwah. Selanjutnya adalah proses kontemplasi pribadi objek dakwah untuk menyalurkan memori ini menjadi sebuah gagasan atau pola pikir bahwa “saya harus mengikuti pembinaan Islam untuk berubah!”, di saat tekad dari objek dakwah sudah timbul, maka tiba saatnya lah kita mengajaknya untuk bergabung.

Pada proses perkenalan dan pengajakan ini, kita harus bisa menjelaskan apa keuntungannya, apa perubahan yang terjadi pada diri setelah ikut pembinaan, kesempatan apa yang bisa didapat dan segala hal positif lainnya. Mengubah paradigma yang ada pada mad’u, karena sesungguhnya bukan karena alasan tidak mau ,sehingga mereka tidak mau bergabung sebelumnya, akan tetapi karena mereka belum mengetahui apa yang bisa mereka raih dengan mengikuti pembinaan ini.


Perangkat pendukung
Mekanisme kerja dakwah fardiyah pada sebuah LDK berpusat pada dua departemen atau bidang, yakni bidang kaderisasi dan manajemen sumber daya anggota serta bidang koordinasi mentoring. Dua bidang ini harus sinergis satu sama lain.
a. Kaderisasi dan Manajemen Sumber Daya Anggota
Bidang ini akan berfungsi pada satu hal, yakni penjagaan dan pemantauan proses dakwah fardiyah dengan membuat sel-sel atau kelompok yang bertujuan untuk mengecek keberjalanan yang ada. Sel-sel ini tidak ubahnya seperti usrah atau kelompok mentoring, bedanya kelompok ini tidak di isi dengan majelis ilmu, akan tetapi di isi oleh pengecekkan keberjalanan dakwah fardiyah. Kelompok ini juga di pimpin oleh seorang naqib yang berasal dari seorang yang lebih tua dan diusahakan satu program studi atau fakultas, agar transfer ilmu dalam cara dakwah fardiyah bisa lebih tepat. Pada pucuk tertinggi dari cabang pohon ini adalah para kader inti dari sebuah LDK. Pada kondisi lain, bisa saja fungsi pemantauan ini digabung dengan kelompok mentoring pembinaan atau usrah yang ada. Sebetulnya ini lebih efektif sehingga ketika ada objek dakwah baru yang bergabung akan lebih mudah memantau dan mem-follow up.

b. Tim Koordinasi Mentoring
Tim ini menyiapkan dua hal,yakni peralatan pendukung dan tabulasi jadwal mentoring.
1. Peralatan pendukung, peralatan ini adalah sarana yang digunakan oleh kader kita dalam mempromosikan mentoring. Sarana ini bisa berupa pamflet yang berisikan tentang segala sesuatu tentang pembinaan dan mentoring, slide powerpoint yang bisa digunakan di laptop untuk “menjual” mentoring. Sarana publikasi seperti poster atau leaflet yang bisa ditempel dan dibagikan, ini berguna dalam mencitrakan mentoring di lintasa pikiran objek dakwah. Merchandise pendukung , seperti kaos untuk mentor kita dengan bertuliskan ”bukan mentor biasa” atau ”supermentor”, pin yang dibagikan ke semua kader dengan betuliskan kata-kata persuasif. Selain itu tim mentoring sedianya membuka stand pendaftaran mentoring di setiap event yang diadakan oleh Lembaga dakwah kampus. Sehingga kita bisa membuka dan menampung seluruh mahasiswa muslim setiap saat.

2. Tabulasi jadwal mentor, kita akan memakai sistem buka kelas pada permentoringan. Setiap mentor diminta menyediakan waktu setiap pekannya 1 sesi , dengan satu sesi selama 1,5 jam. Lalu jadwal semua mentor akan di gabung dan akan mengeluarkan tabulasi jadwal kelas mentoring. Semakin banyak mentor yang ada, akan membuat pilihan dari objek dakwah kian banyak.

Waktu Senin Selasa Rabu Kamis Jum’at Sabtu Ahad
07.00-08.30 Yusuf Gamma Adit Iqbal Albaz Luthfi Aisar
08.30-10.00 Nurdin Dimas Ardhesa Gesa Ilham Ahmad Toni
10.00-11.30 Amin Yuda Totoh Gumilar Cecep Fikri Verry
13.00-14.30 Irfan Dipta Zukruf Unggul Elri Anggit Agung
15.30-17.00 Arif Fahmi Lukman Bambang Dimas Husni Iftitah
19.30-21.00 Rully Azis Thomas Wahyu Ratno Diaz Andri
Ini merupakan contoh tabulasi sederhana yang bisa dibuat, dengan pilihan jadwal ini ada banyak keuntungan bagi proses dakwah fardiyah yang dilakukan, yakni.

i. Membuat jadwal antara mentor dan binaannya sesuai, sehingga tidak perlu memakan waktu untuk menyamakan jadwal
ii. Memberi kesempatan objek dakwah untuk memilih mentor untuk membina dirinya
iii. Memberi kesempatan seorang objek dakwah untuk memilih teman satu kelompoknya

Mekanisme input data ini bisa mudah dengan teknologi sms, seorang objek dakwah cukup sms ke service centre dengan mencantumkan identitas diri dan waktu mentoring yang diinginkan. Data yang dikirim via sms akan diteruskan ke sistem data mentoring dan ke mentor, sehingga maksimal satu pekan setelah seseorang mendaftar, beliau bisa langsung memulai proses pembinaan.

Mulai dari sekarang !

Untuk memulai sesuatu memang butuh waktu , akan tetapi semakin cepat kita memulai akan lebih baik. Karena semakin lama kita menunda akan semakin banyak pula pertimbangan yang mungkin bisa membuat kita tidak menjalankan sesuatu. Hal yang menjadi langkah awla dan bisa jadi cukup berat, adalah menimbulkan kesadaran atau habit dari kader dakwah kita agar senantiasa mengajak sebanyak-banyaknya mahasiswa di kampus untuk mengikuti pembinaan. Adanya pertemuan kader terpusat bisa menjadi sebuah metode yang diharapkan bisa memberikan pemahaman dan semangat secara masif agar kader bisa bergerak dan menjalankan dakwah fardiyah. 

Mungkin anda bertanya apakah saya sebagai penulis sudah pernah menjalankannya. Semester silam saya mencoba mempraktekkan secara mini konsep ini. Saya coba praktekkan konsep ini pada kelompok binaan saya di jurusan. Pada awalnya di bulan september, anggota kelompok hanya 8 orang saja. Akan tetapi setiap sms saya ke binaan untuk mengingatkan jadwal mentoring selalu saya beri tambahan “ajak yang lain yah ! ^_^” , dan pada setiap mengisi ta’lim di jurusan saya selalu mengajak untuk ikut mentoring. Alhasil dengan usaha saya dan binaan saya, pada awal bulan desember ( sekitar 3 bulan setelah pertemuan pertama ), jumlah anggota mentoring ini berjumlah 20 orang.

Kita akan membangun sistem disini, dimana ada perangkat pendukung, tools untuk promosi, media pencitraan lintasan pikiran, pertemuan-pertemuan untuk sharing dan berbagi ilmu, sel-sel kecil untuk penjagaan dan pengecekkan, serta wadah mentoring yang siap menampung hasil dakwah fardiyah. Dengan pembangunan sistem, semua kader kita dengan segala tipikal pribadi dan varian kompetensi akan bisa menjalankan amanah ini dengan baik


Dasar Dasar Perencanaan Dakwah
Perkembangan aktifitas dakwah di kampus yang semakin terbuka, dinamis dan progesif membutuhkan kejelian dan kecerdasan tersendiri di dalam diri para kader dakwah. Pergolakan demi pergolakan, langkah maju maupun mundur dari sebuah gerakan dakwah sangat dipengaruhi oleh sejauh mana para kader mempersiapkan agenda dakwah dengan matang. Seringkali kader bergerak sporadis dengan modal semangat saja, mencoba bergerak dan pada akhirnya hasil yang didapat tidak sebanding dengan potensi yang dimiliki.

Pada kisah lain, pernah saya jumpai sebuah LDK yang tidak mengalami perubahan yang signifikan dari tahun ke tahun. Sebuah lembaga dakwah yang hanya menjalankan agenda nya seperti rutinitas biasa yang tidak terarah. Terkadang sebuah LDK cukup puas dengan keberhasilan sesaat, sehingga kebijakan yang diambil di tahun mendatang seperti copy paste agenda tahun sebelumnya dengan harapan bisa menuai hasil yang serupa.

Apakah kita menghendaki LDK yang kita kelola hanya mengulang kesuksesan yang ada ?. Mungkin secara kasat mata, akan ada pemikiran bahwa mengulang kesuksesan yang sama tahun lalu adalah sebuah kebaikan atau suatu hal yang dikehendaki. Akan tetapi sejatinya pemikiran tersebut bukanlah pemikiran yang baik. 

Sebuah LDK harus membuat perubahan dari tahun ke tahun. Sebuah LDK harus berani bereksperimen dari tahun ke tahun dan sebuah LDK harus mampu mengalami ekskalasi skala dan kualitas dakwah setiap tahunnya.Untuk itu semua, maka diperlukannya sebuah perencanaan dakwah dalam skala tertentu, mulai dari perencanaan tahunan, tiga tahunan, enam tahunan, atau jika memungkinkan hingga satu dekade mendatang. Dalam segala hal dalam hidup ini perencanaan adalah bagian yang tidak bisa terpisahkan. Perencanaan pribadi seseorang dari pagi hingga malam,atau perencanaan seseorang yang akan melakukan perjalanan. Perencanaan ini yang membuat seseorang teratur dan terarah dalam melakukan aktifitas.

Begitu pula sebuah LDK pun memerlukan perencanaan dalam menyusun agenda dakwahnya sesuai dengan kapasitas yang ada. Seorang bijak pernah berkata “perencanaan masa depan hanya bisa dipikirkan untuk orang dengan level ekonomi menengah keatas, akan tetapi untuk level ekonomi rendah hanya bisa merencakan hidup mereka di hari esok”. Maksud dari perkataan ini adalah, sebuah LDK yang masi muda biasanya sulit memikirkan jangka panjang, maka cukuplah merencanakan agenda dakwah ditahun mendatang. Sedangkan LDK yang sudah stabil memiliki potensi untuk merencanakan agenda dakwah nya hingga lebih dari dua tahun mendatang.
Akan tetapi, perlu dipahami bersama, setelah saya melihat kembali beberapa data tentang perkembangan LDK di Indonesia, LDK bisa memiliki perencanaan bersama jangka panjang. Dimana perencanaan LDK yang sudah stabil bisa digunakan untuk LDK muda dengan sedikit penyesuaian. Oleh karena itu kiranya bijak bagi kita semua untuk berbagi dalam hal perencanaan dakwah yang ada.

Seorang ahli perencana bernama Leon Trotsky berkata “if we had had more time to disscussion, we should probably have made a great many more mistakes”. Beliau bermaksud menyampaikan pesan bahwa dalam merencanakan pun tidak perlu dibuat detail sekali, yang terpenting adalah arah dan jalur yang digunakan. Biarkan perencanaan itu berkembang dalam pelaksanaannya, karena banyak sekali variabel yang mungkin terjadi dalam perjalanan implementasi perencanaan, selain itu semakin lama kita berdiskusi tentang perencanaan, akan semakin banyak variabel yang bisa membuat kita menjadi berkutat di perencanaan tanpa memikirkan implementasi yang akan terjadi.

Saya mengutip dari Mignon McLaughin, seorang perencana juga “life day should be rigolously planned, nights left open to chance”. Intinya rencanakan saja aktifitas siang mu, dan biarkan saja aktifitas malam berjalan secara alamiah. Disini penting juga sebuah LDK membuat perencanaan yang tidak terlalu kompleks sehingga sulit dipahami dan diterapkan, dan LDK membuat perencaan dalam bahasa global agar penerus kita bisa banyak berkreasi tanpa terkotak-kotak dengan pemikiran kita yang belum tentu cocok dengan kondisi yang akan datang.
Siklus perencanaan dakwah

Data
Ketika membicarakan data, seringkali kita terlupakan pada hal yang satu ini. Memang budaya di kita belum menjadikan data sebagai sebuah hal yang berharga. Data seringkali hanya menjadi sebuah dokumen lewat saja yang tidak bermanfaat. Sebetulnya bukan tidak bermanfaat, akan tetapi kita yang kurang mengerti tentang data itu sendiri.

Keberadaan data ini sangat berguna dalam pengambilan kebijakan, ketiadaan data yang layak membuat rapat LDK seringkali memanfaatkan asumsi yang salah. Pada sebuah contoh kasus, seorang pemimpin dakwah mengatakan, banyak sekali mahasiswa muslim yang tidak suka pada LDK, maka pembahasan rapat akan berkutat untuk menyelesaikan masalah tersebut. Setelah di ambil data beberapa waktu kemudian, ternyata yang tidak suka pada LDK hanya 1 % dari mahasiswa muslim. Jumlah yang sangat sedikit jika dibandingkan dengan 99 % mahasiswa muslim senang pada LDK. Asumsi yag salah kerapkali membuat kebijakan dakwah kita kurang tepat.

Disinilah mulai dikembangakan di LDK saya biro khusus yang menangani data. Dalam skema di atas , tampak bahwa data berperan pada semua tahapan perencanaan. Karena memang data lah yang membuat segala sesuatu akan ilmiah dalam pengambilan kebijakan. Bentuk data yang dibutuhkan untuk LDK saya coba bagi menjadi dua jenis data. Yakni, data rutin dan data eksidental.a. Data Rutin
Data rutin diperlukan LDK dalam mengetahui perkembangan dari sebuah keadaan. Data rutin ini juga yang nantinya akan di perbarukan pada periode tertentu. Isi dari data rutin ini, adalah data-data berupa isian pasti. Contoh, jumlah mahasiswa muslim yang ikut mentoring, peserta ta’lim rutin program studi, jumlah kas lembaga dakwah, jumlah mahasiswi muslim yang berjilbab, dan lain sebagainya. Data rutin ini bisa dirangkum ke dalam buku data LDK , dimana setiap sektor/departemen di sebuah LDK memberikan pertanyaan-pertanyaan yang harus di isi kepada objek data agar pengambilan kebijakan di rapat kian tepat.

b. Data Eksidental
Data eksidental adalah data yang diambil di waktu-waktu tertentu dan berbasiskan kebutuhan atau momen. Data eksidental ini berperan dalam pengambilam kebijakan jangka pendek. Contoh, penentuan tema buletin bulanan, tema ta’lim yang diharapkan, daya keberterimaan LDK di kampus, dan lain sebagainya. Data eksidenta biasanya bersifat survei, karena memang pengambilan sampel yang menjadi sasaran.

Setelah dipaparkan sedikit mengenai jenis data, berikut saya akan menjelaskan dua metode pengambilan data yang dimana harapan saya bisa memberikan gambaran mengenai metode yang tepat untuk pengambilan data tertentu.
a. Sensus
Ketika mendengar istilah ini pasti padanan kata “sensus penduduk” akan teringat di benak kita. Pada konsepnya sensus ini adalah pengambilan data secara menyeluruh, dimana semua objek data terlibat untuk memberikan datanya. Dalam konteks ke LDK-an, data bersifat sensus ini sering digunakan untuk data rutin, karena pihak pengelola data harus mengecek satu-per-satu kondisi objek data. Kerjasama semua lapisan dakwah dibutuhkan untuk ini. Di LDK saya di GAMAIS ITB, data sensus ini dirangkum dalam sebuah buku data, dan buku data ini diberikan kepada pengurus Lembaga dakwah program studi, dan mereka mengisi data tersebut secara detail. Pada data sensus ini betul-betul melibatkan seluruh mahasiswa untuk terlibat dalam data.

Contoh, data jumlah mahasiswa muslim yang ikut mentoring, maka tentunya kita harus mengidentifikasi siapa saja yang muslim, lalu di cek mahasiswa mana yang ikut mentoring, data berupa kuantitatif akan muncul pada jenis metode sensus ini.

b. Survei
Survei adalah metode pengambilan data dengan menggunakan sampel. Sampel disini dimaksudkan pengambilan beberapa objek data untuk dimintai keterangan. Ada dua poin penting dalam teknik survei ini, yang pertama pertanyaan yang akan diajukan, dan yang kedua teknik pengambilans sampel itu sendiri.
1. Pertanyaan, penyusunan kata demi kata dalam kalimat pertanyaan adalah yang utama karena kita perlu memberikan pertanyaan yang friendly dan mudah dipahami, agar jawaban yang diberikan juga tepat. Pemilihan jumlah pertanyaan juga harus sesuai, agar tidak ada pertanyaan yang mubazir atau tidak bergunan dalam pengelolaan data.

2. Metode sampling, mengambil sampel dari banyak objek, ada banyak metode tentunya. Anda bisa baca buku statistical analysis karangan Sam Kash Kachigan untuk memahami dengan komprehensif. Pada dasarnya sampling ini sangat mudah konsepnya, hanya terkadang aplikasinya seringkali melanggar prinsip yang ada.

Sebagai contoh, pada sebuah program studi berjumlah 400 mahasiswa, anda bermaksud mengadakan sebuah ta’lim dan anda bermaksud mengambil sampel terkait tema ta’lim. Anda telah membuat pertanyaan dan akan melakukan sampling. Bagaimana melakukannya ?. Dalam sampling angka 10 % dari objek sudah bisa mewakili keterwakilan dan kelayakan data. Maka, 10 % dari 400 adalah 40 orang. Anda bagi 40 ini dengan jumah angkatan yang ada, biasanya ada 4 angkatan yang masih aktif di sebuah program studi. Anda akan mendapat angka 10 orang setiap angkatan. Selanjutnya anda bisa menggunakan dua metode untuk menentukan siapa yang akan anda minta untuk mengisi kuesioner. 

Pertama, anda punya undian bertuliskan NIM mahasiswa,dan anda undi saja 10 orang setiap angkatan, dan yang NIM nya muncul akan jadi objek untuk mengisikuesioner anda, atau anda menentukan bahwa NIM kelipatan 10 ( 10,20,30,dst ) yang akan mendapatkan hak untuk mengisi kuesioner. Pada contoh ini dapat anda lihat bahwa setiap mahasiswa punya kesempatan yang sama untuk mengisi kuesioner. Jangan sampling itu hanya memberikan secara acak ( terkadang yang diberikan hanya orang-orang terdekat saja), sehingga objektifitas tidak bisa dipertanggung jawabkan.


Tinjauan ( analisis ) Internal dan Eksternal LDK
Tahap pertama dalam perencanaan, kita perlu melihat potensi serta kelemahan LDK kita serta daya dukung eksternal dan tantangan yang datang dari luar terkait LDK kita. Beberapa ahli manajemen seringkali menggunakan istilah SWOT ( Strength, weakness, opportunity, Threat ). Akan tetapi, kita akan menggunakan istilah tinjauan internal dan eksternal, walau secara prinsip sama. 

Dalam tahapan ini LDK harus mampu melihat potensi yang dimiliki seperti jumlah kader yang banyak, LDK sudah legal atau dana dakwah mencukupi, selain itu melihat kelemahan yang ada, dengan harapan bisa diperbaiki di masa yang akan datang serta membuat kebijakan dakwah tidak menjadikan LDK semakin lemah, sebagai contoh, kader banyak yang belum memiliki pemahaman dakwah yang komprehensif atau adanya kelompok yang antipati terhadap LDK. Setelah melihat keadaan internal, maka perlu melihat keadaan eksternal, yang pertama daya dukung eksternal seperti adanya FSLDK yang siap mengakselerasi LDK dan tantangan seperti tuntutan akademis yang semakin tinggi. Perlu diingat kembali, bahwa semua tinjauan ini harus disertai dengan data dan fakta yang jelas.


Perumusan Grand Design Dakwah
Grand design dakwah ( GDD ) adalah gambaran umum mengenai pola dan arah gerak LDK di beberapa tahun mendatang. Lamanya tahun yang direncanakan sesuai dengan kemampuan LDK, jika mampu merencanakan untuk 3 tahun mendatang atau 6 tahun mendatang, itu kembali ke kemampuan LDK “menerawang” masa depan. 

Bentuk penyusunan GDD bermula dari konsep global, yakni yang meliputi gerak umum LDK, dimulai dari visi, misi, sistem, alur, dan lainnya. Lalu dilanjutkan dengan penyusunan yang lebih bersifat sektoral tergantung bidang-bidang yang ada di LDK. LDK yang sudah pernah membuat GDD ini belum terbilang banyak, yang saya ketahui adalah LDK GAMAIS ITB yang dikenal dengan blue print GAMAIS ITB 2008-2013 dan LDK SALAM UI yang dikenal dengan Manajemen Mutu SALAM UI ( MMS SALAM UI ). Perumusan Grand design dakwah ini bertujuan agar ada sustainability development atau pembangunan yang berkelanjutan dari LDK, sehingga penerus kita di masa yang akan datang bisa melanjutkan perjuangan LDK.


Menentukan Parameter Keberhasilan
Parameter Keberhasilan ini diharapkan bisa sebagai pedoman kuantitatif maupun kualitatif target keberhasilan setiap periode. Jika perencanaan dibuat untuk tiga tahun, maka perlu ada target pencapaian per satu tahun. Saya akan memberikan contoh Parameter keberhasilan.
Aspek 2008 2009 2010
Kualitas dan Kuantitas Kader a. 50% mahasiswa muslim S1 ITB adalah kader mula
b. 45% kader mula menjadi kader muda
c. 40% kader muda menjadi kader madya
d. 30% kader madya menjadi kader purna a. 60% mahasiswa muslim S1 ITB adalah kader mula
b. 50% kader mula menjadi kader muda
c. 40% kader muda menjadi kader madya
d. 35% kader madya menjadi kader purna a. 70% mahasiswa muslim S1 ITB adalah kader mula
b. 60% kader mula menjadi kader muda
c. 40% kader muda menjadi kader madya
d. 35% kader madya menjadi kader purna
Parameter keberhasilan kader LDK GAMAIS ITB
No Parameter 2008 2009 2010
1 Trainer 10 20 30
2 SPMN TC Mampu melayani seluruh LDK Membuka SPMN branch di seluruh Puskomda Menjadi lembaga profesional
3 Buku Memproduksi buku tentang manajemen LDK Meproduksi buku tentang pemikiran mahasiswa terhadap isu kontemporer Menerbitkan 1000 buku referensi kontmporer
4 Ranah kerja Nasional Asean Asean
5 Perangkat Tim khusus + solid Sekre, legalitas lembaga Perangkat manajemen lengkap
Parameter keberhasilan tim pelatihan manajemen LDK GAMAIS ITB

Dari contoh ini saya rasa, sudah bisa dipahami bagaimana pembuatannya. Dalam pola pemikirannya dimulai dari memahami GDD dan ditentukan kriteria keberhasilan, lalu diturunkan kembali ke parameter yang diharapkan. Dengan adanya parameter ini, LDK bisa mempunyai target yang jelas di setiap periode untuk menilai keberhasilan LDK.


Menetapkan Alternatif Program dan Proyek Dakwah
Pertama saya ini menjelaskan perbedaan antara program dan proyek. Program dalam konteks LDK adalah yang berhubungan dengan kepanitiaan, seperti program idul Qurban, program PMB, program ramadhan, dan sebagainya. Sedangkan proyek adalah yang berhubungan dengan tim khusus, yang outputnya biasanya sebuah kebijakan tertentu, seperti proyek legalisasi LDK, proyek penyusunan konsep kaderisasi dan sebagainya. Memang tidak terlalu jauh perbedaannya, saya mencoba menjelaskan agar kedepannya kita semua bisa memahami dengan baik.

Pada tahapan ini LDK mulai menyusun dan membuat strategi program dan proyek apa yang sekiranya cocok dan tepat untuk memenuhi parameter keberhasilan yang telah dirancang. Tim perumus masih mencoba memberikan alternatif yang memnungkinkan, dalam fase ini pula, brainstorming ide dan inovasi program dan proyek diharapkan dapat berkembang, agar penentuan program dan proyek ini bisa tepat. Pengambilan data untuk melihat preference dan taste dari mahasiswa perlu dilakukan. Ada satu hal yang ingin saya ingatkan dalam menyusun agenda dakwah, adalah “give what they need, not give them what we need”. penentuan agenda dakwah perlu memperhatikan preference dari objek dakwah, jangan melihat apa yang kita butuhkan.


Menentukan Program dan Proyek Dakwah
Tahap penentuan program dan proyek dakwah yang dirangkum kan dalam program kerja ( proker ) tahunan. Biasanya program kerja dibuat oleh setiap departemen di LDK. Dalam penyusunan proker tahunan perlu diperhatikan juga aspek detail, seperti dana yang dibutuhkan, derkripsi agenda, parameter keberhasilan, waktu yang direncanakan dan penanggung jawab agenda dakwah. Dengan sistematika seperti ini diharapkan dapat memudahkan dalam mengeksekusi dan penerus kita dapat melihat dokumen peninggalan kita sebagai dokumen yang bisa dipahami. Setelah adanya penentuan proker ada dua tahap lagi dari sebuah LDK yang perlu di lakukan sebelum proker di eksekusi.

Pertama, auditing dana. Setiap kegiatan butuh dana, dan terkadang dana yanga da di LDK terbatas, oleh karena itu diperlukan auditing keuangan, agar setiap proker mendapat hak yang proposinal. Setiap departemen perlu menentukan prioritas proker, sehingga dapat ditentukan juga proker mana yang akan mendapat hak lebih dalam hal dukungan dana. Dengan adanya auditing ini, departemen bisa konsisten dalam pengelolaan dana.

Kedua, sinkronisasi timeline. Pembahasan proker yang berjalan paralel setiap departemen, terkadang membuat jadwal agenda kita bentrok satu sama lain, oleh karena itu diperlukan sinkronisasi timeline, agar semua kegiatan dapat berjalan dengan baik dan tidak bertubrukan dengan jadwal agenda dakwah yang lain.
Setelah dua hal ini dilakukan, maka LDK sudah bisa mengeksekusi proker dakwah yang telah disusun.


Pelaksanaan Program dan Proyek Dakwah
Tahap pelaksanaan adalah tahapan yang paling penting dalam dakwah, karena LDK mendidik kita untuk menjadi kader yang produktif dalam beramal. Dalam tahapan pelaksanaan ini tidak ada penjelasan khusus , akan tetapi ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.
1. Keadaan ruhiyah kader, jangan sampai karena beramal terlalu banyak, membuat dia semakin jauh dari Allah
2. Keadaan nuansa kekeluargaan di dalam LDK, karena rasa kekeluargaan ini lah LDK bisa bertahan lama, dan nuansa kekeluargaan ini pula yang membuat kader nyaman dan produktif. Saya pernah berkata pada mahasiswa baru ketika awal mereka masuk ke GAMAIS ITB. “selamat datang di GAMAIS ITB, selamat datang para putra-putri terbaik bangsa, mulai saat ini GAMAIS adalah keluarga baru untuk kalian, dan teman anda di sebelah kanan dan kiri, adalah anggota keluarga kita juga, dan saya adalah kepala keluarga dakwah ini, selamat datang di keluarga baru, tempat kita akan senang dan sedih bersama”
3. Kondisi akademik kader. Jangan sampai pula agenda dakwah yang disusun , membuat kondisi akademik kader menurun, penempatan kader perlu diperhatikan. Karena kuliah merupakan tugas utama mahasiswa, maka memastikan IP kader baik-baik saja adalah tugas seorang pemimpin.


Monitoring
Monitoring dalam tahapan ini berfungsi untuk memastikan program kerja berjalan dengan baik, dan parameter keberhasilan yang sudah direncanakan seusai target, monitoring ini pula menjalankan fungsi evaluasi berkala, agar penyimpangan dan kesalahan yang ada bisa diantisipasi dengan segera. Bentuk monitoring dapat dilakukan oleh tim Steering Comitee , tim ini punya peran sangat penting dalam monitoring agenda dakwah termasuk kader yang ada di dalamnya. Karena orientasi beberapa agenda dakwah berbasis rekruitment kader, makan tim Steering Comitee perlu merumuskan juga bagaimana agar agenda dakwah yang dilakukan dapat produktif.


Evaluasi
Tahap terakhir dalam siklus perencanaan dakwah, evaluasi dakwah. Bentuk evaluasi dakwah sangat beragam pendekatannya, dimulai dari pendekatan agenda dakwah itu sendiri, dimana kita menilai apakah agenda tersebut sudah memenuhi parameter keberhasilan, lalu pendekatan kader, terkait hasil rekruitment kader setelah agenda dakwah, dan pendekatan objek dakwah, terkait tanggapan mereka terhadap agenda yang ada.

Evaluasi untuk LDK biasanya termaktubkan dalam LPJ tahunan. Pentingnya evaluasi ini sekaligus memberikan rekomendari terhadap rencana dakwah tahun mendatang. Dengan adanya evaluasi yang baik dan didukung data yang kuat, maka akan memberikan gambaran yang jelas mengenai perencanaan dakwah.
Dalam siklus perencanaan dakwah tidak ada akhir dari siklus ini, dan siklus ini bisa di modifikasi sesuai kebeutuhan, sebutlah kebutuhan perencanaan kepanitiaan, dan sebagainya. Dengan memahami siklus ini harapan kita akan terwujudnya sustainability development dalam keberjalanan LDK.


Marketisasi Lembaga Dakwah Kampus
Kami memahami makna marketing sebagai dakwah, karena pada dasarnya dakwah ini adalah menjual dan mempromosikan nilai Islam yang kita yakini kebenarannya. Makna mempromosikan dan menjual ini memang menjadi unik karena seringkali kita melihat dakwah hanya sebatas konten yang akan kita sampaikan. Padahal jika melihat dalam kacamata umum, seseorang tidak mungkin melihat sesuatu lebih detail ketika ia tidak tertarik dengan tampilan luarnya. Oleh karena itu dalam prosesi marketing LDK ini perlu memperhatikan beberapa hal, antara lain :
1. Konten
2. Sasaran / segmentasi objek dakwah
3. Pengemasan
4. Pemasaran / promosi
5. Closing / transaksi / kesepakatan

Hal-hal yang diperhatikan ini memang tampak seperti menjual produk, memang kita dalam berdakwah ini akan berurusan dalam penjualan produk yang sudah Allah berikan kepada kita melalui Nabi Muhammad. Konten dalam hal marketisasi LDK terkait kepada value atau materi yang akan disampaikan, kita perlu memahami kebutuhan objek dakwah kita dan menyesuaiakan konten yang akan disampaikan dengan keberterimaan objek dakwah. Sasaran adalah target market yang menjadi penerima agenda dakwah kita, objek dakwah haruslah terklasifikasi dan tersegmentasi agar tepat tujuan, 

contoh : agenda tabligh untuk semua mahasiswa, agenda tasyakuran akbar untuk mahasiswa tingkat satu, agenda diklat mahasiswa muslim untuk mahasiswa tingkat dua, agenda survival untuk mahasiswa tingkat tiga dan career sharing untuk mahasiswa tingkat empat. Pengemasan dalam konteks agenda dakwah seputar bagaimana pencitraan yang akan timbul kepada masyarakat kampus. GAMAIS ITB mencoba mencitrakan LDK yang lembut dan ramah, hal ini terimplementasikan dalam berbagai bentuk, salah satu nya publikasi kami yang selalu tampak lucu. Selain itu penamaan kegiatan yang tampak “ramah di mata dan telinga” seperi metamorphosis, look inside my environtment, GAMAIS PEDULI, A-day, BBQ, dan lain-lain. Pemasaran terkait bagaimana kita bisa menjual agenda ini dengan baik, prosesi penjualan paling efektif adalah melalui kader LDK itu sendiri, bagaimana seorang kader mampu berkomunikasi dan menjual agenda dakwah kita, disinilah menjadi sebuah tadhrib amal tersendiri bagi kader LDK untuk belajar bagaimana menjadi da’i dalam arti sesungguhnya, yakni menyeru dan mengajak. Selanjutnya yang terakhir adalah closing, dimana telah terjadi kesepahaman antara da’i dan mad’u dimana seorang mad’u bersedia menerima nilai yang kita sampaikan atau dalam konteks kegiatan LDK, seorang mad’u sepakat untuk mengikuti cara yang kita rencanakan.

Dalam menjalankan amanah dakwah tentunya syiar menjadi sebuah tahapan yang selalu digunakan. dalam skematik dakwah di masyarakat. Syiar mempunyai sebuah posisi dalam mengubah masyarakat umum menjadi masyarakat yang semi-afliasi dengan Islam.pertanyaan nya apakah syiar kita sudah memenuhi kaidah manajemen yang baik agar dakwah kita efesien dan efektif ? pada dasarnya dalam menentukan arah gerak syiar selalu berbasis pada sirah nabawiyah. Melihat dan memahami langkah bagaimana Rasul melakukan manuver dakwah hingga Islam bisa berada di seluruh pelosok dunia ini.

Serigkali kita berbicara mengenai bagaimana menyentuh masa kampus, bagaimana menyusun agenda dakwah, bagaimana strategi syiar ramadhan dan lain sebagainya. Akan tetapi, kita sering lupa bahwa kita bukanlah event organizer biasa, kita adalah jundullah yang mempunyai peran lebih dalam masyarakat. seorang kader dakwah kampus bukanlah EO, melainkan seorang da’i, oleh karena itu jika berbicara tentang bagaimana marketisasi yang terbaik, saya akan langsung mengatakan bahawa marketisasi terbaik adalah ketika kita sebagai kader dakwah secara terus-menerus direct seliing atau mengajak secara langsung melalui lisan kita kepada objek dakwah untuk bergabung dalam barisan dakwah kita. Untuk itu semua saya menyadari bahwa kunci dalam dakwah adalah komunikasi. Allah mengajarkan kepada kita untuk berdakwah dengan hikmah dan dengan cara yang baik. Dalam kaitannya dengan komunikasi adalah bagaiamana kita bisa menyampaikan konten dakwah dari Allah dengan cara terbaik mungkin agar diterima oleh masyarakat.

Ini merupakan algoritma berpikir kita dalam menyampaikan sesuatu, yang saya jabarkan secara singkat sebagai berikut :
1. Tentukan Pesan apa yang mau disampaikan. Seorang pengirim pesan perlu memahi isi pesan yang akan disampaikan. Dengan pemahaman yang baik akan berdampak pada penjiwaan dalam bergerak, dan efektifitas tingkat ketersampaian pesan.
2. Menentukan metode atau sarana yang akan digunakan dalam menyampaika pesan, kita harus pandai memilih cara, salah memilih akan berdampak besar dalam keberlanjutan dakwah kita.
3. Memastikan apakah penerima pesan sudah siap untuk menerima pesan yang akan kita sampaikan, pemahaman objek dakwah diperlukan disini.
4. Algoritma berpikir ini sangat penting dipahami, akan tetapi algoritma ini tidak akan berguna jika seorang kader tidak memahami pesan, sarana dan penerima pesan.

Dalam skala individu pun bisa kita lakukan, dengan tetap memperhatikan pola berpikir ini, pola berpikir sales. Saya mencoba mengajak kepada seluruh kader dakwah untuk menerapkan cara berpikir bahwa dakwah ini adalah ”jualan”, dengan harapan akan ada perubahan tampilan dakwah dimana kita bisa menggunakan cara berpikir “konten samawi, pengemasan Ardhi”. Oleh karena itu diperlukan penanaman jiwa marketing ini pada semua kader, karena kader adalah sales dakwah kita di kampus.

Menganalogikan Da’i sebagai penjual dan objek dakwah sebagai pembeli merupakan analogi yang tepat, ketika produk dakwah kita tidak diterima, maka jangan menyalahkan objek dakwah, justru ini adalah kesempatan bagi kita untuk mengevaluasi dan memperbaiki produk dan pengemasan dakwah kita. Sebagai penutup bagian ini saya akan menyampaikan 5 parameter yang bisa digunakan dalam menilai apakah syiar kita sudah efesien, efektif dan andal.

1. Cash flow
dalam perencanaan keuangan pada agenda syiar haruslah berpegang pada nilai balance cashflow atau bahkan surplus cashflow. dakwah butuh jihad, dan jihad butuh dana. Pendanaan yang baik akan membuat syiar kita tidak terkesan dipaksakan dan bisa optimal. Syiar yang baik tidaklah harus mahal. Akan tetapi cocok dan sesuai dengan kebutuhan objek dakwah. disinilah perencanaan syiar harus memikirkan dana, jangan sampai dana yang ada terlalu besar. Walau memang dengan rencana anggaran yang besar, bisa menjadikan kader dakwah kreatif dalam menggalang dana. Sebuah lembaga dakwah kampus seharusnya bisa menghasilkan uang dalam jumlah besar. kebebasan finansial membuat sebuah LDK bisa mandiri serta independen dari semua pihak.

2. Appreciation
apresiasi ini adalah tanggapan atau respon dari semua stakeholder yang terkait dengan agenda yang di adakan. Apresiasi pertama tentu dilihat dari perserta atau objek dri agenda yang dibuat. Apakah mereka puas dan senang dengan agenda yang disusun. karena tujuan syiar ini adalah mentransformasi objek dakwah yang masi belum tau menjadi tau. Penilaian termudah dalam melihat apresiasi adalah dengan adanya orang-orang yang tergabung dalam simpatisan dakwah. dalam hal ini peran data sangat penting untuk di gunakan dan berdungsi dalam melihat evaluasi agenda dakwah. Stake holder lainnya seperti pengisi acara, pihak yang diajak kerjasama dana, donatur, dsb. Apresiasi dari mereka sangat penting karena tanpa mereka agenda dakwah ini tidaklah akan berjalan dengan lancar.

3. Participation
ada dua pihak dalam hal partisipasi, pihak panitia dan pihak objek dakwah itu sendiri. partisipasi pihak panitia sangat penting. kita ini jamaah dakwah sehingga keberhasilan dakwah ini tampak pada kebertambahan keimanan para subjek dakwah. dan pada hakekatnya setelah agenda dakwah sesuai dengan sirah, seharusnya terjadi pertambahan subjek. Partisipasi dari massa kampus atau objek dakwah akan agenda kita, bisa dilihat dari cara mereka merespon dan mendukung agenda kita. Apakah hanya sebagai pengunjung atau juga memberikan dukungan lainnya.

4. Value
Selalu ada fikroh atau pemikiran yang akan disampaikan dalam setiap syiar kita. Penyebaran fikroh ini menjadi sebuah misi dalam dakwah kita. Selain itu nilai yang kita maksudkan sejatinya bisa menjadi corong opini dan mengubah pola pikir dari objek dakwah kita. Dengan selalu berpegang pada value yang akan disampaikan, dakwah ini akan senantiasa selalu pada asholahnya. Pentingnya penentuan value juga harus diperhatikan. Jangan sampai nilai atau pesan yang disampaikan kontraproduktif, karena tidak sesuai dengan kebutuhan objek.

5. Documentation
dokumentasi menjadi hal yang sangat mahal. kebiasaan diantara kita semua dokumentasi seringkali terlupakan. sehingga tidak ada hal yang bisa diturunkan ke penerus kita di lembaga dakwah. Ada dua hal yang haru terdokumentasi dengan baik. pertama dokumentasi data seperti notulensi rapat,proposal, ide-ide, dan lain-lain.. kedua dokumentasi foto dan film kegiatan. penyimpanan data ini juga harus terorganisir dengan baik sehingga bisa jadi warisan penting bagi penerus dakwah kita di masa yang akan datang


Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Mandiri Egois !!!
“afwan akhi, kami masih mengurusi masalah internal”
“maaf , kami belum bisa menjalani pendampingan ke LDK lain, karena kami masih harus persiapan penyambutan mahasiswa”
“LDK kami masih banyak masalah, belum bisa memikirkan kampus lain, kami sedang penguatan internal”
-------------------
Atau ada kisah seperti ini
-------------------
“di sebuah kota di pulau jawa terdapat sebuah LDK dari kampus negeri yang mapan, mengadakan sekolah mentor untuk persiapan mentoring tahun depan. Kegiatan ini diikuti oleh 120 peserta yang sudah terseleksi dengan baik..... akan tetapi, 500 meter dari kampus tersebut ada sebuah LDK yang dimana pengurus inti nya tidak mendapatkan pembinaan ( mentoring ), karena tidak ada seorang pun yang mau membina disana”
“di sebuah LDK lain, yang juga terkemuka, dan juga berasal dari kampus sangat besar , LDK ini seringkali mengadakan kegiatan kelas lokal, bahkan nasional, dan tergadang beberapa agenda kaliber internasional. Sudah sangat terkenal LDK ini menjalankan agenda syiar yang sangat menakjubkan. Ta’lim dan kajian jurusan sudah seperti agenda rutin, sehingga kader bingung mau ikut yang mana, karena setiap jurusan mengadakannya..... akan tetapi ternyata di kampus-kampus sekitar ( dan berada dalam satu wilayah-sebutlah kabupaten-), LDK nya bahkan untuk mengadakan sebuah kajian rutin sangat sulit, dan sesekali mengadakan kajian, sudah ibarat sebuah kesuksesan yang sangat baik”
“di sebuah LDK lain, di Indonesia, LDK ini terkenal dengan kekuatan LDK yang mengakar, sehingga sudah ada dan kuatnya lembaga dakwah di tingkat fakultas, bahkan jurusan. LDK ini bisa dikatakan LDK yang sangat banyak dari jumlah kader.... akan tetapi tidak jauh dari LDK tersebut, banyak kampus yang bahkan untuk melegalkan LDK saja sulit”
----------------
Apakah ini realita di Indonesia.... jawabannya iya... LDK yang sudah mandiri, hanya sibuk mengurusi keadaan di kampusnya.. mentoring yang belum jalan, syiar yang belum efektif, hutang masih banyak, kader yang melemah dan masalah klise yangseakan-akan dibuat-buat.

Sahabat-sahabat semua, pertanyaan saya untuk anda semua, para penghuni LDK mandiri atau mapan?
Mau sampai kapan anda menunggu kampus anda baik ... ?
Menurut saya, hingga hari kiamat, kampus anda tidak akan baik ...Kenapa ?

Karena kebutuhan dan kondisi ideal setiap LDK akan meningkat seiring perputaran waktu. Lima tahun yang lalu bisa saja kita mengatakan, keberhasilan LDK adalah ketika LDK ini memiliki sisitem kaderisasi terpadu. Nah, tahun ini sistem terpadu itu sudah berjalan, tapi kita belum mengatakan LDK kita sudah baik. Kenapa ?

Karena parameter keberhasilannnya juga meningkat..

Saat ini anda bisa mengatakan bahwa standar keberhasilan LDK adalah ketika setengah mahasiswa muslim mengikuti mentoring, tahun depan anda akan mengatakan lain, lima tahun lagi anda akan mengatakan lain.
Apakah kita harus menunggu LDK kita baik baru kita membantu, melayani dan mem-back up kampus lain ? sampai kapan mereka harus menunggu ?

Sahabat kader LDK yang Allah sayangi, perlu kita pahami bahwa LDK lain yang notabenenya tetangga kita saudara kita juga butuh bantuan. Masih banyak LDK yang tidak bisa mengadakan kegiatan mentoring karena tidak ada mentor yang kompeten, masih banyak LDK yang untuk membuat buletin saja sangat sulit, karena berbagai faktor sebab, masih banyak LDK yang tidak punya dana untuk memulai usaha, masih banyak LDK yang untuk memilih ketua saja, perlu waktu lama, karena tidak ada kader yang tersedia, masih banyak LDK yang butuh perhatian dan bantuan anda semua , butuh bantuan kita semua.

Saya berbicara kepada –khususnya- semua LDK yang berasal dari kampus-yang ngakunya-besar. Kalau memang anda semua punya harga diri, buktikan itu dengan pelayanan, dengan membantu percepatan di kampus sekitar. Jangan egois dengan hanya dengan memikirkan apa yang bisa anda lakukan untuk memperbesar LDK anda.
Saya berani berkata, untuk semua ketua LDK –yang katanya sudah mandiri- kalau hanya untuk membuat LDK anda besar,lebih baik anda turun jadi ketua LDK. Bersyukurlah sedikit dengan apa yang sudah Allah kasih ke kampus dan LDK anda. Buktikan dan balas semua yang telah Allah berikan dengan punya visi , bagaimana dengan kehadiran anda sebagai sebagai pemimpin LDK bisa memajukan LDK lain , minimal yang berada di propinsi atau minimal sekali yang berada di kota tempat LDK anda berada.

Kalau kita lihat, sekarang ... LDK mana yang betul-betul peduli pada LDK lain ( kecuali PUSKOMNAS tentunya-itu juga karena tanggung jawab ) ? mana mantan-mantan koordinator PUSKOMNAS ? mana para LDK yang sudah baik itu membagikan dan menyebarkan “surga” nya ke kampus lain ?
Kalau bukan LDK mandiri yang bergerak siapa lagi ? siapa lagi yang akan peduli dan mempercepat perkembangan LDK lain ?

Ironi jika sebuah LDK bisa web yang di andalkan untuk media syiar, akan tetapi sangat banyak LDK yang menggunakan millist saja tidak bisa

Ironi jika sebuah LDK bisa membuat buku panduan mentoring, sedangkan sangat banyak LDK lain yang menggunakan konsep mentoring yang hanya copy-paste dari internet atau dari buku

Ironi jika ada sebuah LDK yang meng-semarak-kan prosesi pemilihan ketua LDK, sedangkan banyak LDK yang proses pemilihan ketua LDK tampak sepi, karena kekurangan kader

Ironi jika ada sebuah LDK yang mempunyai dana yang sangat besar di kas, bahkan punya aset yang bisa dijadikan uang, sedangkan banyak LDK yang harus mengutang untuk mengadakan sebuah kajian

Ironi jika ada sebuah LDK yang sengaja memperbanyak jumlah departemen dalam struktur organisasi karena memilki banyak kader, sedangkan banyak LDK yang sengaja mengurangi jumlah departemen dalam struktur karena kekurangan kader

Ironi jika sebuah LDK bisa mempunyai sebuah sekertariat yang sangat besar, sedangkan saudara saudara kita di sulawesi masih berjuang untuk melegalkan LDK

Ironi jika kita bisa nyaman berdakwah.sedangkan masih banyak LDK yang berdakwah dalam kegelisahan
Ironi jika kita mengeluh “saya Cuma satu-satunya kader dakwah di kelas” sedangkan saudara kita di Unpati ambon tetap semangat berdakwah dengan berkata “saya satu-satu mahasiswa muslim di kelas”
Ironi jika kita mengeluh, sedangkan mereka menanti uluran tangan kita dengan senyuman
Kalau memang kita satu tujuan, kalau memang kita satu visi, kalau memang kita bersaudara.. maka buktikanlah..

FSLDK di dirikan untuk mempercepat perkembangan LDK di Indonesia. FSLDK di dirikan bukan untuk memperbesar kampus yang sudah besar. FSLDK di dirikan untuk membuat semua LDK maju bersama, baik bersama, kuat bersama, dan bersinar bersama.
-------------
Tulisan ini ditulis untuk –khususnya- semua LDK yang sudah mandiri dan semua LDK yang akan mandiri ( supaya pas jadi mandiri sadar diri ), dan sebagai pengingat bagi saya sendiri yang juga merupakan ketua LDK mandiri.
Mohon maaf jika ada yang tersinggung, emang tujuannya untuk nyinggung, kalo yang gak merasa juga gak apa-apa.
----------

Kader LDK = Agen Syiar (marketing)
Saudara saya, yang juga merupakan kepala syiar dan pelayanan kampus GAMAIS ITB, albaz rosada, menterjemahkan kata “syiar” dalam bahasa inggris dengan “marketing”. Awalnya saya sempat bingung, kenapa harus “marketing”, karena kata tersebut lebih cocok diterjemahkan dalam kata “pemasaran”. Akan tetapi, saya melihat, bahwa memang yang dilakukan oleh LDK adalah memasarkan produk dakwah, mempromosikan Islam, atau menyebarluaskan jaringan islam, dan untuk itu semua, maka dibutuhkan pemasaran yang baik.

Marketing atau proses syiar dalam lembaga dakwah kampus adalah hal yang sangat penting, karena memang tugas utama LDK adalah syiar. LDK adalah lembaga dakwah yang tugasnya mensyiarkan Islam. Poin penting dalam tulisan ini adalah bagaimana kader kita punya karakter syiar yang kuat, dalam hal ini bisa dikonotasi kan, kader yang berkarakter da’i. Sehingga dimanapun dan kapanpun seorang kader berada , jiwa dia selalu berorientasi syiar.

Kader bagi sebuah LDK adalah garda terdepan, dan perlu diingat, kader LDK berarti semuanya, dari low to top management . Jiwa da’i ini harus ditanam sejak awal masuk. Dengan penanaman jiwa ini sejak awal, pelan-pelan akan menghapus paradigma LDK adalah EO yang cukup marak beredar beberapa tahun belakangan ini. Karena itulah pembekalan terhadap kader harus terpasu dan berkelanjutan. Seorang kader harus dibina agar ia memiliki kekuatan Qur’aniyah yang kuat, dimulai dari belajar membaca, tahsin yang baik, membaca tafsir, menghafal hingga mengamalkannya. Selain itu seorang kader harus punya kredibilitas seorang pemimpin, kita sangat mengharapkan seorang kader dakwah punya kemampuan untuk menjadi teladan di tempat-tempat ia berhimpun. Dan seorang kader harus mampu menjadi yang terbaik di kelas, memimpin lab, menjadi asisten mata kuliah dan keunggulan di bidang akademik lainnya.

Kader adalah agen promosi bagi LDK, dan media paling tepat untuk mengajak orang lain untuk bergabung dalam barisan dakwah ini adalah melalui kader. Masyarakat kampus akan melihat dengan positif, seorang kader kita yang memiliki budi pekerti yang baik, dengan itu mereka bisa jadi simpati dan melihat ketenangan dari kader kita dan tertarik untuk mendalami Islam. Saya pernah suatu waktu ditanya oleh kawan saya dikelas “cup, apa sih yang bisa buat lo berubah, lo tampak tenang dan excited banget dengan hidup lo ?” dan saya menjawab “gw gabung di gamais, bukan karena gw uda soleh, tapi gw tau bakat maksiat gw tinggi, makanya gw banyak belajar di gamais,dan gw dapet apa yang gw ingingkan, at least gw bisa tenang dan selalu berpikir positif dalam setiap langkah gw” diskusi berlanjut dan saat ini, beliau telah bergabung dengan kelompok mentoring.

Kader pula yang akan memberi contoh kepada masyarakat kampus, bagaimana seorang muslim yang baik memimpin. Seorang muslim yang memimpin dengan sepenuh hati dan raga. Melayani anggota yang dipimpinnya, dan mau berkorban tanpa pamrih. Itulah seorang pemimpin muslim yang akan disenangi oleh masyarakat kampus. Kader LDK harus bisa mengisi pos pos kepemimpinan di semua lini dari yang terkecil-ketua kelas atau ketua kelompok tugas- hingga pos pos yang lebih tinggi dan berpengaruh-ketua unit mahasiswa,ketua himpunan mahasiswa, atau ketua BEM-. Lagi-lagi dengan sebuah harapan kader kita dapat mencontohkan bagaimana Islam bisa mengajarkan umatnya memimpin, dan bagaimana Islam bisa betul-betul menjadi rahmat bagi semua manusia. Saya punya saudara bernama muhammad iqbal, beliau ketua angkatan mahasiswa fisika teknik angkatan 2005, ada sebuah kisah yang saya ingat, saat itu dalam prosesi orientasi mahasiswa, beliau di cabut amanahnya oleh pengkader, akan tetapi karena tuntutan dan karena beliau juga disenangi dan disayangi oleh anggota nya beliau terpilih kembali sebagai ketua angkatan, dan menurut kabar beliau adalah ketua angkatan fisika teknik pertama yang gagal diturunkan oleh para pengkader saat masa orientasi mahasiswa. Subhanallah , seorang kader dakwah inilah yang berperan besar dalam menegakkan kekuatan Islam di kampus, iqbal yang saya ceritakan, saat ini di amanahkan sebagai kepala departemen manajemen sumber daya anggota GAMAIS ITB.

Kader LDK dituntut memiliki IP yang tinggi, dan aktif dalam perkuliahan. Kampus adalah masyarakat berpendidikan, dan seseorang akan dipandang karena kepandaiannya dalam akademik. Semakin tinggi IP kader, akan semakin banyak pula orang yang mendengarkannya. Untuk itulah LDK harus mempu menjada stabilitas IP kader, adanya departemen akademik dan profesi di GAMAIS ITB mulai sejak saya memimpin juga ditujukan untuk mem-back up hal tersebut. Ada sebuah contoh di kampus saya , saudara saya anggit saputra, beliau seorang ketua lembaga dakwah program studi teknik kimia ( GAMISTEK ). Beliau dikenal sebagai seorang yang bersahaja dan luar biasa dalam hal IP. Sempat mendapat IP 4,00 dengan IPK saat ini seingat saya masih diatas 3,5. Kekuatan ini beliau jadikan sebagai keunggulan pribadi yang dimanfaatkan untuk dakwah. Kepintaran beliau membuat banyak teman-temannya simpati , dan satu tahun beliau menjadi ketua GAMISTEK telah membuahkan hasil yang sangat signifikan, terutama dalam hal rutinitas agenda syiar dan produktifitas kader, saat ini beliau di amanahkan sebagai ketua lembaga dakwah fakultas teknologi industri.

Sahabat sahabat kader LDK yang saya sayangi karena Allah, memberi peran lebih kepada kader terutama sebagai agen terdepan syiar (marketing) adalah sebuah keniscayaan. LDK mendidik kadernya untuk menjadi da’i dan untuk menjadi teladan, serta untuk menjadi pemimpin di masyarakat. Dengan membangun paradigma bahwa kader adalah agen terdepan dalam memasarkan Islam di kampus, mudah-mudahan bisa membentuk karakter yang kuat dari LDK dengan berfondasikan karakter kader dakwah yang kuat dan produktif.


Tahapan kaderisasi Lembaga Dakwah Kampus ( LDK )
LDK sangat erat kaitannya dengan lembaga kaderisasi, karena memang LDK pada mulanya didirikan untuk mengkader para mahasiswa agar memiliki pemikiran dan kapasitas seorang muslim yang komprehensif. Dalam perkembangannya LDK beralih peran sebagai lembaga syiar Islam. Berbagai agenda terus dilakukan. Terkadang alih fungsi ini berdampak “kebablasan” di beberapa wilayah. Roda syiar berjalan, sedangkan basis pembinaan tidak terperhatikan.

Inilah yang menjadi sebab mengapa beberapa LDK mengalami krisis kepemimpinan pada tahun-tahun tertentu. Sejatinya LDK harus bisa memastikan sistem kaderisasi bisa berjalan dengan baik dalam keadaan apapun. Karena kaderisasi yang baik akan berperan besar sebagai dinamo dakwah kita.

Mengapa saya berbicara sistem, karena dengan sistem lah, sebuah LDK bisa membentuk kader kader yang solid dan militan setiap saat. LDK tidak boleh berorientasi pribadi atau ketokohan. LDK tidak boleh punya tokoh sentral yang di ibaratkan “pahlawan” bagi LDK tersebut. LDK harus mampu membentuk banya kader hebat di setiap waktu.

Bagaimana LDK melakukan sistem kaderisasi ?. Pada dasarnya ada 4 tahap kaderisasi yakni, tahapan perkenalan, pembentukan, pengorganisasian, dan tahapan eksekusi. Empat tahapan ini adalah sebuah siklus yang membentuk seorang objek dakwah agar di masa yang akan datang siap menjadi subjek dakwah
Perkenalan ( ta’aruf )

Pandangan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah anda. Memberikan kesan yang baik terhadap LDK adalah tahap awal yang dijalankan. Kesan yang baik ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti dengan pelayanan kepada mahasiswa, atau dengan agenda syiar kampus. Pada tahap perkenalan ini , LDK mempunyai peran dalam untuk membuat mahasiswa menjadi mengetahui apa-apa yang belum diketahui terkait islam, atau dengan kata lain dari bodoh menjadi pintar. Dari yang belum mengetahui menjadi mengetahui. Membuat mahasiswa berkata “oh”. Pada hal-hal yang didapat. Pendekatan yang dilakukan memang seperti agenda syiar, karena ta’lim dan tabligh bisa menjadi media untuk memperkenalkan LDK.

Tahapan perkenalan sangat berpengaruh terhadap pemahaman dan kontribusi beliau ketika sudah masuk LDK, dalam tahapan ini kita perlu memberikan gambaran umum yang jelas sehingga calon kader memiliki orientasi yang jelas dalam mengikuti pembinaan Islam. Tidak ada parameter yang berlebihan dalam tahapan ini. 

Mahasiswa yang dulu belum mengetahui bahwa sholat itu wajib, menjadi tahu bahwa sholat itu wajib, mahasiswa yang belum tahu bahwa puasa itu wajib menjadi tahu. Belum perlu sampe tahapan melaksanakan. Dengan harapan, setelah mahasiswa mengetahui urgensi dari beberapa hal tentang Islam , membuat mereka tertarik untuk mendalami dengan mengikuti permentoringan.

Poin penting dalam tahapan ini adalah tindak lanjut dari agenda syiar yang dilakukan. Peran data sangat penting disini, dimana LDK bisa mempunyai absensi peserta ta’lim atau agenda syiar, dan menindaklanjuti dengan agenda pembinaan rutin ( mentoring ) yang diadakan oleh LDK. Bentuk lain dari penindaklanjutan adalah dengan membuat stand pendaftaran kegiatan mentoring di setiap event dakwah, dan cara yang baik lainnya, adalah dengan menjadikan dakwah fardiyah sebagai kebiasaan kader dimana. Sehingga setiap kader kita bisa berperan aktif dalam mengajak mahasiswa muslim untuk mengikuti mentoring ( pembinaan rutin ). Pendekatan dengan diskusi langsung juga bisa dilakukan untuk orang yang sudah berpengaruh atau sudah punya landasan pemikiran yang kuat.

Pembentukan ( takwin )
Membentuk seorang kader yang seimbang dari segi kemampuan dirinya. Membentuk kader ini perlu waktu yang cukup lama dan berkelanjutan. Membuat mekanisme dan sistem pembentukan yang jelas, bertahap dan terpadu bagi kader akan menghasilkan kader yang kompeten dan produktif. Oleh karena itu pelaku kaderisasi atau dalam hal ini tim kaderisasi LDK diharapkan bisa memberikan asupan ilmu yang luas dan tidak terbatas, serta seimbang antara ilmu dan amal. Berikut akan dijelaskan berbagai dimensi yang perlu dipahami dan dibina terhadap seorang kader.
• Diniyah. Diniyah disini dimaksudkan pemahaman ajaran Islam dasar, seperti penjelasan tentang aqidah yang bersih dan lurus, pengajaran bagaimana ibadah yang benar,diutamakan ibadah wajib dijalankan dengan konsisten lalu meningkat ke membiasakan ibadah sunnah. Selanjutnya terkait dasar-dasar fiqih Islam dan berbagai hukum kontemporer yang ada. Penguatan dari sisi akhlak yang baik perlu di biasakan pada dimensi ini. Pembentukan kader yang berkepribadian Islam komprehensif diharapkan bisa di penuhi di dimensi ini.

• Qur’aniyah. Memberikan pengajaran akan dasar-dasar Al Qur’an, disesuaikan dengan kebutuhan dan keadaan kader yang ada. Tahapan pengajaran ini bisa dimulai dari tahap pra-tahsin,tahsin, dan tahfidz. Bila keadaan memungkinkan Tafsir qur’an juga bisa dilaksanakan. Besar harapan kader LDK sangat dekat dengan Qur’an, karena memang semua yang disampaikan dalam berdakwah akan bersumber pada Al Qur’an. Kedekatan kader pada Qur’an pula yang akan membuat dakwah ini berkah dan di rahmati Allah. Kader diharapkan bisa mengaji atau membaca Qur’an dengan tajwid yang benar. Jika bacaan Qur’an sudah baik, kader diharapkan bisa memulai menghafal Al Qur’an.

• Manajemen Organisasi. LDK adalah lembaga dinamis yang memerlukan kader yang bisa bergerak produktif dan terus menerus. Kader LDK haruslah kader yang baik dalam memanajemen diri dan organisasi. Penanaman dasar-dasar organisasi sejak dini dengan harapann kader tidak bingung ketika sedang menjalankan amal dakwah. Isi dari dimensi ini seperti dasar-dasar kaderisasi, manajemen waktu, manajemen konflik, manajemen rapat, syiar efektif, fung rising, pengelolaan organisasi dan lainnya. Isi dari dimensi diharapkan bisa menjadi bekal untuk diri sendiri dan organisasi dakwah.

• Softskill. Kader LDK dituntut memiliki keahlian khusus yang bisa menunjang pergerakan dakwah LDK dan di masa yang akan datang diharapkan bisa juga berguna untuk dirinya. Contoh penerapan pembentukan softskill untuk kader, seperti pelatihan membawa mobil dan motor, cara desain dengan corel draw atau adobe photoshop,publik speaking, training manajemen aksi, memasak, memasang spanduk dan umbul-umbul, pelatihan multimedia seperti web dan blog, olahraga dan bela diri, bahasa Inggris dan bahasa arab dan kemampuan pendukung lainnya yang sekiranya dibutuhkan untuk kader.

• Kepemimpinan. Manusia diciptakan Allah sebagai pemimpin, begitupula kader LDK yang nantinya akan memimpin pos-pos dakwah di manapun. Seorang kader dakwah harus siap memimpin jika kondisi menghendaki beliau sebagai pemimpin. Jiwa seorang pemimpin ini tidak bisa dibangun secara instan. Seorang pemimpin perlu kuat dari segi visi dan komprehensif dalam melihat sesuatu, pemimpin juga butuh kekuatan komunikasi dan kharisma yang kuat, pemimpin butuh memiliki jiwa empati dan baik dalam berkerja sama, pemimpin juga harus bijak dalam mengambil kebijakan. LDK harus bisa mencetak banyak pemimpin, karena kader LDK tidak hanya akan memimpin di LDK saja, akan tetapi kita juga perlu menyiapkan kader yang akan pemimpin di wilayah dakwah lain.

• Wawasan. Seorang yang berilmu lebih baik ketimbang yang tidak berilmu. Ilmu dalam hal ini tidak dibatasi dalam hal ilmu agama saja. Kader LDK perlu memahami dasar-dasar ilmu politik, sosial, hukum, budaya dan ekonomi. Kekuatan dan luasnya wawasan yang dimiliki oleh kader dakwah akan memudahkan proses keberterimaan seorang kader di masyarakat dan memudahkan amal dakwah yang dilakukan oleh kader. Kekuatan wawasan ini pula yang akan membuat kader lebih bijak dan tepat dalam mengambil keputusan.

Dimensi-dimensi pembinaan ini perlu diberikan secara jelas, bertahap dan terpadu. Dengan memebrikan banyak wawasan bagi kader LDK, sama dengan membangun aset dalam bisnis. Aset terbesar LDK adalah kader yang produktif. Flow dari rangkaian pembinaan ini harus bisa disusun dengan tepat agar memberikan sebuah formulasi kaderisasi yang terbaik. Mekanisme pendukung dari tahapan ini adalah form evaluasi rutin per kader, sehingga kita bisa mengetahui tingkat partisipasi kader dalam pembinaan serta menguatkan basis penjagaan dalam kelompok kecil yang sering kita kenal dengan mentoring. Mentoring akan berfungsi sebagai kelompok penjagaan terkecil dari sebuah LDK. Pada tahapan pembentukan ini, ilmu yang sudah didapatkan diharapkan sudah bisa menjadi pemikiran dan gagasan yang kuat bagi kader dan siap untuk mengamalkannya.

Penataan / Pengorganisasian ( Tandzhim )
Setelah kader dibina, mulailah LDK menata potensi potensi kader menajdi sebuah untaian tali pergerakan yang harmoni. Setiap kader mempunyai kelebihan masing-masing. Ada kader yang pandai menghafal Qur’an, maka jadikanlah ia sebagai pengajar tahsin dan tahfidz. Ada kader yang gemar aksi atau demonstrasi, maka tempatkanlah ia di garda politik. Ada kader yang gemar mengadakan kegiatan, maka tempatkanlah ia di kepanitiaan. Ada kader yang hanya gemar belajar, maka proyeksikan ia agar menjadi asisten dosen dan ketua lab di masa yang akan datang. Ada kader yang suka bertualang, maka tempatkanlah ia sebagai relawan sosial LDK. Ada kader yang senang berpikir, maka tempatkanlah ia sebagi tim strategis. Ada kader yang gemar menggambar, maka tempatkanlah ia sebagai tim desain LDK. Kader harus ditempatkan sesuai dengan potensi yang dimiliki. Walaupun seorang pimpinan LDK punya wewenang untuk menempatkan kader sesuai dengan harapan pimpinan, akan tetapi menempatkan kader sesuai keinginan dan potensi akan menghasilkan sebuah kesinambungan dakwah yang harmoni dan tidak terjadi pembunuhan karakter kader. Pemahaman ini perlu di pahami, bahwa kader kita adalah manusia, bukan mesin yang bisa dipindah-pindah sesuai dengan keinginan pengguna. LDK harus mampu memanusiakan manusia. Kalo memang harus ada yang berkorban di LDK, maka pemimpin lah orang paling tepat. Kader adalah objek dakwah untuk pimpinan LDK.

Kader dengan amanah , seperti tumbuhan dengan habitatnya. Kaktus tidak mungkin hidup di pantai dan rumput laut tidak mungkin hidup di padang pasir. Begitulah analogi kader, jika pimpinan memaksakan seorang kader ditempatkan di tempat yang tidak sesuai, maka pembunuhan karakter akan terjadi. Penyediaan ladang beramal dari LDK pun harus ditambah seiring bertambahnya kader. Ada beberapa LDK yang menyesuaikan komposisi dan bentuk struktur organisasi dengan jumlah kader, atau bisa juga dengan memberikan kader tempat beramal di lembaga lain, sebutlah mahad kampus, BEM, himpunan, Unit mahasiswa dan sebagainya.

Poin paling penting adalah bagaimana kader dakwah bisa memiliki amanah di mana pun, dengan catatan, kader selalu melakukan setiap hal dengan paradigma dakwah yang baik. Dimanapun anda berada frame dakwah harus tetap terinternalisasi. Kenapa kebijakan seperti itu yang dikembangkan ?. Karena LDK harus mampu menyediakan kader yang bisa mengisi berbagai pos di masa yang akan datang. Dalam tahapan yang sudah lanjut, terutama untuk LDK yang sudah stabil. Kader diharapkan selalu memiliki empat peran dalam satu waktu, yakni ;
1. Mentor ( pembina ), seorang kader LDK harus aktif membina dan dibina. Dengan membina kelompok mentoring rutin, atau mengisi ta’lim rutin. Peran ini adalah peran murni seorang da’i yang diharapkan bisa menjadi peran utama kader dakwah

2. Penentu kebijakan strategis ( syura ), kader didik untuk bisa memimpin dan berpikir. Oleh karena itu kader harus mempunyai tanggung jawab sebagai anggota syura ( rapat strategis ) di lini yang sesuai dengan kapasitas kader saat itu. Dengan berpikir strategis ini diharapkan kader terbiasa untuk berpikir startegis dan komprehensif, sekaligus menumbuhkan jiwa pemimpin.

3. Pelaksana operasional ( teknis ), selain sebagai pemegang kebijakan di suatu tingkatan LDK, kader juga diharapkan bisa berperan dalam tatanan operasional atau kita sering kenal dengan pekerjaan teknis. Sehingga kader akan selalu berada dalam peran sebagai atasan dan bawahan dalam waktu bersamaan. Keseimbangan ini akan membentuk jiwa kerjasama yang baik. Contoh dalam kasus ini adalah, seorang kader berperan sebagai tim inti panitia kegiatan ( dalam hal ini dia sebagai anggota syura ) dan juga sebagai pelaksana operasional di tatanan LDK ( berkoordinasi dengan pengurus inti LDK ).

4. Akademik, kader dakwah pun perlu memiliki kompetensi akademik yang baik. Oleh karena itu, peran terakhir yang tak kalah pentingnya adalah, kader bisa berperan dalam bidang akademik atau di bangku kuliah dan lab. Peran yang bisa diambil antara lain, ketua kelas, ketua kelompok tugas, koordinator lab, ketua praktikum, asisten dosen, atau aktif dalam penelitian dan lomba ilmiah. Memiliki kader yang memiliki IP baik adalah harapan besar LDK. Dengan IP yang baik, sebetulnya akan memudahkan pergerakan dakwah kita di kampus.
Eksekusi dan peralihan objek kaderisasi menjadi subjek kaderisasi ( Tanfidzh )

Tahap terakhir dalam siklus kaderisasi. Pada tahapan ini seorang kader dakwah sudah bisa berkontribusi secara berkelanjutan dan sudah siap untuk menjadi subjek kaderisasi bagi objek dakwah yang lain. Kaderisasi merupakan siklus yang terus-menerus dan selalu lebih baik. Fase eksekusi ini juga di isi dengan monitoring kader dan evaluasi berkala, agar sistem kaderisasi yang dijalankan di LDK selalu lebih baik. Dengan monitoring dan evaluasi ini, diharapkan bisa memberikan masukan dan perbaikan bagi perencanaan siklus kaderisasi selanjutnya. Pada dasarnya tahapan kaderisasi seperti ini, varian dan inovasi akan bisa sangat berkembang pesat di metode, kurikulum, flow materi, perangkat pendukung dan kebijakan manajemen SDM lainnya.
Fase eksekusi ini juga sudah menghasilkan kader yang memiliki dorongan untuk berkerja, dan perlu di ingat, karena seorang kader saat ini sudah memegang peran sebagai pelaku atau subjek kaderisasi, maka kader pun perlu dibina dengan siklus yang baru. Pada dasarnya seorang kader akan dibina sesuai dengan siklus ini, yang membedakan adalah pola dan isi dari setiap tahapan. Seringkali, LDK tidak membina kader tahap lanjut, atau bisa dikatakan pembinaan untuk pengurus harian lebih sedikit ketimbang kader mula. Oleh karena itu pada LDK yang sudah cukup stabil, diharapkan mempunyai alur dan kurikulum serta metode kaderisasi yang berbeda untuk setiap tingkatang ( angkatan ) kader. Dengan membuat sistem kaderisasi seperti ini, maka LDK akan menjadi mesin pencetak kader yang solid dan militan secara terus-menerus. Membangun sistem kaderisasi yang kuat adalah aset berharga untuk lembaga dakwah kampus.


Kader adalah wajah LDK
Suatu hari saya mendatangi sebuah tempat makan, alasan saya datang ke tempat tersebut adalah karena tempat makan tersebut terkenal memiliki makanan yang lezat. Dengan sebuah harapan besar, bahwa saya akan mendapatkan makanan yang lezat, saya masuk ke sana. Setiba disana harapan yang ada tiba-tiba buyar. Saya dan teman duduk di tempat makan tersebut dan tidak ada satupun pelayan yang menghampiri. “kok gw dicuekin sih” pikir saya dalam hati. Teman saya langsung saja memanggil pelayan, dan tanpa disangka pelayan tesebut hanya memberikan menu dan kertas serta alat tulis, tanpa penjelasan atau perkenalan apa-apa. Lalu kami memesan, dan hingga kami selesai makan, bisa dikatakan pelayanan yang kami dapat sangat buruk, dan makanan yang kabarnya lezat tersebut tampak hambar dan tanpa kelebihan apa-apa.

Suatu hari saya ke sebuah toko buku dan membeli buku “starbucks experience”. Membaca buku itu dalam waktu singkat membuat saya tertarik untuk datang ke starbucks dan menikmati “pengalaman” yang khas starbucks. Dalam buku tersebut dijelaskan bagaimana sistem staffing di starbucks menuntut jiwa staff yang baik, ramah dan murah senyum, karena starbucks yakin bahwa staf atau dalam hal ini pelayan adalah garda terdepan dan akan memberikan pencitraan kepada pelanggan. Pada suatu siang, saya meniatkan diri untuk merasakan “pengalaman ala starbucks”. Setiba disana saya disambut dengan senyuman seorang pelayan, dan dalam perjalanan ke counter pembelian, dan nuansa cozy saya dapati dalam toko tersebut. Melihat wajah cerah dan ramah dari pelayan membuat saya semakin nyaman. Setiba di counter –lagi-lagi- saya disambut dengan muka bahagia pelayan dan menawarkan berbagai minuman kopi yang ada. Mungkin dia bisa melihat saya bukan pelanggan starbucks, akan tetapi seorang yang pertama kali datang, sehingga bingung ingin memilih minuman yang mana-secara banyak jenis kopi di starbucks-. Dan seketika saya seperti dibimbing untuk memilih kopi yang tepat.
“mau yang dingin atau yang panas” pelayan tersebut bertanya.
“hmhmh..kayaknya yang dingin deh” saya menjawab
Lalu pelayan tersebut melanjutkan “kalo yang dingin kami ada yang ini.... ini .... ini ....( saya lupa nama pastinya)”. “tapi biasanya anak muda suka yang frappucinno blended ....”
“yawda yang itu aja” saya memutuskan.

Pelayanan yang mengesankan berlanjut, pelayan tersebut menunjukkan kepada saya counter additional ingredients , semacam tempat untuk menambahkan gula, susu, atau coklat bubuk. Lalu saya duduk, entah mengapa ramahnya pelayan-pelayan di starbucks membuat saya jadi nyaman, dan harga kopi yang mencapai 40.000 rupiah terasa sebanding dengan apa yang saya dapat.

Kisah diatas adalah perbandingan dua kisah yang pernah saya alami. Saya berpikir saat menikmati kopi starbucks. Kalau semua kader LDK punya jiwa ramah, murah senyum, bersikap postif dan selalu bahagia. Alangkah indahnya dan mudahnya bagi LDK untuk mengajak massa kampus lain untuk bergabung dengan LDK ( atau dalam hal ini tertarik untuk mengikuti agenda LDK ). Semakin saya sadari lagi, bahwa kader adalah agen, sekaligus sales, sekaligus media promosi, dan juga wajah yang akan memberikan pencitraan kepada LDK.
Seorang kader yang baik, ramah, berbudi pekerti baik akan memberikan dampak positif dan pencitraan yang baik pula untuk LDK. Seorang kader yang berkemampuan akademik baik serta memilik IP yang tinggi akan membuat massa kampus melihat bahwa kader LDK adalah kader yang pintar-sebuah citra baik untuk LDK-. Seorang kader yang bijak, murah senyum dan gemar menyapa langsung objek dakwah, akan memberikan sebuah persepsi bahwa LDK inklusif.

Memang perlu disadari bersama bahwa kader adalah media promosi paling efektif. Kita perlu membiasakan kader terlibat secara personal dalam mengajak mahasiswa untuk datang ke acara yang kita adakan. Jangan hanya mengandalkan poster atau pamflet. Kader LDK adalah wajah dari LDK. Baik buruknya kader adalah cerminan dan persepsi terhadap LDK. Seorang pemimpin LDK perlu menjamin kualitas dari kader ini sebagai agen dakwah.

Mempersiapkan kader untuk berdakwah dimanapun dia berada, perlu berbagai pembekalan. Poin kedua yang harus disiapkan setelah ilmu yang mencukupi, adalah interpersonal kader yang supel, ramah, murah senyum dan bijak. Pendekatan ini sangat penting dan semua kader harus memahami dengan baik. Kembali kepada konsep bahwa LDK adalah lembaga berbasis kader, maka kader kita harus disiapkan dengan baik.
Berikut saya akan memberikan tips bagaimana seorang kader harus memiliki paradigma berpikir secara individu, yang dimana konsep ini bisa dijadikan nilai dasar kader dalam menyiarkan Islam secara personal. Tips ini bisa digunakan untuk berbagai hal seperti pencitraan LDK, dakwah fardiyah, mempromosikan kegiatan atau bahkan dalam pengajuan proposal sponsorship.
Soul to Soul

Telinga hanya bisa disentuh dengan mulut, dan mulut hanya bisa diredam dengan telinga. Begitupula, hati, yang hanya bisa luluh oleh hati. Seseorang yang bahagia akan terpancar dari senyumnya. Seseorang yang memahami betul apa yang dilakukan akan terpancar dari tatapan matanya. Seseorang yang sungguh sungguh melakukan sesuatu hal akan tampak dari raut wajahnya. Begitulah kurang lebih inti dari soul to soul, seorang kader yang memahami apa yang dilakukan dan diniatkan dengan ikhlas, lalu dilakukan dengan sungguh-sungguh, sehingga kebahagiaan dan kepuasan tampak pada diri seorang kader.

Jiwa seperti inilah yang dibutuhkan seorang kader, kekuatan ini akan berdampak pada konsistensi seorang kader. Karena ia menjalankan segala sesuatu dalam dakwah dengan pehamaman yang kuat, dan hati yang ikhlas. Sehingga ketika ada tantangan atau rintangan,tidak menjadi sebuah alasan untuk mundur, tapi justru menjadi penambah semangat untuk bisa berjuang lebih. Ketika ada kekecewaan yang di alami, tidak menjadi alasan baginya untuk mundur, karena Allah lah tujuan ia semata.

Seorang dosen saya pernah mengatakan “kamu harus all out dalam segala hal”. Penjiwaan dalam melakukan aktifitas dakwah akan memberikan dampak kader sangat all out dalam berdakwah. Konsep ruhiyah yang saya pahami adalah, keterlibatan jiwa ini pada setiap aktifitas kita. Bukan hanya sekedar berapa banyak halaman Al Qur’an yang dibaca atau berapa lama shalat malam yang dilakukan. Karena ibadah tersebut hanya akan jadi ibadah biasa jika tidak berdampak pada semangat kita bergerak.

Kekuatan soul to soul ini pula yang akan memberikan pencitraan di massa kampus. Orang luar LDK akan melihat kader kita sungguh-sungguh dan penuh kerja keras dalam setiap urusan. Pencitraan ini memberikan dampak positif bagi LDK dalam mengembangkan sayap dakwahnya.
Spiritual and Strong

Seorang kader dakwah harus memiliki kedekatan kepada Allah dengan baik. Kedekatan ini terpancar dari sikap yang tampak. Seorang yang dekat dengan Allah biasanya mempunyai kharisma yang kuat. Kedekatan ini bisa diperoleh dengan banyaknya interaksi kader dengan Qur’an dan rutinya ibadah kepada Allah, terutama ibadah mahdah seperti shalat dan tilawah. Kekuatan spiritual ini sangat berdampak pada ketenangan diri dalam mengambil kebijakan. Salah seorang mantan kepala GAMAIS ITB pernah berkata kepada saya, bahwa sejak menjadi kepala GAMAIS ITB, jumlah tilawah beliau tidak pernah kurang dari 3 juz setiap hari. Seorang kepalda GAMAIS ITB lain bercerita, bahwa ia tidak mau memimpin sebuah rapat jika malamnya ia tidak shalat malam. Kedekatan ruhiyah adalah paramater keberhasilan dakwah, dan keberkahan dakwah yang kita lakukan sangat tergantung pada kedekatan kader kepada Allah.

Dampak langsung dari kekuatan spiritual ini adalah, ketenangan dan kedamaian dalam LDK, LDK akan tenang dan nyaman. Serta Allah senantiasa membukakan hati-hati kader kita untuk terus bergerak. Bergerak tanpa diperintah, bergerak dengan sepenuh hati dalam naungan Islam. Karena sesungguhnya Allah lah yang membukakan hati ini, dan Allah pulalah yang menyatukan hati ini. Hati kita dengan semua kader LDK, dan hati kader LDK dengan semua mahasiswa di kampus.

Selai itu kader dakwah harus berjiwa ksatria, pantang menyerah dan selalu optimis. Seorang kader dakwah tidak boleh berpikir negatif terhadap LDK nya. Anda harus menanamkan dalam pikiran anda bahwa andalah yang terbaik, dan LDK anda adalah yang terbaik. Dalam buku “the secret” yang pernah saya baca. Dikenal dengan istilah “law of attraction”, sebuah pemikiran bahwa alam akan memantulkan apa yang kita pikirkan dan alam akan mendukung apa yang kita inginkan.

Saya selalu mencoba membuat benak dan pikiran saya akan suatu hal yang positif, ketika awal saya menjadi kepala GAMAIS ITB, saya pernah berpikir bagaimana lembaga dakwah program studi dan lembaga dakwah fakultas bisa berjalan seiring dengan GAMAIS ITB. Saya selalu memikirkan ini dan menyampaikan juga gagasan saya ke kawan kawan yang lain, dan hasilnya setelah 6 bulan kami mengembang amanah di GAMAIS ITB cita-cita itu tercapai yang terbukti dengan suksesnya muktamar GAMAIS ITB, dimana saat itu pertama kali dalam sejarah GAMAIS ITB, visi, misi serta rancangan dakwah kita selama 6 tahun mendatang dipikirkan bersama antara GAMAIS pusat, Lembaga dakwah program studi, dan lembaga dakwah fakultas, dan kata ganti “kita” mulai muncul sebagai representatif dari GAMAIS pusat, Lembaga dakwah program studi, dan lembaga dakwah fakultas. Saat ini ketika disebut GAMAIS maka yang dimaksud adalah LDK, LDF, dan LDPS.

Seorang kader dakwah pun harus pantang menyerah dalam kegagalan. Sudah menjadi hal yang lumrah manusia gagal. Seorang yang hebat bukanlah seorang yang tidak pernah gagal akan tetapi seorang yang cepat bangkit dari kegagalan. Jika gagal membuat sebuah agenda, maka seorang kader dakwah harus cepat bangkit dan memulai merencanakan sebuah agenda yang lebih baik. Jika gagal mengajak seseorang untuk ikut mentoring, maka soerang kader dakwah harus cepat beralih ke target yang lain untuk di ajak mentoring.

Selain itu pandangan optimis harus terus ditanam dengan baik di pikiran setiap kader dakwah. Optimis bahwa LDK akan terus berkembang dan maju, optimis bahwa semua masalah bisa diselesaikan. Seorang Arya Sandhiyudha ( mantan ketua SALAM UI ) pernah berpesan pada saya “ingat, masalah bukan problem, tapi priority. Jadi selesaikan, jangan ditunda, apalagi dilimpahkan ke orang lain” . Seorang kader LDK juga harus bersikap positif terhadap semua tantangan yang dihadapi, karena dengan ujian dan tantangan lah. Diri ini akan semakin kuat dan berpengalaman.

Smile and Shinning
Ada dua buah kisah yang ingin saya sampaikan. Pertama, di sebuah siang hari di kota Jakarta, terjadi kemacetan yang sangat hebat di wilayah pusat kota. Saat itu seorang wanita membawa mobil seorang diri. Mungkin karena panas dan dirinya sedang penat akibat macet, ia tidak sengaja menabrak mobil di depannya. Kota Jakarta yang keras membuat pemilik mobil yang tertabrak turun dari mobil dan mendatangi wanita tersebut. Akan tetapi dengan kekuatan pengendalian diri yang baik, perempuan itu menghadapi pemilik mobil yang ditabraknya, seorang pria besar mendatangi wanita itu dengan marah-marah. Tidak dengan emosi, tapi dengan senyuman yang lebar, wanita itu meminta maaf. Karena senyuman inilah, hati pria tersebut melunak, dan sepakat tidak memperpanjang masalah.

Kisah kedua, Tahun lalu saya berkesempatan mengunjungi kota Singapura, teringat sebuah pemandangan yang menurut saya, hasil didikan yang baik dari pihak manajemen hotel ke seorang receptionist . Saya melihat seorang receptionist terlibat sedikit konflik dengan tamu hotel, saya melihat dari jauh, dan tampak tamu hotel tersebut complain akibat misscommunication. Konflik dapat ia selesaikan dengan sedikit ancaman dari tamu hotel tersebut, yang membuat saya takjub adalah, sang receptionist tersebut bisa melayani tamu hotel selanjutnya dengan senyum lebar, seakan-akan tidak terjadi apa-apa sebelumnya.
Dari dua kisah ini saya melihat ada kekuatan tersendiri serta pencitraan yang ramah dan lembut dengan kekuatan senyuman yang lebar dan bercahaya. Senyuman pula yang membuat hati ini senantiasa berbahagia dalam keadaan sulit sekalipun. Sebuah perusahaan jasa mendidik staffnya untuk selalu tersenyum agar pelayanan yang diberikan bisa maksimal.

Kader dakwah butuh memiliki senyuman yang ikhlas. Kekuatan senyuman ini kadang lebih kuat ketimbang rangkaian kata berbobot yang disusun semalaman. Diskusi saya belum lama ini dengan salah seorang ketua himpunan memberikan saya masukan bahwa ternyata mahasiswa ini butuh kader kita yang ramah dan lembut dan kerap menyapa dan mengajak mahasiswa lain untuk kebaikan. Mereka butuh disapa, mereka butuh di datangi dan mereka butuh untuk diajak dengan keramahan dan kelembutan diri seorang kader.
Sahabat aktifis LDK di seluruh Indonesia, seringkali LDK menjadi tidak berkembang karena bingung merangkai sebuah agenda. Akan tetapi, perlu dipahami bahwa berapa banyak agenda yang dibuat tidak menjadi parameter utama dalam keberhasilan LDK. Kedekatan dan meningkatnya kapasitas serta jumlah kaderlah yang menjadi parameter utama. Seringkali pula kita terlalu mengandalkan media-media mahal sebagai alat publikasi, padahal kita punya kader LDK yang bisa digunakan untuk media promosi paling baik untuk LDK.

Kader adalah wajah sebuah LDK. Baiknya citra kader maka baiklah citra LDK, buruknya citra kader maka buruk pula citra LDK. Untuk itulah pembinaan terhadap kader harus diprioritaskan. Karena kader lah yang membuat LDK maju atau mundur.
----------
Terinspirasi dari pelayan starbucks dan receptionist hotel di Singapura, serta pemikiran seorang Rendy Saputra ( ketua majelis syuro GAMAIS ITB )


Lembaga Dakwah Kampus ( LDK ) harus kaya
Teringat sebuah buku tulisan Ustadz Abdullah Gymnastiar yang berjudul “saya tidak ingin kaya , tapi saya harus kaya”. Sebuah buku yang banyak menggugah diri untuk bisa berpenghasilan lebih, dan membuat pola pikir LDK GAMAIS menjadi produktif dalam menghasilkan uang. Buku ini yang saya pahami adalah bagaimana seorang muslim harus punya kemandirian atau bahkan keberlimpahan finansial, dengan harapan bisa mencukupi dirinya dan membantu umat lainnya. Seorang muslim yang kuat secara finansial tidak akan menyusahkan orang lain, dan dengan kekuatan finansial pula diri ini dan Islam akan indepeden dan bebas dari intervensi. Dengan menjadi kaya pula, kekuatan Dakwah akan berkembang dan bisa memberikan pengaruh lebih. Teringat bagaimana dalam sebuah perperangan di zaman Rasul, dimana perang tersebut hanya di biayai oleh 2 orang sahabat. Perperangan yang pastinya sangat mahal, disini menindikasikan bahwa Rasul dan sahabat-sahabat saat itu adalah orang yang memiliki kekayaan yang besar dan bisa digunakan untuk dakwah. Maka, tidak heran jika pada masa sayyidina umar sebagai khalifah, terjadi ekspansi besar-besaran untuk menyebarkan Islam.

Teringat buku “financial revolution” yang ditulis oleh motivator handal Tung Desem Waringin. Dalam pelatihan yang beliau laksanakan, dan kebetulan saya mengikutinya, beliau mengatakan kaya itu adalah bakat. Dalam benak saat itu, saya langsung bertanya dalam diri “apakah saya punya bakat kaya?”. Lebih lanjut Mr. Tung ( sapaan beliau di luar negeri ). Mengatakan bahwa bakat seorang yang kaya akan tampak pada kerja keras, etos kerja yang kuat, disiplin serta pola hidup hemat yang dijalankan. Banyak buku saat ini bercerita tentang orang sukses, beberapa mengisahkan bagaimana seseorang yang dulu hanya penjaga toilet , akan tetapi saat ini menjadi orang terkaya dunia, dan kisah-kisah lainnya.

Memang kaya adalah bakat, dalam sebuah LDK pun, bakat kaya ini harus di tanamkan. Dimulai dengan hal yang sederhana tentunya, seperti membuat kader bisa memproduktifkan semua bidang atau departemen di LDK untuk menghasilkan uang. Agenda kaderisasi harus surplus, agenda syiar harus jadi lumbung penghasil dana, atau membiasakan kader selalu berorientasi profit pada setiap agenda dakwah. Begitu pula departemen ekonomi atau keuangan yang ada, harus bisa berpikir bagaimana membangun aset yang bisa menjadi mesin uang LDK, membangun jiwa entrepeurner di semua kader, atau dengan optimalisasi dana dalam setiap kegiatan, kader jangan berpikir boros terhadap uang-harus hemat-, dengan dana yang cukup bisa menghasilkan agenda dakwah yang semarak.

Life style kader LDK bisa mengikuti life style para sahabat, seperti yang kita ketahui sayyidina umar memiliki perkebunan yang luas, atau Nabi Muhammad yang juga aktif berdagang. Akan tetapi, kenapa dalam sirah nabawiyah selalu dikisahkan akan sederhananya para sahabat. Atau dalam sebah kisah Rasul berkata “aku tidak bisa tenang tidur hingga semua harta ku hari ini telah aku berikan kepada umat”. Disinilah jiwa yang perlu dikembangkan bagi para kader dakwah, seoserang yang kaya dengan life style sederhana. Rasul berkata seperti itu karena Rasul sudah punya aset yang bisa menjadi mesin uang yang dimana besok akan menghasilkan kembali uang untuk dirinya, dan digunakan kembali untuk berdakwah. Ketika kita meyakini bahwa semua nikmat ini dari Allah, maka kenapa kita harus takut menginfakannnya di jalan Allah.

Dalam perkembangan pergerakan dakwah kampus, kekuatan finansial memegang peranan penting terhadap sukses atau gagalnya sebuah agenda dakwah. Sebuah agenda dakwah bisa berjalan dengan baik karena adanya faktor dana, dan tidak sedikit pula, agenda dakwah gagal karena keterbatasan dana. Maka, dengan ini kita bisa sepakat bahwa LDK butuh dana, dan konsekuensinya adalah LDK harus kaya. Karena dengan uang ini pula gerak dakwah kita bisa semakin masif.
Sebuah pertanyaan muncul. Bagaimana LDK mencari dana ?

Pengamatan saya keliling Indonesia, menilai bahwa LDK saat ini masih mengandalkan sponsorship ke perusahaan untuk penggalangan dana. Jujur, saya kurang sepakat dengan pencarian dana dengan sponsorship, selain membunuh jiwa entrepeurner kader, dan membuat LDK jadi bergantungan, saya berani berkata bahwa sponsorship ini seperti “pengemis elit”. Secara fakta kita sama saja dengan meminta-minta, walau dikemas sedemikian hingga tampak elegan dan profesional. Membiasakan kader meminta ke perusahaan , sama saja menanamkan jiwa event organizer ke kader, dan ini adalah pembunuhan karakter seorang muslim. Islam mendidik umatnya untuk menjadi pengusaha, menjadi pedagang. Bukan , peminta-minta atau pengemis , seharusnya LDK yang membagi dan memberi uang ke pihak lain karena kekuatan finansial yang dimiliki.
Lalu harus bagaimana ?

Mulai lah dengan membuat sistem mesin uang yang produktif. Lalu mulai dengan membangun aset yang bisa menghasilkan uang di masa yang akan datang. Sulit memang, tapi karena sulit itulah kita disebut aktifis dakwah kampus. Membangun paradigma business man dimulai dari sebuah kalimat “uang ada dimana-mana”. Memang, uang itu ada dimana-mana, dan segala sesuatu yang kita lihat dan berada di sekililing kita saat ini bisa menjadi penghasil uang. Manusia hidup dengan berbagai masalah, dan mulailah mencari uang untuk LDK dari masalah yang biasa dihadapi oleh mahasiswa di kampus anda.

Mahasiswa seringkali telat bangun, sehingga tidak sempat sarapan sebelum berangkat ke kampus, LDK bisa berjualan kue atau donut atau mungkin sarapan ringan yang bisa dikonsumsi oleh mahasiswa di kelas. Jika jaringan “kue” ini berjalan, ini akan menghasilkan dana yang cukup banyak. Sebutlah, di sebuah kampus terdapat 30 kelas , jika satu kelas saja bisa untuk 5.000 rupiah maka sehari –dengan satu kali jualan- bisa menghasilkan 150.000 rupiah, jika dirutinkan bisa mencapai 3.000.000 rupiah dengan asumsi 5 hari sepekan untuk kuliah. Dan jangan lupa beri presentase keuntungan untuk para penjual-yang juga kader-, supaya bisa menjadi pemasukan juga buat mereka.

Mahasiswa seringkali malas untuk membeli pulsa di tempat yang jauh, mahasiswa ingin bisa mengisi pulsa di manapun dia berada, hanya dengan cukup berkata saja atau sms. LDK bisa bermain di ranah ini, kita mempunyai agen pulsa di setiap kelas. Keuntungan satu kali transaksi pembelian pulsa dengan nominal berapapun biasanya 2000 rupiah. Sebutlah kita 30 agen kelas, dan satu kelas terdiri dari 80 orang dan setengahnya ( 40 orang ) adalah pelanggan kita. Maka LDK akan punya 1200 pelanggan. Dengan asumsi setiap pelanggan melakukan transaksi satu kali satu bulan, maka setiap bulan LDK akan menghasilkan dana 2.400.000 rupiah. Besar bukan ? untuk LDK besar, sebutlah GAMAIS ITB yang punya 600-700 kader aktif, bisa di beri arahan kepada semu kader untuk beli pulsa di counter LDK.

Mahasiswa pun banyak pergi ke tukang fotokopi untuk mem-fotokopi buku kuliah. LDK bisa bermain pula dalam hal pelayanan ini. Kerjasama dengan fotokopi tertentu agar bersedia memberikan harga murah, dan kita menjual nya ke mahasiswa dengan keuntungan sedikit, sebutlah harga asli dari fotokopi adalah 55 rupiah per halaman, kita bisa menjual ke mahasiswa 70 rupiah per halaman. 70 rupiah yang juga cukup murah sebetulnya untuk mahasiswa. Seorang kader bisa aktif dalam melayani mahasiswa lain di kelasnya sebagai ahli fotokopi, baik fotokopi buku, bahan kuliah, dan lainnya.

Mahasiswa biasanya malas membaca buku yang tebal-tebal, mahasiswa lebih senang membaca buku atau catatan yang tipis dan to the point atau bahkan dengan hanya membaca soal dan pembahasan soal tahun sebelumnya. LDK di dukung dengan Lembaga dakwah program studi (jurusan), bisa membuat bundel soal ujian, yang berisikan soal serta pembahasan UTS dan UAS semua mata kuliah tahun-tahun sebelumnya, dan dikemas dengan baik, akan menghasilkan dana yang besar. GAMAIS ITB rutin membuat bundel soal untuk tingkat 1 di ITB ( mata kuliah tingkat 1 di ITB sama semua ), dan saat ini bundel soal menjadi salah satu andalan kami dalam menghasilkan uang.

Untuk tahap yang lebih advance, LDK bisa bermain dalam pembangunan aset, contoh jasa pelayanan LCD (infokus), memiliki mesin pencetak pin, mesin percetakan koneksi atau jasa percetakan publikasi, kedai atau warung ( di Universitas Hasanudin contohnya ), penerbit buku, atau aset-aset lainnya yang bisa jadi mesin penghasil uang. Memang untuk tahap yang advance ini butuh dana lebih. Akan tetapi jika kader LDK bisa membuat business plan yang baik, saya yakin banyak pihak yang bersedia memberikan modal kepada kita.
Hal-hal kecil yang bisa menghasilkan uang hanya merupakan beberapa contoh, LDK harus mampu menganalisis dan membuat varian metode untuk menghasilkan uang. Dengan cara seperti ini, jiwa pengusaha bisa dikembangkan di LDK, dan bakat “kaya” ini dikembangkan, sebagai lembaga kaderisasi, LDK harus mampu membentuk karakter kader sesuai dengan kecendrungan ia di masa yang akan datang.

Saudaraku , kader LDK yang disayangi Allah, kekuatan ekonomi saat in i menjadi kebutuhan mutlak. LDK harus kaya bukanlah sebuah angan-angan, saya yakin kita semua bisa, dimulai dari mengubah paradigma “uang ada dimana-mana” lalu melihat peluang yang ada di sekitar. Kekuatan finansial ini yang membuat LDK independen, mandiri, kuat, dan bisa melebarkan pengaruh dakwah di kampus.
----------


Kader Berbasis Kompetensi untuk LDK berbasis kompetensi
Nama* IPK Lama Lulus
Iyan 2,4 5 tahun
Dani 3,01 5,5 tahun
Eko 2,99 4,5 tahun
Wawan 2,75 6 tahun
Herman 2,67 7 tahun
Syahban 2,86 6,5 tahun
Raka 3,13 5 tahun
Rozi 2,23 5,5 tahun
Daftar Indeks Prestasi Kumulatif ( IPK ) Alumni LDK
( *nama diatas hanya fiktif belaka, kalau terjadi kesamaan, saya mohon maaf, kebetulan nama tersebut yang terbesit )

Tabel IPK ini tampak biasa jika tidak diperhatikan judul dari tabelnya. Bukan hal yang tidak mungkin tabel ini merupakan cerminan dari LDK yang saat ini menjadi tempat kita beramal. Terkadang terbesit dalam benak diri saya, apakah ini pantas menjadi tabel hasil IPK alumni LDK. Tidak ada yang perlu disesalkan memang dan tidak ada yang perlu dipermasalahkan. Allah memang telah menciptakan manusia dengan Qadr’Nya, dan manusia patut bersyukur atas segala sesuatu yang terjadi pada diri ini. Kegagalan memang bukan akhir dari segalannya, kegagalan hanya merupakan persimpangan dari sebuah jalan keberhasilan.

Akan tetapi, saya mencoba mengingat kembali, kalimat terakhir yang diucapkan ibu saya ketika melepas saya kuliah di ITB. “belajat yang rajin yah nak, supaya cepat lulus dengan nilai baik”. Sebuah do’a dan harapan dari seorang orang tua yang mendidik saya sejak lahir hingga 17 tahun sebelum saya memasuki dunia kampus. Sebuah harapan dari seorang bunda ini selalu saya pegang dengan sebaik-baiknya, karena bagaimana pun ini adalah amanah dari orang tua. Sejauh yang saya pahami kita wajib mematuhi orang tua selama ia tidak mengajak untuk menyekutukan Allah.

Setelah mengecek beberapa orang lain, di LDK kami, ternyata memang 100 % orang tua mengharapkan anaknya menjadi pribadi yang sukses dengan parameter cepat lulus dan IP memuaskan. Tanggung jawab yang orang tua berikan ini perlu kita sempurnakan dengan mewujudkannya.

Saya teringat kata-kata Kepala GAMAIS terdahulu, Romzy Rio Wibawa, bahwa kompetensi sangat penting dalam dakwah, kompetensi yang dimaksud adalah kompetensi akademik, menurut beliau , LDK harusnya bisa membentuk alumni LDK yang kuat secara pemikiran dakwah dan pemahaman akademik yang baik. Karena pada hakekatnya, peran kita sebagai da’i akan terus berlanjut hingga pasca kampus, dan jika di harmonikan dengan dakwah pascakampus, maka kader yang memilki kompetensi inilah yang akan bisa banyak bicara di dunia luar.

Kader LDK perlu ditempa dan dibina secara berkelanjutan dalam bidang kompetensi akademik ini. Pengembangan manusia yang ada di LDK harus menyesuaikan dengan keadaan akademik. Kondisi kampus yang kian fluktuatif dan menuntut kita untuk mampu memiliki IP tinggi dan lulus cepat perlulah diadaptasikan segera dalam LDK. Selain itu kader yang baik secara akademik juga bisa sebagai media dakwah yang andal. Kader bisa menjadi teladan yang baik, dan menjadi cerminan Islam yang positif, di mata mahasiswa dan dosen. Berbagai hal yang bisa dilakukan LDK dalam meningkatkan kemampuan kader dalam bidang akademik akan saya bahas pada bagian selanjutnya.

Peran LDK dalam meningkatkan kompetensi akademik kader
Pembentukan jiwa peduli pada akademik adalah poin pertama yang perlu ditanamkan. Ada sebuah anekdot pada masa dahulu, “kader yang IP nya dibawah 2,00 adalah mujahid, dan kader yang IP nya diatas 3,00 adalah pengkhianat”. Sebuah anekdot yang menurut saya sudah tidak relevan saat ini. Perlu perubahan paradigma menjadi, “kader yang IP nya dibawah 2,00 adalah kader yang tidak amanah, dan kader yang IP nya diatas 3,00 adalah kader yang produktif”. Kenapa saya berani mengatakan begitu, karena memang ketika IP kita bermasalah, ada sesuatu yang salah pada manajemen diri, atau tidak optimal dalam merencanakan hidup.

Saya tadi pagi mendapat sebuah nasehat yang sangat penting dari saudara seperjuangan saya, cecep pratama, beliau mengatakan, kita perlu mengevaluasi diri kita, apakah sudah optimal dalam memanfaatkan potensi serta kesempatan yang Allah berikan. Apakah tidur kita masih diatas 4 jam, ataukah masi banyak waktu yang tersita untuk hal sia-sia, apakah rapat kita masih belum efektif dan terlalu lama, apakah pikiran kita sudah fokus dalam melakukan segala sesuatu. Menjadi sebuah renungan untuk saya pribadi, bahwa sebetulnya tidak ada kata “tidak bisa” dalam hidup ini karena sudah default setting nya manusia diciptakan sebagai umat yang terbaik.

Poin yang kedua adalah percepatan massa kepengurusan LDK, masih banyak LDK yang saya amati, memiliki ketua LDK yang sudah tingkat 5, dimana seharusnya beliau sudah lulus,atau tingkat 4 yang dimana seharusnya beliau sudah memikirkan tugas akhir agar cepat lulus. Percepatan LDK diperlukan untuk menyesuaikan kondisi ini, menurut hemat saya, untuk kampus yang standar lulusnya adalah 4 tahun, maka ketua LDK baiknya adalah tingkat 3, sehingga beliau punya waktu yang cukup untuk segera mempersiapkan tugas akhir dan lulus dengan nilai yang memuaskan.

Orientasi awal kader
LDK perlu menanamkan paradigma ini sejak dini.SO atau study oriented bukanlah hal yang salah, akan tetapi study oriented only barulah merupakan hal yang salah. Orientasi akademik agar di masa yang akan datang bisa menjadi seorang ahli yang cakap dalam bidangnya ( baca : profesional ). Orientasi ini juga akan berdampak pada masa depan yang akan dipilih, kader memiliki kebebasan untuk memilih ingin menjadi apa di masa yang akan datang. Akan tetapi kaderisasi LDK perlu mengarahkan sejak dini, kemana saja arah-arah profesi yang bisa dipilih oleh kader. Maka dari itu, LDK perlu sejak dini meningatkan kader untuk membuat perencanaan hidup jangka panjang, dan menentukan profesi apa yang akan ia pilih. Selanjutnya LDK perlu menyiapkan kader agar betul-betul memahami bidang yang digeluti dengan berbagai program yang mendukung.


Tutorial akademik
Tutorial ini diberikan kepada semua kader yang membutuhkan bimbingan akademik, di kampus kami, tutorial ini bahkan menjadi agenda syiar yang menarik banyak perhatian mahasiswa. Tutorial diberikan secara masif atau individual atau kelompok kecil, dengan harapan bisa meningkatkan kepahaman kader akan ilmu di bangku kuliah dan berdampak pada peningkatan IP. Tutorial ini diberikan oleh kader yang lebih senior kepada kader yang junior.

Bundel Catatan dan Bundel Soal
Bentuk perangkat pendukung untuk kader, berupa catatan kuliah secara lengkap dari semester 1 hingga semester akhir. Bundel catatan ini sangat berguna untuk memudahkan kader belajar dengan maksimal.Selain itu kader perlu dibantu dari referensi soal-soal terdahulu, dengan harapan -lagi lagi- agar kader lebih mudah belajar. Bundel catatan dan bundel soal ini bisa di eksekusi oleh lembaga dakwah program studi dan bisa menjadi lahan penghasil uang.

Inkubasi Kader IP bermasalah
Seorang kader yang karena beban dakwah yang berat berakibat IP menurun perlu di inkubasi atau di berhentikan sementara dari tanggung jawab dakwah. Sebagai seorang pimpinan dakwah , merupakan sebuah tindakan yang zalim jika memberikan tanggung jawab yang berakibatkan kader harus mengorbankan dirinya. Dengan memberhentikan sementara ditambah beberapa treatment tertentu, kader bisa mengalami ekskalasi IP di semester selanjutnya.

Sistem Pemantauan IP
LDK perlu membuat mekanisme yang bijak ( karena menurut sebagian orang membicarakan IP adalah hal yang tabu ) untuk mengecek IP kader. Data hasil akademik kader perlu di miliki pimpinan LDK sebagai landasan menentukan program dakwah selanjutnya dan untuk memberikan penanganan khusus kepada kader yang memerlukan dukungan.

Informasi Lomba penelitian ilmiah
Kader dakwah perlu berkontribusi lebih dalam lomba-lomba ilmiah dan teknologi. LDK perlu memfasilitasi dengan bentuk memberikan informasi terkait lomba-lomba yang akan diadakan. Sehingga kader bisa termotivasi untuk bisa berkarya, lomba-lomba ini bisa juga sebagai wadah untuk menyalurkan kreatifitas kader yang memang tidak cocok beramal dengan cara konvensional.

Informasi beasiswa
Memberikan informasi beasiswa untuk pasca sarjana perlu difasilitasi oleh LDK, karena paradigma dakwah kita adalah melayani, maka dengan informasi ini LDK menjalani fungsinya melayani kadernya. Kader terkadang, karena aktifitas yang terlalu banyak seringkali sulit mendapat akses informasi dalam bidang studi, disinilah salah satu peran LDK dalam memberikan pelayanannya.

Career Sharing
Sebuah kampus, biasanya memiliki alumni yang sudah terhimpun dalam sebuah wadah, jika ternyata pun belum, LDK bisa menghubungi alumni tertentu untuk memberikan pengalamannya dalam meniti karir. LDK bisa memanfaatkan agenda career sharing ini dalam rangka meningkatkan wawasan kader tentang kehidupan pasca kampus, dan membuat kader bisa memilih karir mana yang cocok untuk dirinya. Apakah sebagai profesional, pengusaha, dosen atau politikus. Dengan wawasan yang luas kader akan lebih bijak dalam memilih.

Kelompok Kompetensi
Pada tahap akhir kuliah, atau sebutlah tingkat 3 dan tingkat 4. Perlu dibentuk semacam kelompok kompetensi. Kelompok kompetensi ini bisa saja dibagi menjadi beberapa bidang utama, seperti kelompok dosen, kelompok pengusaha, kelompok politikus, dan kelompok profesional. Dalam kelompok ini adalah kader-kader yang memiliki minat akan rencana pasca kampus yang sama. Sebagai contoh, kelompok dosen, adalah sekelompok kader yang berminat untuk menjadi dosen, dan dikelompok ini kader bisa bertukar informasi mengenai beasiswa pascasarjana, atau mengikuti TOEFL course bersama, dan menyiapkan diri agar bisa mengikuti program pascasarjana dan doktoral yang akan memudahkan jalannya untuk menjadi dosen. Contoh kedua, kelompok pengusaha, di kelompok ini kader bisa belajar bagaimana memulai bisnis, jika perlu kader langsung membuat bisnis sendiri, dan di dalam kelompok ini pula kader bisa share dengan sesama atau dengan pengusaha yang sudah sukses.

Departemen Akademik dan Profesi
Sebagai wadah formal agar semua rencana diatas bisa berjalan, maka perlu didirikan departemen khusus yang menangani masalah akademik dan profesi, di GAMAIS ITB ada sektor akademik dan profesi yang bertujuan sebagai wadah penguatan akademik kader dan wadah syiar akademik. Dengan adanya departemen ini, kegiatan LDK kian seimbang antara dakwah dan akademik, dan saya sangat meyakini dengan adanya kekuatan akademik yang menunjang dakwah, membuat LDK semakin diakui sebagai lembaga kaderisasi yang baik dan produktif, karena LDK bisa membentuk cendikiawan muslim.

LDK berbasis kompetensi
Peran LDK yang semakin luas seiring berjalannya perkembangan dakwah menuntut LDK bergerak secara lebih moderat dan dinamis. Pergerakan dakwah secara konvensional memang perlu diakui masih sangat layak untuk digunakan, akan tetapi perlu adanya pembaharuan gerak dakwah agar LDK tidak jenuh dan inovasi menjadi lebih luas. Sebuah konsep yang kini dikembangkan adalah LDK berbasis kompetensi.
Kompetensi dalam hal ini, bukan lain adalah kekuatan akademik yang didapat di bangku kuliah. Pola dakwah berbasis kompetensi ini bisa berkembang pesat pada tingkatan dakwah yang lebih kecil lingkupnya yakni, lingkup fakultas atau program studi. Akan tetapi jika di kemas dan dirangkai sedemikian hingga, kompetensi ini bisa digunakan untuk dakwah skala kampus.

Dakwah berbasis kompetensi adalah dakwah yang menggunakan ilmu yang didapat dikuliah sebagai pendekatan dalam dakwah, lebih dari itu, pendekatan karakteristik di sebuah faklutas yang lebih homogen menjadi pendekatan yang tepat dan lebih mengena sasaran. Dari penjelasan tersebut, ada dua poin penting, yakni ilmu dan karakter dari sebuah fakultas atau program studi.
Pertama, Pendekatan ilmu untuk dakwah berbasis kompetensi. Saya akan langsung memberikan sebuah contoh di kampus ITB.
Program studi elektro teknik dan teknik informatika membuat sebuah agenda bernama pesantren insinyur, yang memang agenda utamanya adalah hal hal terkait ilmu yang akan diperoleh di bangku kuliah, seperti programming, bedah CPU, dan sebagainya.
Fakultas MIPA ITB membuat agenda paket pembinaan mahasiswa baru dengan branding “muslim scientist institute”, dengan pendekatan ke-MIPA-an ini mahasiswa akan merasa lebih nyambung , karena materi yang diberikan memang lebih mengarah bagaimana membentuk muslim scientist.
Mentoring di Program Studi Teknik Planologi, terdapat satu kelompok mentoring di program studi ini, dan kebetulan saya yang membina. Saya mencoba membuat kurikulum khusus mahasiswa program studi Teknik Planologi, kurikulum tersebut antara lain memberikan materi seperti, perencanaan diri, peran islam dalam planologi, bijak dalam mengambil kebijakan, urgensi data ( wawasan ) dalam kehidupa, dan tema-tema lain yang memang sesuai dengan pola pikir mahasiswa Teknik Planologi. Dalam mentoring ini saya sesekali mengundang dosen untuk mengisi materi tertentu.
Fakultas Farmasi membuat seminar khusus tentang pengobatan nabi, dalam seminar ini dijelaskan bagaimana pengobatan zaman nabi yang masih relevan dengan zaman saat ini dan dibandingkan pula dengan obat-obatan kimia yang ada saat ini.
Sekolah Bisnis Manajemen ITB, sebuah fakultas yang belajar tentang bisnis dan manajemen, membawa agenda Talkshow Ekonomi syariah dan dikemas sedimikian hingga menjadi sebuah agenda dakwah yang sangat baik.
Diatas merupakan sebua contoh sederhana dari menggunakan basis kompetensi sebagai pendekatan dalam dakwah. Selain kita bisa berdakwah, konsep ini memberikan kita kesempatan dalam memahami dan mendalami ilmu yang kita miliki. Dengan pendekatan ilmu ini, objek dakwah akan lebih mudah memahami Islam, karena berhubungan dengan apa yang didapat di kuliah.

Pendekatan ilmu sebagai basis dakwah bisa pula diaplikasikan dalam bentuk perangkat pendukung dakwah. Saya akan memberikan contoh. Kader yang berada di program studi Teknik Planologi dan Matematik bisa menerapkan ilmu sampling data dan statistik dalam aktifitas dakwah, yakni ketika sedang mencari data.
Kader yang berada di Program Studi Teknik Informatika bisa mengaplikasikan ilmu yang didapat di kuliah untuk membuat media dakwah yang high-tech. Seperti database online, sistem autodebet kas LDK, sistem pendeteksi IP kader dan sebagainya.
Kader yang berada di Program Studi Seni rupa bisa memanfaatkan bakatnya untuk mendesain media dakwah yang komunikatif, kader yang di desain interior bisa mendesain bentuk sekretariat kader yang estetis, kader yang di seni kriya tekstil bisa mengaplikasikan ilmu nya dalam mendesain busana LDK, di GAMAIS sedang di desain batik GAMAIS oleh salah satu kader kami.

Dalam agenda bakti sosial contohnya, LDK diharapkan tidak menyumbangkan hal-hal yang organisasi lain bisa menyumbang. LDK kan berbasis di kampus, dimana ada mahasiswa di dalamnya. Seharusnya Bakti sosial yang dilakukan LDK juga berbasis kompetensi, seperti membuat jembatan penghubung dua desa, membuat instalasi air bersih, memberikan alat pengelolaan kotoran hewan menjadi pupuk, pengadaan internet, penyuluhan pengelolaan pertanian, dan lain sebagainya.Masih banyak lagi tentunya, ide-ide yang bisa berkembang dari kompetensi yang dimiliki, semakin banyak kita mendalami ilmu di bangku kuliah, tentunya, ide-ide segar lainnya akan bermunculan.

Kedua, dakwah kompetensi berbasiskan karakter mahasiswa. Setiap fakultas atau program studi memiliki ke-khas-an dari karakter mahasiswa, dan LDK bisa menggunakan homogenitas ini sebagai sebuah pendekatan yang tepat untuk berdakwah. Sebagai contoh, mahasiswa di program studi teknik mesin di dominasi oleh pria, sehingga pendekatan dakwah yang dilakukan harus “cowo banget”, seperti naik gunung , olahraga, atau bermain arum jeram. Mahasiswa di program studi farmasi di dominasi oleh perempuan, maka dakwah yang dilakukan bisa dengan memasak bersama dan lainnya. Mahasiswa di teknik industri dikenal rapih dan elegan, maka dakwah yang dilakukan harus sesuai, seperti mengadakan agenda ta’lim di ruang serbaguna yang didukung oleh air conditioner.Mahasiswa di program studi Teknik geologi, adalah mahasiswa yang keras dan di dominasi pula oleh pria, pendekatan dakwah yang menguras fisik dan keringat bisa jadi tepat untuk program studi ini.

Berbagai macam pendekatan yang ada dan sesuai dengan karakter mahasiswa bisa menjadi sebuah cara dakwah yang tepat, oleh karena itu penguatan lembaga dakwah di tingkat fakultas atau program studi menjadi kebutuhan yang tidak bisa di elakkan.

Dari kader berbasis kompetensi menuju LDK berbasis kompetensi, inilah sebuah pola dan paradigma dakwah kampus baru yang akan sesuai di masa yang akan datang. LDK harus mampu beradaptasi secara dini, agar LDK tetap menjadi terdepan dalam dakwah di kampus.


Membangun Jaringan LDK
Jaringan merupakan perangkat pendukung dari luar yang bisa menunjang perkembangan LDK. Daya dukung eksternal ini membuat LDK bisa bergerak lebih leluasa dan mengembangkan sayap dakwahnya ke jangkauan yang sebelumnya belum bisa diraih. Seorang individu akan bisa berkembang jika didukung oleh lingkungan, begitu pula LDK, akan bisa berkembang jika didukung oleh berbagai pihak.

Dalam konteks membangun kapasitas komunitas, dimana komunitas dalam hal ini adalah LDK, perlu adanya dukungan dan bantuan dari pihak eksternal yang serumpun atau sepahaman dengan komunitas yang dibangun. Dengan adanya dukungan ini, diharapkan komunitas yang ada bisa berkembang, dan dikemudian hari bisa mandiri.

Dari dua paragraf diatas saya ingin menekankan bahwa adanya perluasan jaringan dalam konteks ke-LDK-an bukan dalam rangka mengekspansi dakwah. Akan tetapi, perluasan jaringan adalah sebuah usaha untuk menguatkan kondisi internal LDK. Adanya jaringan ini pula, untuk LDK yang sudah mandiri berperan dalam menyebarkan ilmu serta pengalaman yang dimiliki agar komunitas LDK yang bernaung di bawah panji FSLDK bisa berkembang, dengan harapan tentunya semua LDK bisa mandiri.

Ada dua kisah yang ingin saya sampaikan, kisah tentang perbandingan dua LDK yang kondisinya jauh berbeda dalam memanfaatkan jaringan yang ada. Kisah pertama, berasal dari sebuah LDK di pelosok pulau sulawesi. Berasal dari sebuah kampus kecil yang jumlah mahasiswa dan kadernya sedikit. LDK ini baru berdiri sekitar 1-2 tahun lamanya. Perkembangan LDK ini pada awalnya cukup lambat, karena memang daya dukung internal dan eksternal yang masih kurang. Seiring berjalannya waktu, LDK ini mulai mengenal adanya FSLDK, dan mulailah LDK ini membuka jaringan dakwah. Mereka mulai mengikuti konsolidasi, mengikuti beberapa pelatihan-pelatihan manajemen LDK, dan mereka juga didukung oleh LDK lain dalam hal penyediaan mentor. Hingga suatu ketika, salah seorang kader dari LDK ini hadir di forum silahturahim nasional di bandar lampung, dan ia bertemu dengan banyak kader LDK dari seluruh penjuru tanah air. Saya mencoba mengamati kader ini, ia begitu antusias belajar dan berdiskusi dengan para kader LDK lain yang hadir. Ketika bertemu dengan saya pun, ia tampak seperti ingin mengambil semua pemahaman yang saya miliki. Semangat menuntut ilmu dan memperluas relasi menjadi tujuan dia datang ke Lampung. Pertemuan kami tidak lama di Lampung, dan bisa dikatakan saya kehilangan kontak beliau untuk waktu yang cukup lama.

Hingga pada sebuah pagi, ada sebuah sms yang datang ke telepon genggam saya; “ ass.wr.wb. akh yusuf apa kabarnya ? gimana keadaan gamais ? masih dahsyat kah ? alhamdulillah akh, hari ini LDK kami akan mengadakan daurah rekruitment anggota, insya Allah yang daftar sekitar 50an orang, do’akan ya akh, oh ya, syukron untuk ilmunya”. Pesan seperti ini membuat saya mengucapkan syukur yang amat mendalam, ternyata beliau bisa menjadi pionir dakwah di kampusnya.

Kisah kedua, saya akan bercerita tentang LDK kami, GAMAIS ITB. Pada akhir kepengurusan kepala GAMAIS sebelum saya, Tri Aji Nugroho, kami angkatan 2005 GAMAIS yang akan menggantikan kepengurusan sebelumnya melakukan konsolidasi, dimana salah satu hasil konsolidasi yang ada memutuskan bahwa, kita akan menyiapkan BPH GAMAIS sebelum adanya suksesi, dengan asumsi siapapun yang terpilih sebagai kepala akan didukung dan sudah siapnya sistem dan tim BPH. Karena segala keterbatasan ilmu yang ada, kami mencoba belajar dari luar kampus ITB. Saat itu wacana yang kami bangun adalah ingin memperkuat basis fakultas dan program studi yang notabene nya adalah garda terdepan dalam dakwah. GAMAIS sebelumnya tidak pernah punya Lembaga dakwah fakultas dan hubungan GAMAIS dan lembaga dakwah program studi tidak erat. Oleh karena itu kami mencoba belajar ke beberapa orang yang kami nilai kampusnya memiliki kekuatan dalam konsep Lembaga dakwah fakultas, maka kami menghubungi ketua LDK Salam UI, kak Budi dan ketua Insani UNDIP, kak Raka. Kami coba diskusi dan mengambil beberapa atau lebih tepatnya banyak data-data dari mereka.

Selanjutnya hasil informasi yang kami dapatkan di bahas di rapat angkatan 2005, dan menghasilkan sebuah pola gerak baru dalam dakwah GAMAIS. Pola dakwah yang saat ini kami gunakan ternyata sangat bermanfaat bagi kami agar kuat secara internal dan mampu berkontribusi secara nasional. Gabungan konsep UI dan UNDIP kami satukan menjadi sebuah konsep post-modern movement ( saya menyebutnya seperti itu ) di GAMAIS ITB.
Dari dua cerita diatas, bisa saya ambil sebuah pelajaran bahwa kekuatan jaringan lah yang akan membuat sebuah komunitas kuat, baik LDK yang masih mula maupun LDK yang sudah mandiri. Berikutnya saya akan paparkan jaringan apa saja yang perlu dimiliki oleh LDK dan bagaimana membangun dan menjaga jaringan tersebut agar bisa bermanfaat untuk perkembangan LDK.

Jaringan Internal Kampus
Jaringan yang berada di dalam kampus, dalam hal ini ada dua elemen utama yakni pihak lembaga mahasiswa, pihak birokrasi. Dua elemen ini tentu memiliki pendekatan yang berbeda, oleh karena itu kader harus bisa bersikap dan bertindak secara tepat, agar tujuan dari pembangunan jaringan ini bisa tercapai.
Lembaga Mahasiswa

Setiap kampus biasanya memiliki banyak lembaga atau kelompok kegiatan mahasiswa. Sering kita kenal adanya Bedan Eksekutif Mahasiswa, Unit kegiatan mahasiswa, Himpuna mahasiswa Program Studi dan lainnya. Pada setiap lembaga ini ada sebuah keunikan atau kelebihan dari masing-masing lembaga. Sebutlah BEM yang berkompeten di bidang politik dan sosial masyarakat, Unit kebudayaan yang senantiasa melestarikan kebudayaan asal daerah mereka, Koperasi mahasiswa yang mendidik anggotanya agar bisa berbisnis, atau himpunan mahasiswa yang bergerak di bidang keprofesian.

Dalam hal kerjasama, ada hal yang perlu dipahami, yakni adanya sebuah kepentingan bersama atau timbal balik dari sebuah hubungan. Dua hal ini menjadi pegangan dasar kita dalam membangun jaringan terutama ke lembaga mahasiswa yang erat dengan sebuah hubungan perkawanan dan persahabatan.

Kepentingan bersama adalah sebuah tujuan atau sebuah nilai yang sama-sama disepakati oleh semua pihak yang berkerja sama. Sebagai contoh LDK berkerjasama dengan semua lembaga dakwah agama lain dalam hal meningkatkan moralitas mahasiswa. Adanya kepentingan bersama ini bisa melewati batas-batas ideologi yang dianut oleh lembaga yang ada. Atau contoh lain, dalam meningkatkan kesadaran berislam mahasiswa, dimana salah satu bagian dari iman adalah kebersihan, LDK bisa saja mengadakan kerjasama dengan himpunan teknik lingkungan dan teknik arsitektur dalam rangka pengadaan tempat sampah yang baik dan meningkatkan kesadaran untuk membuang sampah pada tempatnya. Kepentingan bersama ini bisa dibentuk sedemikian hingga, mulai dari kepentingan yang kontemporer maupun kepentingan yang untuk kebutuhan jangka panjang.

Timbal balik dari sebuah hubungan adalah bentuk hubungan yang sifatnya seperti simbiosis, dalam hubungan kerjasama ini ada dua macam simbiosis yang boleh dibangun, yakni simbiosis mutualisme, dimana dua pihak sama-sama untung dan yang kedua simbiosis komensalisme, yakni salah satu pihak untung dan pihak lain tidak dirugikan atau dirugikan dalam skala kecil saja. Pada simbiosis mutualisme sebuah hubungan bisa saja LDK membuat hubungan dengan unit sosial masyarakat dalam hal aksi bersama, dimana unit sosial masyarakat yang menyiapkan segala persiapan aksi dan LDK hanya menyiapkan massa aksi untuk digerakkan. Dalam kasus kedua, yakni simbiosis komensalisme sebuauh kerjasama, sebisa mungkin LDK menjadi pihak yang membuat pihak lain untung sedangkan LDK tidak rugi, paradigma ini perlu dibangun, karena LDK harus bisa berperan dalam melayani dan memberi. LDK tidak boleh membebani dan merugikan lembaga lain. LDK harus mampu memberi dan melayani. Sebagai contoh, kerjasama membangun akhlak anggota sebuah lembaga, dimana LDK harus mensuplai pemateri-pemateri untuk mengisi acara-acara keagamaan di lembaga tersebut, atau untuk membantu memperkenalkan unit seni yang masi baru berdiri, LDK memberikan kesempatan kepada unit tersebut untuk tampil di acara LDK.

Membangun jaringan di lembaga mahasiswa bisa menjadi langkah awal bagi LDK dalam menguatkan eksistensinya di kampus. Ada sebuah pesan yang sangat baik dari salah seorang kawan saya, “massa kampus hanya butuh di sapa”. Benar sekali menurut saya, dan saya mencoba mengimplementasikannya dengan menyempatkan untuk datang ke unit dan himpunan mahasiswa dan menyapa dan bertemu sejenak ( sekitar 5-10 menit ) dengan ketua dan anggotanya. Saya lakukan secara rutin, dan mnegakibatkan GAMAIS ITB semakin dikenal dan dekat dengan masyarakat kampus yang notabenenya adalah objek dakwah GAMAIS ITB.
Birokrasi Kampus

Birokrasi kampus dalam konteks yang akan kita bahas meliputi rektorat kampus berserta jajarannya hingga tingkat program studi. Paradigma yang perlu dibangun adalah “mereka adalah orang tua kita di kampus”. Sehingga kita perlu bersikap selayaknya seorang anak yang patuh kepada orang tua dan mengingatkan mereka ketika mereka salah. Dengan paradigma ini kita akan bisa membangun jaringan dengan pendekatan personal dan berazaskan manfaat.

Sebagai langkah awal tentunya dimulai dengan pendekatan personal, saya terkadang silahturahim ke birokrasi tanpa sebuah tujuan atau agenda khusus, saya hadir dan diskusi saja tentang apapun yang tepat,karena kita berasal dari LDK maka pembahasan bisa seputar mahasiswa, moralitas, akademik, atau tentang agama islam. Dengan silahturahim tanpa agenda khusus ini diharapkan bisa timbul kepercayaan satu sama lain dan kedekatan hati. Sehingga dalam melakukan sebuah pengajuan atau bantuan-bantuan tertentu di waktu lain akan lebih mudah. LDK harus mampu memberikan pandangan “terpercaya dan bertanggung jawab” kepada semua birokrasi kampus. Selanjutnya hubungan harus dijaga dengan tetap mempertahankan citra positif terpercaya dan bertanggung jawab melekat, sehingga dukungan bisa senantiasa diberikan kepada setiap agenda LDK. 

Jaringan Eksternal Kampus
Membangun jaringan di luar kampus sangat luas lingkupnya, karena pada hakikatnya LDK bisa bebas membuka jaringan kemana saja dan tergantung kebutuhan yang dimiliki, atau bahkan sebetulnya membuka jaringan keluar kampus tidak perlu berlandaskan kebutuhan kontemporer saja, ada kalanya dengan tujuan memperluas tali silahturahim. Dalam membangun jaringan keluar kampus, ada satu hal yang perlu dipahami oleh kader dan LDK yakni sikap profesional, karena LDK akan bertemu langsung dengan pihak-pihak yang memiliki kebiasaan yang berbeda sama sekali dengan kebiasaan yang mungkin sudah menjadi karakter dari kader LDK. Kebiasaan positif yang umum perlu disiapkan dengan baik, seperti berpakaian rapih, selalu tepat waktu dan terjadwal dalam melakukan aktifitas, bertanggung jawab terhadap kesepakatan, dan selalu berpikir terbuka.

Membangun jaringan keluar kampus, saya coba bagi ke dalam lima bagian, yakni media, perusahaan, tokoh publik, instansi lain, dan FSLDK. Pada bagian selanjutnya akan saya paparkan beberapa tips dan pemanfaatan dari jaringan yang dibangun.

Media Media merupakan corong opini bagi publik, media saat ini yang menentukan dan membuat sugesti publik. Media bisa mengubah paradigma negatif jadi positif begitupula sebaliknya.Pembangunan jaringan ke media dapat dimulai dari media lokal, seperti media cetak lokal, radio lokal maupun stasiun televisi lokal. Pembangunan jaringan ke media relatif mudah, karena pada dasarnya media pun juga memerlukan berita. Bentuk kerjasama yang dilakukan sangat bervariatif, seperti pelatihan jurnalistik, pelatihan media, atau berkerjasama dalam hal promosi dan publikasi kegiatan, hingga aktif nulis di media lokal. Saya pernah berkunjung ke Kota Banten, di sana, media cetak lokal, kerap di isi oleh tulisan para kader dakwah.

Perusahaan
Membangun jaringan ke perusahaan biasanya dimulai dari sebuah kegiatan, dimana kegiatan tersebut membutuhkan dana sponsorship. Terkadang, memang butuh momen untuk memulai sesuatu, dalam pendekatan ke perusahaan hal yang perlu di catat adalah profesionalitas dari kader LDK. Dimana kepercayaan yang diberikan dari perusahaan kepada LDK harus dijaga sebaik mungkin. Dengan menjaga kepercayaan dan hubungan ke perusahaan, LDK akan bisa bekerja sama kembali di waktu yang akan datang.

Tokoh Publik
Tokoh publik ialah seseorang yang memiliki kompetensi di bidang tertentu dan diakui oleh masyarakat. LDK perlu melakukan pendekatan ke tokoh publik karena selain ilu yang di miliki oleh seorang tokoh-dimana kader bisa belajar kepada beliau-, LDK juga bisa memanfaatkan pengaruh seorang tokoh untuk memperlancar agenda LDK. Pendekatan yang sering digunakan untuk membangun jaringan tokoh ialah dengan kunjungan langsung ke tokoh tersebut. Mulailah dengan silahturahim biasa, dan diskusi. Pada kunjungan tersebut jangan lupa untuk memperkenalkan LDK agar tokoh tersebut aware dengan LDK kita.

Instansi Lainnya
Instansi lainnya ini sangat beraneka ragam, seperti LSM, yayasan, lembaga pemerintahan, partai politik, organisasi masyarakat, dan lain sebagainya. Pendekatan umum dalam membangun jaringan ini bermula dari dua hal, pertama, kunjungan silahturahim , dan kedua, dengan melakukan agenda bersama, seperti baksos bersama atau aksi bersama. Pemanfaatan jaringan ini beraneka ragam, tergantung jenis dari lembaga.

Forum Silahturahim Lembaga Dakwah Kampus ( FSLDK )
FSLDK tempat berhimpunnya LDK seluruh Indonesia, FSLDK yang saat ini di koordinir oleh PUSKOMNAS ( pusat komunikasi nasional )Universitas Airlangga bergerak dalam memajukan gerak dakwah seluruh LDK se-Indonesia dengan harapan kualitas LDK se-Indonesia bisa kuat sehingga dakwah kampus di Indonesia dapat menjalankan fungsinya dalam mensuplai alumni yang berafliasi terhadap Islam. Sebuah LDK terutama LDK yang baru berdiri sangat saya sarankan menginduk kepada FSLDK. Dengan menginduknya sebuah LDK pada FSLDK biasanya mengalami percepatan, karena di FSLDK ini LDK dari berbagai kampus akan bertemu dan kita bisa berdiskusi sehingga kita bisa menerapkan informasi yang di dapat dari LDK lain untuk diterapkan di LDK kita. Di setiap daerah terdapat perpanjangan tangan FSLDK, yakni PUSKOMDA ( pusta komunikasi daerah ), LDK anda bisa menghubungi PUSKOMDA untuk memudahkan jalur komunikasi ke jaringan LDK terbesar ini.
Banyak sekali memang, jaringan yang bisa dibangun oleh LDK dalam rangka menguatkan barisan dakwah di kampus. Pada bagian selanjutnya saya akan memberikan paparan bagaimana memperluas dan menjaga jaringan yang ada.


Memperluas jaringan
Ada empat tahapan dalam memperluas jaringan , tahapan ini dapat dimanfaatkan sebagai sebuah prosedur yang sederhana agar memperluas jaringan ini bisa sesuai dan terarah. 
Pertama, Target, LDK perlu memiliki sasaran dalam membangun jaringan, seperti membuat list sasaran jaringan serta nomor telepon yang bisa dihubungi dan penggunaan pemanfaatan jaringan. List data ini juga perlu di tambah dengan target deadline waktu yang dibutuhkan untuk membangun jaringan. Sehingga peningkatan jaringan dapat meningkat dengan pesat. Mulailah dengan membangun jaringan yang terdekat baik dari segi afliasi dan gerografis, karena biasanya lebih mudah dan mendukung agenda LDK. Setelah semua jaringan tedekat sudah di bangun barulah LDK membangun jaringan ke pihak yang lebih variatif. Contoh dari jaringan terdekat seperti sesama lembaga dakwah, media massa islam, MUI, perusahaan islam atau ormas Islam.

Kedua, Visit, kunjungi langsung pihak tersebut, kunjungan ini bertujuan agar tali silahturahim terbentuk, dengan kunjungan pula kita bisa berdiskusi dan menemukan persamaan antar lembaga agar kerjasama dakwah kedepan bisa lebih mudah dan mendapatkan kesepahaman bersama. 

Ketiga, Mail, yakni mengirimkan pesan dengan berbagai media, seperti sms, email, atau surat. Pengiriman pesan ini bisa secara informal seperti pesan selamat idul fitri atau mengucapkan selamat ulang tahun maupun pesan formal seperti undangan untuk menghadiri acara LDK atau penyampaian hasil atau dokumentasi agenda LDK agar dapat lebih mengenal dan memberikan citra LDK, dan

Keempat, Self exist, atau memperkenalkan diri, terkadang LDK perlu memperkenalkan diri ke masyarakat luas dengan citra yang postif, dengan memperkenalkan LDK baik via media atau dengan kunjungan langsung.


Menjaga Jaringan
Ada empat hal yang perlu diperhatikan dalam membangun jaringan dakwah, ke-empat ini perlu dilakukan secara berkala agar jaringan ini senantiasa terjaga. Database, setelah membangun jaringan, sebuah LDK perlu memiliki database yang rapih terkait jaringan yang telah ada. Dengan database yang rapih, penggunaan jaringan akan lebih mudah digunakan dan penurunan data jaringan ke pengganti kita akan lebih mudah, sehingga jaringan akan senantiasa terjaga untuk waku yang lama. Contact, dengan database yang ada LDK perlu menghubungi secara rutin jaringan yang telah dibangun, sehingga jaringan yang telah dibangun tetap senantiasa mengingat LDK kita. Update, perlu adanya pemutakhiran data agar jaringan tetap terjaga dan tidak terjadi kehilangan kontak dan kerjasama dapat senantiasa berjalan. Feedback, umpan balik yang bisa berupa dalam bentuk memanfaatkan jaringan seperti kerjasama kegiatan. Dengan adanya umpan balik ini akan terbentuk kedekatan dan kekuatan jaringan lebih baik.

Sahabat aktifis LDK yang dicintai Allah, seorang bijak pernah berkata “saat ini bukan lagi masa nya tim yang kuat akan tetapi saat ini masa jaringan yang kuat”. Kekuatan jaringanlah yang akan bisa membuat gerak LDK menjadi lebih masif dan kuat. Membangun jaringan bukan lagi sebuah agenda prioritas dua, akan tetapi merupakan agenda yang perlu diprioritas untuk kemajuan LDK.


Propaganda dan Corong Opini Kampus
Syiar islam mempunyai peran dalam menyampaikan dan menyebarluaskan serta menginternalisasikan nilai-nilai islam kepada masyarakat. Nilai-nilai dalam hal ini adalah sebuah pesan yang hendak disampaikan. Konteks dakwah selalu seputar hal ini, menyampaikan dan menyampaikan. LDK sebagai sebuah instansi dakwah pun juga mempunyai peran dalam hal ini, lebih daripada itu, LDK harus bisa memberikan sebuah informasi yang valid dan atraktif sehingga dapat membimbing masyarakat kampus kearah yang lebih baik.

Salah satu peran LDK adalah sebagai corong opini, yakni menjadi pusat informasi yang akan dijadikan sebuah kesepakatan bersama bagi masyarakat kampus. Permainan dalam hal corong opini ini menjadi sebuah poin unik tersendiri, karena perang pemikiran akan sangat mungkin terjadi disini.

Trendsetter, mungkin ini istilah yang tepat untuk mewakili bagaimana pengaruh propaganda yang dilakukan LDK bisa dikatakan berhasil. Pembuat trend di kampus, jika LDK melakukan suatu hal, maka massa kampus akan mengikutinya, sebagai contoh, dengan kader LDK yang banyak, dan banyak pula yang ikut mentoring, LDK bisa membuat sebuah sugesti publik, “kalau tidak ikut mentoring berarti belum mahasiswa”. Disinilah salah satu peran LDK dalam menebarkan pemikirannnya di kampus.

Dalam menggerakan roda mesin propaganda ini, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Karena memang tidak bisa dengan sekedar menyampaikan dengan media biasa saja untuk mempermainkan sugesti dan justifikasi publik, akan tetapi butuh sedikit rekayasa sehingga dakwah ini tampak berseni.


Konten
Konten atau isi dari pesan yang akan dibawa. Tentu kita akan membawa sesuatu yang ada dalam kandungan Al Qur’an yang tidak pernah akan basi hingga hari kiamat. Akan tetapi, kita juga perlu memperhatikan tema apa yang tepat untuk waktu tertentu, sehingga pesan yang disampaikan bisa tersampaikan dengan baik. Konten dari pesan perlu dikaji secara mendalam dengan menyesuaikan dengan kondisi masyarakat di kampus. LDK tidak bisa menyampaikan sesuatu yang terlalu berat untuk masyarakat kampus, karena akan kontraproduktif terhadap propaganda yang akan dilakukan.

Sebagai contoh, saat pekan ujian akhir, LDK membuat opini untuk UAS jujur, dengan berbagai media yang ada seperti baliho besar bertuliskan pesan-pesan untuk mengajak tidak menyontek ( contoh : “tuhan ada dimana-dimana”, “cheating is stealing, stealing is criminality”, atau “hargai hak paten jawaban ujian teman anda” dan ditambah dengan gambar-gambar yang menarik” ), atau buletin berisikan artikel atau komik kecil yang bisa menyampaikan pesan ini. Dengan menaruh semua propaganda ini di seluruh pelosok kampus,maka masyarakat kampus akan selalu terngiang. Tugas kita sebagai kader LDK adalah memastikan pesan yang kita yakini, tersampaikan ke gagasan pikiran masyarakat kampus, ketikan gagasan itu sudah ada maka keinginan untuk menjalankan akan lebih mudah untuk dilakukan.

Dalam menentukan konten yang ada bisa memperhatikan dua hal, pertama, preventif, yakni menyampaikan sebuah pesan sebelum sebuah momen atau sebelum ada isu yang berlawanan dengan isu yang akan kita bawa muncul. Sebagai contoh, propaganda Ramadhan penuh ibadah, atau UAS jujur. Kedua, reaktif, yakni menyampaikan sebuah pesan ketika sebuah isu lain merebak, sebutlah di sebuah kampus muncul isu bahwa sex bebas itu boleh-boleh saja asal aman. Maka LDK wajib memberikan isu baru untuk meng-counter isu yang ada. Melawan isu negatif dengan cara membuat isu postifnya, sebutlah untuk isu sex bebas, kita bisa bermain dengan isu “jaga dirimu hingga malam pertama”, atau “jomblo itu mulia” dan isu lainnya yang bisa mengcounter isu sex bebas dengan harapan masyarakat bisa menjauhkan diri dari hal tersebut.

Penentuan isu yang akan dibawa perlu diperhatikan dengan matang, karena salah langkah saja dalam menentukan isu yang akan digagas, bisa berdampak pada beberapa hal seperti citra negatif LDK, atau kontraproduktif terhadap agenda syiar atau bahkan hilangnya kepercayaan dari objek dakwah. Dengan menentukan topik yang tepat dan sesuai kebutuhan membaut isu yang diangkat lebih tepat dan kena sasaran.


Pengemasan
Man score what on his eyes. Manusia menilai apa yang tampak pada matanya. Mata sebagai pintu masuk informasi terbanyak bagi manusia. Ketika mata mengatakan “oke” pada suatu hal, biasanya hati pun juga akan berkata demikian. Inilah menjadi poin penting dalam memarketisasi sebuah hal. Banyak sekali contoh-contoh akan pentingnya pengemasan. Karena dengan pengemasan yang baik akan menambah “added value” pada hal yang akan disampaikan.

Pada konteks propaganda dan opini, maksud dari pengemasan ini terkait pada permainan kata-kata dan media visual. Setiap kata yang keluar dalam penyampaian opini perlu diseleksi sedemikian hingga, agar memberikan dampak yang sesuai dengan harapan. Terkadang kita mengeluarkan kata-kata yang tidak sesuai dengan kondisi objek dakwah atau dengan kata lain “terlalu tinggi” untuk di cerna oleh objek dakwah.

Sebagai contoh, “semangat ukhwah dalam islam”, atau “menata bangsa dengan menata fikroh”, atau kalimat panjang nan berbobot seperti “pemuda masa depan bangsa yang ber-izzah dan memilki kafaah islam yang syumul”. Beberapa contoh propaganda ini seringkali muncul, baik dalam bentuk spanduk, poster atau ceramah yang ditujukan untuk masyarak luas. Dakwahlah dengan bahasa kaumnya. Sebuah konsep marketing yang sangat sederhana. Maksud dari padanan kata ini bukan sekedar bahasanya saja, akan tetapi termasuk juga cara dan pemilihan kata serta metode yang tepat.

Ada contoh cukup menarik dari beberapa propaganda di Indonesia, yang ternyata berdampak sangat baik terhadap para objeknya. Mungkin anda semua pernah mendengar “yang muda yang tidak dipercaya”, sejatinya dampak dari tulsan ini adalah memicu para kaum muda untuk lebih berkarya dan lebih bertanggung jawab., atau “connecting people” jargon sebuah produsen telepon seluler yang menggambarkan bagaimana pentingnya komunikasi dengan sesama manusia.

Propaganda juga bisa dilakukan dengan membuat “urban spread” yakni penyebarluasan isu melalui “mouth to mouth”, mulut ke mulut, ini bisa menjadi metode yang mulai dikenal ke-efektifannya, karena karakter dasar manusia adalah ingin selalu berkomunikasi, dan penyebaran dengan cara ini sangat cepat untuk bisa tersebar luas ke banyak orang. Permulaan dari cara ini dengan memulai dari diskusi diskusi kecil dengan simpul-simpul masa. Selanjutnya isu yang kita bawa akan tersebar secara alamiah dengan media orang-orang yang telah kita ajak diskusi.

Penyebaran opini di sebuah kampus diharapkan bisa membentuk justifikasi publik sesuai dengan apa yang diharapkan oleh kita. Permainan seni dalam propaganda ini sangat memainkan peran penting dalam menjalankan amanah kita sebagai pemberi petunjuk bagi masyarakat kampus. Ketika opini dan gagasan pikiran objek dakwah kita bisa sepemikiran dengan kita. Tugas kita sebagai lembaga dakwah kampus dalam membimbing menuju cahaya islam akan lebih mudah untuk dijalankan.

Legalisasi Lembaga Dakwah Kampus
Organisasi dibentuk dalam rangka memudahkan dan memformalkan kelompok untuk mencapai sebuah tujuan. Dalam amal jama’i, adanya wajihah atau organisasi atau lembaga bertujuan agar dakwah yang dilakukan lebih diakui dan memiliki kekuatan dan pengakuan oleh objek dakwah. Pada tahap lanjut dari dakwah kampus. Pembuatan sebuah organisasi formal terkait dakwah adalah sebuah tuntutan tersendiri. Pada tulisan ini saya akan mencoba memberikan sedikit gambaran terkait bagaimana melegalkan LDK. Tulisan ini saya coba paparkan setelah diskusi dengan para kader LDK yang telah berhasil melegalkan LDK nya. Ada 4 tahap yang akan kita lalui dalam pelegalan LDK, dan 4 tahap ini tidak dibatasi oleh waktu, lama tidaknya waktu yang diperlukan untuk melegalkan LDK sangat ditentukan oleh kondisi internal kampus.

Tahap Persiapan
Pada tahap persiapan ini ada dua tahap yang perlu dilakukan, yakni pembentukan tim inti dan yang kedua penyaringan masa simpatisan. Saya akan mencoba memaparkan keduanya. Pertama, pembentukan tim inti. Tim inti merupakan kelompok terkecil yang akan berperan sebagai founding fathers, konseptor, dan berperan sebagai sumbu berputarnya roda dakwah. Anggota tim inti berasal dari orang-orang yang peduli dan ingin melakukan dakwah denagan perngorbanan maksimal. Pada kondisi dimana LDK belum ada, mungkin akan sulit untuk menemukan banyak orang yang mau berpikir tentang dakwah, adanya tim inti yang kecil ini diharapkan bisa memudahkan langkah awal dalam menyusun rencana dakwah. Komposisi dari tim ini sebetulnya bebas jumlahnya, akan tetapi sebisa mungkin di usahakan dengan komposisi mahasiswa di sebuah kampus. Sebutlah di ITB yang didominasi oleh pria, jumla tim inti LDK kami adalah 3 ikhwan dan 2 akhwat. Pada kampus lain yang jumlah perempuan lebih banyak, bisa jadi komposisi tim inti ini 2 ikhwan dan 3 akhwat. Selain mempertimbangkan jumlah, tim inti diharapkan bisa mewakili kompetensi tertentu, sebutlah di tim ini ada seorang yang ahli manajemen, ada yang ahli qur’an ada yang ahli dalam hal diplomasi dan sebagainya. 

Komposisi berdasarkan karakter perlu juga diperhatikan. Menurut buku personality plus, ada empat tipikal manusia, korelis, melankolis, sanguinis, dan plegmatis. Jika memungkinkan tim inti terdiri dari orang-orang yang berbeda karakter, agar keseimbangan dan dinamisasi pemikiran dan kebijakan bisa berjalan.
Kedua, menyaring massa simpatisan. Setelah tim inti ada dan berjalan dengan rutin, baik pembinaan maupun konsolidasi dakwahnya. Tim inti ini perlu melebarkan sayapnya dengan menghimpun orang-orang yang sekiranya mau bergabung dengan barisan dakwah ini. Saya sering menyebutnya dengan istilah ring dua. Ring dua ini adalah orang-orang yang akan mendukung pergerakan dakwah kita di kampus. Karena dakwah ini masih dalam tahap awal yang belum stabil, serta dakwah yang kita jalankan ini diyakini akan terus bergerak kedepan. Maka ring dua dari barisan dakwah ini perlulah orang-orang yang memiliki keahlian tertentu. Sebagaimana zaman rasul, dimana dalam barisan beliau ada ahli perang seperti hamzah bin abdul muthalib, ada seorang pemimpin ulung sekaliber umar bin khattab, ada seorang yang cerdas seperti ali bin abi thalib, ada seorang yang kaya raya seperti mushaf bin umair, dan sebagainya. Dalam konteks saat ini, kita perlu orang yang pandai berorganisasi, cerdas dan berwawasan, bakat dalam seni dan desain, bisa berbagai softskill lainnya. 

Pertimbangan kedua selain kompetensi, perlu juga orang-orang berpengaruh dalam barisan dakwah ini. Pada zaman rasulullah, abu bakar ash shiddiq adalah seorang ternama, usman bin affan adalah seorang yang dikenal luas, khalid bin walid adalah seorang jendral besar. Orang-orang yang berpengaruh ini akan menguatkan barisan dakwah kita juga, dan dengan pengaruhnya akan bisa menarik simatisan objek dakwah yang lain. Selain menyiapkan ring dua, kita juga perlu mendefinisikan orang-orang yang sekiranya simpatik dengan apa yang kita lakukan, maksud dari simpatik ini adalah, mereka mendukung akan tetapi belum bersedia aktif. Dakwah pun juga butuh orang-orang yang siap mendukung agenda dakwah kita, minimal hadir dalam agenda yang kita adakan.

Tahap eksistensi
Pada tahap ini , barisan kader dakwah ini mulai menunjukkan keberadaanya di kampus. Dengan harapan bisa mendapat dukungan dari banyak pihak terkait untuk memudahkan legalisasi lembaga dakwah kampus. Ada dua cara yang bisa dilakukan. 
Pertama¸sebagai teladan di kampus. Teladan dan idola dalam banyak hal. Teladan dalam hal akademik biasanya hal yang mudah dilakukan, hanya dengan menunjukkan bahwa kita bisa berprestasi dengan IP yang sangat memuaskan. Selain itu dengan prestasi memenangi kompetisi yang bergengsi, selain itu perlu juga seorang yang pandai berolahraga. Dengan banyaknya teladan serta prestasi yang dilakukan, akan memudahkan gerak dakwah kedepannya. Karena citra positif dan inklusif telah dibentuk dengan memanfaatkan kader kita sebagai mareketer dakwah kita.

Kedua, melalui agenda agenda kecil dan medioker yang bersifat rutin. Hal yang paling mudah dibuat adalah kajian atau ta’lim serta media cetak seperti buletin atau mading. Agenda yang dilakukan adalah agenda yag tidak memerlukan legalisasi dari kampus. Sehingga kita bebas mengadakan kegiatan dengen leluasa. Dengan adanya agenda yang rutin ini, massa kampus yang juga objek dakwah kita akan mulai sadar dan peka, bahwa ada sekelompok orang peduli akan Islam.

Dengan kedua metode pendekatan ini, diharapkan kelompok barisan dakwah kita bisa mulai dikenal dengan citra positif tentunya, sehingga ketika tahap legalisasi melalui birokasi dimulai, kita sudah bisa mendapatkan dukungan dari orang banyak.

Tahap birokrasi
Secara umum ada dua pendekatan yang perlu dilakukan dalam tahap akhir, yakni legalisasi birokrasi. Pendekatan birokrasi kampus, dan birokras mahasiswa. Pada beberapa kampus, diperlukan legalisasi kampus untuk mengesahkan sebuah LDK, pada kampus lain cukup hanya dengan legalisasi dari legislatif mahasiswa bisa mengesahkan sebuah LDK. Pada bagian ini akan saya coba paparkan keduanya.

Birokrasi kampus. Birokrasi kampus disini adalah pihak yang berwenang dalam menentukan kebijakan terkait kemahasiswaan. Pendekatan pertama yang perlu dilakukan adalah melalui dosen. Dosen diperlukan sebagai pembina dari sebuah LDK, walau sebuah LDK belum legal, kita juga perlu adanya dosen pembimbing dengan harapan bisa sebagai pendukung kita di kalangan dosen lainnya. Dukungan moril dari seorang dosen sangat diharapkan, selain itu dosen juga bisa memberikan kita tips terkait apa yang perlu dilakukan untuk melegalkan dan memajukan LDK. Semakin banyak dosen yang terlibat akan semakin baik untuk perjungan kita.

Pendekatan selanjutnya kepada wakil rektor bidang kemahasiswaan. Biasanya wakil rektor bidang kemahasiswaan adalah pengambil kebijakan dalam hal yang berhubungan dengan kegiatan mahasiswa. Pendekatan kepada beliau adalah langkah strategis yang perlu dilakukan. Dengan meyakinkan beliau bahwa adanya lembaga dakwah adalah sebuah hal yang positif. Pola pola pendekatan ke pihak birokrasi ini perlu beberapa trik, antara lain.
1. Silahtirahim dan diskusi, kunjungan kepada beliau dalam rangka memberikan gambaran akan pemikiran kita dan memahami bagaimana pola pikir seorang dosen atau pihak birokrasi lainnya. Sehingga, kita bisa melakukan pendekatan selanjutnya sesuai dengan pola pikir beliau.
2. Melibatkan dalam agenda kita. Melibatkan dalam hal ini, tidak hanya sebatas sebagai peserta, akan tetapi juga sebagai pemateri atau pengisi dari agenda yang kita adakan. Dengan mengikuti agenda kita, harapannya beliau bisa merasakan manfaat serta adanya rasa memiliki dari barisan dakwah kita.
3. Menunjukkan data serta fakta. Dalam kampus yang serba ilmiah, diperlukan data penunjang yang bisa meyakinkan kepada pihak birokrat bahwa, kampus kita butuh LDK. Data pendukung ini bisa berupa survei, seperti survei, tingkat ketepatan shalat wajib mahasiswa, atau angka moralitas mahasiswa, dan sebagainya. Dengan data yang valid, akan memudahkan proses diplomasi kita dalam melegalkan LDK.
Melalui pendekatan ke birokrasi ini diharapkan pemegang kebijakan di kampus bisa melegalkan LDK kita dan memberikan fasilitas yang layak serta dukungan moril dan materil kepada LDK.

Selain pendekatan ke birokrasi kampus, diperlukan juga pendekatan ke birokasi mahasiswa, dalam hal ini senat mahasiswa atau kongres mahasiswa, atau posisi legislatif dalam organisasi kemahasiswaan. Pendekatan ke legislatif mahasiswa ini perlu proses yang tidak bisa dipastikan. Karena terkadang sangat bergantung pada siapa yang berada di posisi legislatif tersebut. Pada dasarnya mekanisme diskusilah yang dijalankan. Biasanya legalisasi ini bisa melalui sidang kongres mahasiswa. Oleh karena itu kita juga perlu bersilahturahim dengan seluruh anggota kongres mahasiswa serta ketua-ketua organisasi mahasiswa lainnnya, agar apa yang kita perjuangankan dapat didukung oleh mereka.

Tahap penyesuaian bentuk
Tahap terakhir, setelah LDK dilegalkan, baik melalui birokrasi kampus maupun birokrasi mahasiswa, kita perlu menentukan bentuk LDK yang sesuai. Ada beberapa bentuk LDK yang pernah saya amati ada di Indonesia.
Pertama, LDK sebagai unit kegiatan mahasiswa, dimana LDK sebagai unit kerohanian, ini adalah bentuk ideal dan paling diharapkan bisa terbentuk.
Kedua , LDK dengan bentuk Dewan kesejahteraan Masjid, bentuk LDK seperti ini, jika ternyata sudah ada LDK lain di kampus, atau pihak birokrasi ternyata tidak setuju dengan adanya LDK.
Ketiga , LDK berada di bawah Badan Eksekutif Mahasiswa ( BEM ), LDK ini berada di bawah departemen kerohanian di BEM.
Keempat, LDK berada di bawah Kongres mahasiswa atau legislatif mahasiswa, di bawah komisi ketuhanan yang maha esa.

Pada kondisi bisa memilih, bentuk LDK sebagai unit kegiatan mahasiswa merupakan bentuk yang telah terbukti ideal. Akan tetapi pada kondisi yang tidak memungkinkan untuk memilih, maka sebetulnya tidak jadi masalah bagaimana posisi atau bentuk LDK, tinggal bagaimana nanti kita optimalkan fungsi LDK sebaik mungkin agar fungsinya dalam melayani kebutuhan mahasiswa dapat berjalan.


Kekeluargaan dan Perasaan Positif
Karena kita keluarga, buat kami di GAMAIS tiga rangkaian kata ini memiliki makna yang mendalam. Lebih dari itu tiga kata ini adalah sebuah kekuatan yang menjadi landasan kami membangun semua organisasi dakwah ini. Bukan organisasi sepertinya, akan tetapi kami lebih memilih menyebutnya sebagai keluarga dakwah yang Allah berikan kepada kami. Allah mempertemukan kami di GAMAIS untuk berkeluarga dan merajut sebuah cita dakwah yang mulia. Kekeluargaan menjadi sebuah hal yang sangat berharga dalam sebuah organisasi dakwah. Mengingat bahwa organisasi bersifat non-profit dan mungkin bisa dianggap non-benefit dunia juga untuk beberapa orang.

Peran kekeluargaan ini sangat diharapkan untuk menyatukan hati hati kader dakwah. Perlu diingat semakin berkembangnya sebuah LDK, kader yang tergabung dalam barisan ini lebih bervariatif. Pada awal LDK bisa jadi yang masuk ke LDK adalah seorang yang telah terbina dan mampu membina dengan baik. Akan tetapi, dikala era semakin terbuka, kader yang masih jauh kepahamannya dari Islam pun semakin banyak yang masuk ke LDK. Seperti contoh kader kami masih ada yang belum berjilbab, masih ada yang merokok, masih ada yang banyak melakukan banyak maksiat. Akan tetapi, ini bukan lah hal yang harus diperdebatkan. Justru inilah hal yang harus disyukuri, kenapa ? karena ini menunjukkan dua hal. Pertama, LDK kita telah terbuka dan tidak tampak eksklusif, sehingga semakin banyak orang yang bersedia belajar di LDK kita. Kedua, kita masih harus bersyukur bahwa Allah masih membukakan hati mahasiswa di kampus kita untuk bisa bergabung di LDK. Perlu diingat kembali bahwa LDK bukan tempat orang yang sudah sholeh, akan tetapi LDK adalah tempat orang yang belajar untuk lebih dekat kepada Allah.

Membentuk nuansa keluarga, itulah sebuah langkah awal untuk membuat kader nyaman di LDK. Sehingga, kader akan menjadikan LDK sebagai “rumah” dimana ia berhimpun, bersantai, tempat kembali, tempat mengadu, tempat tertawa dan tempat berjuang bersama. Ketika nuansa nyaman ini bisa dibentuk, maka produktifitas kader pun akan mengikuti. Nuansa keluarga bisa dibentuk dari hal yang sangat sederhana, atau lebih tepatnya memang membentuk nuansa keluarga harus dengan cara yang sederhana.

GAMAIS ITB memulai itu dengan nama dari LDK kami, Keluarga Mahasiswa Islam, dan dengan sebutan pemimpin di LDK yakni, kepala GAMAIS. Keluarga dengan seorang kepala, sehingga perasaan bersahabat muncul sejak awal untuk semua kader kita. Proses kekeluargaan disini terus berlanjut dengan berbagai cara, seperti senantiasa menyebut nama panggilan atau bahkan panggilan akrab kepada sesama kader. Seperti saya punya banyak nama panggilan, ada yang memanggil saya yusuf, ridwan, uChup, bahkan sampai cuppy, buat saya hal ini menunjukan sebuah kedekatan emosional antara kader dakwah. Dalam kondisi dimana usia pemimpin dan kader yang hanya terpaut satu sampai dua tahun, maka cara kharismatik sulit dilakukan, cara yang paling tepat untuk menyentuh hati kader adalah dengan keakraban dan kedekatan emosional.

Terkadang-atau sering mungkin-saya memanggil rekan dakwah saya dengan sebutan “my bro”, atau “my lovely BPH ( badan pengurus harian )” atau “my man” atau “BPH ku tercinta”, mungkin anda akan tertawa melihat panggilan ini, akan tetapi disinilah rasa keluarga itu terbentuk. Biasanya di LDK ada departemen rumah tangga dan kekeluargaan, bisa jadi departemen ini melakukan banyak manuver untuk mendekatkan sesama kader. Saya berpesan kepada kepala departemen rumah tangga dan kekeluargaan GAMAIS, “tugas kamu cuma satu, yakni memastikan semua kader kita bahagia”.

Cara sederhana lainnya, adalah dengan saling mengucapkan dan mendo’akan saat milad salah seorang kader. Di sekre LDK kami, dipasang jadwal milad kader setiap bulan, dan ketika hari-H milad, kami saling memberitahukan bahwa salah seorang kader kita milad, dan hal ini membuat banyak kader kami yang meng-sms, menelepon atau mengucapkan langsung do’a maupun pesan kepada kader yang milad hari tersebut. Sehingga hal ini membuat beliau merasa dihargai dan merasa banyak memperhatikan.

Ingat, bahwa ini adalah lembaga non-profit, yang bisa kita berikan adalah sebanyak-sebanyak penghargaan, mulai dari hal sederhana hingga yang besar kepada kader, agar ia senantiasa nyaman dalam berdakwah. Selanjutnya, makan bersama, cara ini adalah cara paling sering kami lakukan, biasanya kami shalat magrib bersama di masjid Salman ITB, setelah itu kami pergi makan bersama ke tempat makan yang unik, enak atau khas. Bisa dikatakan setiap hari, kami makan bersama setelah magrib, jika keadaan tidak memungkinkan untuk mencari tempat makan yang jauh, kami biasa makan di tempat dekat masjid Salman ITB. Memang jika dilihat, ini merupakan cara yang sangat sederhana, akan tetapi, ketika prosesi makan bersama ini terjadi, kita jadi bisa mengenal satu sama lain, memahami sifat satu sama lain, saling memberikan kepercayaan dengan meminjamkan uang untuk membayar makan ( maklum mahasiswa, kadang sedang tidak ada uang di dompet ). Atau dalam beberapa momen, proses makan bersama ini menjadi momen untuk membuat ide ide yang dahsyat untuk strategi dakwah.

Dalam kesempatan lain, olahraga bersama seringkali dilakukan untuk meningkatkan rasa bahagia dan kekeluargaan. Pekan lalu, kami di BPH GAMAIS mencoba meningkatkan rasa kekeluargaan ini dengan jalan jalan ke kawah putih, ciwidey. Perjalanan ini memang hanya untuk BPH ( maklum kami menjabat 1,5 tahun, jadi butuh di charge ulang ). Dalam perjalanan yang direncanakan mendadak ini, kami memang tidak membuat agenda tertentu di sana, kami memang hanya berniat jalan jalan, tertawa bersama dan bersenang-senang bersama. Alhasil, perjalanan ini sangat berkesan, dimulai dari pemberangkatan, kami harus menunggu angkot hingga 2 jam, sehingga kami belajar saling toleransi, di perjalanan kami bercerita tentang diri masing masing, ada yang melawak, ada yang curhat tentang kuliah, ada yang hanya sekedar “nyampah”, dan kami tidak sama sekali membahas tentang GAMAIS. Sesampainya disana, kekeluargaan ini semakin terasa, ketika kami makan bersama, berfoto-foto di tengah kawah putih bersama hingga akhirnya kami pulang dalam keadaan yang sangat bahagia. Apa yang kami lakukan ini membuat BPH ini semakin dekat dan dekat dan dengan harapan bisa lebih produktif dalam beramal.

Rasa kekeluargaan ini perlu dimulai dengan saling mengenal, tidak hanya saling mengetahui nama dan nomor telepon, akan tetapi perkenalan yang lebih mendalam. Saya terbiasa memulai sebuah tim dengan perkenalan yang lebih mendalam, yakni dengan mengetahui asal kota, tanggal lahir, kisah dibalik nama kita / makna nama , ukuran sepatu, makanan kesukaan, pengalaman unik di masa lalu, dan hal hal pribadi yang sekiranya bisa disampaikan. Dengan mengenal siapa rekan dakwah kita, perasaan dan prasangka yang ada akan selalu positif, karena kita sangat memahami pola pikir saudara kita, dan terbentuk “chemistry” antara sesama kader dakwah.
Mungkin banyak lagi sebetulnya cara cara sederhana, seperti mengirim sms untuk membangunkan shalat tahajud, atau sms berisikan nasehat, atau mungkin sms hanya sekedar untuk menanyakan keadaan dan apakah kawan kita sudah makan siang ? sangat sederhana sekali. Apapun yang dilakukan tentunya dengan sebuah tujuan, yakni untuk memberikan kenyamanan bagi kader dalam beramal.

Dampak dari kekeluargaan adalah perasaan bahagia dari kader di LDK. Perasaan bahagia dalam menjalankan amanah dakwah adalah bekal yang sangat penting dalam beramal, karena ini bisa menjadi sebuah kekuatan dengan pendekatan manusiawi yang akan membuat dakwah kader lebih bertahan lama dan penuh semangat. Pendekatan dengan cara kekeluargaan saya nilai sangat efektif untuk kader dakwah yang baru memulai beramal dakwah, karena cara ini lebih manusiawi dan tidak abstrak. Terkadang pemimpin LDK mencoba mengembalikan semangat kader dengan nasehat dan ceramah dari seorang ustadz, memang ini bisa berhasil, tapi biasanya berhasil untuk kalangan kader yang sudah sangat paham akan dakwah, untuk kader awal, nasehat atau ceramah dari ustadz justru membuat ia jenuh dan malas.

Selanjutnya setelah nuansa kekeluargaan ini terbentuk, kita perlu membangun sebuah perasaan positif dari kader dakwah. Terinspirasi oleh buku Quantum Ikhlas, kader dakwah perlu memiliki keyakinan yang mendalam akan sebuah cita-cita dakwah. Perasaan positif merupakan sebuah perasaan bahagia dari diri ini ketika memikirkan atau menjalankan sesuatu. Berbeda dengan berpikir positif, dimana berpikir positif hanya berkutat di pikiran, akan tetapi pikiran positif belum tentu sesuai dengan perasaan kita. Manusia diciptakan dengan perasaan, manusia juga diciptakan dengan default setting yang sama, dan manusia selalu melangkah tergantung apa yang hati katakan, atau apa yang manusia fokuskan. Sebagai contoh dalam buku Quantum Ikhlas, seorang yang sedang ber-diet, senantiasa berpikiran bagaimana ia bisa langsing, bagaimana ia bisa melakukan diet dengan teratur, akan tetapi ia sebetulnya sedang berfokus atau hatinya sedang tertekan dengan kenyataan bahwa ia adalah seorang yang gemuk. Hal ini menurut buku tersebut, membuat orang tersebut tidak akan kurus, karena hatinya atau apanya yang difokuskan adalah kata “gemuk”.

Kita perlu menata pikiran dan hati kader kita bahwa “LDK kita sudah baik, dan kita ingin LDK kita lebih baik”. Maksudnya disini, hati kita berkata dan bersyukur bahwa LDK sudah baik, dan kita ingin LDK menjadi lebih baik”, sehingga terjadi sinkronisasi antara hati dan otak, atau istilahnya connection between mind and soul. Hal inilah yang membuat sebuah LDK menjadi besar, keyakinan bahwa LDK kita adalah LDK yang baik yang akan membuat LDK ini baik, dan keyakinan kita yang mengatakan bahwa LDK kita buruk, akan membuat LDK kita akan menjadi buruk. Inilah yang mungkin terjadi pada dunia ke-LDK-an di Indonesia, LDK yang masih mula, senantiasa mengatakan bahwa LDKnya masih kacau, sehingga ia akan fokus pada “kacau”, sedangkan LDK yang sudah mapan, senantiasa mengatakan bahwa LDKnya sudah baik, sehingga akan memberikan dampak, LDKnya menjadi “lebih baik”. Anda adalah apa yang anda pikirkan tentang anda, LDK anda adalah apa yang anda pikirkan tentang LDK anda.

Sedikit bercerita, ketika awal menjadi kepala GAMAIS, LDK kami memang sudah baik, akan tetapi kontribusi ke nasional masih jauh dari harapan, seketika saya memimpin, saya punya pikiran, bahwa GAMAIS adalah LDK yang akan menjadi pionir pergerakan LDK nasional, dan GAMAIS akan menjadi kiblat LDK nasional, perlu di ingat, bahwa saat itu kami belum apa-apa di dunia FSLDK. Akan tetapi keyakinan ini senantiasa saya pegang dan saya sampaikan ke kader, bahwa GAMAIS adalah LDK nasional, dan alhasil, saat ini kader kami punya tanggung jawab lebih untuk berkontribusi secara nasional, dan dalam waktu sekitar 6 bulan setelah saya memimpin, GAMAIS ITB telah menjadi rujukan untuk pengelolaan LDK se-Indonesia. Hanya dimulai dari keyakinan, dan perasaan positif dan bahagia ketika memikirkan hal tersebut.

Kader dakwah perlu ditata dan diajak untuk berpikiran dan berperasaan positif, ketika semua kader punya keyakinan bahwa kita bisa melakukan perubahan, ketika kader dakwah bisa memiliki keyakinan yang mendalam, bahwa ia mampu melakukan perubahan, bahwa LDK kita mampu berkarya, niscaya akan ada dorongan dari dalam, kekuatan dari hati dan bantuan dari Allah untuk memajukan dakwah ini. Karena orang besar dimulai dari pikiran dan jiwa yang besar, LDK besar juga dimulai kader yang senantiasa berpikir dan berjiwa besar.


Sinergisasi Lembaga Dakwah
Seiring berjalannya waktu, proses ekskalasi dakwah kian berlanjut. Dalam perubahannya, sering kali kita melihat bahwa LDK tidak bisa menampung seluruh kader dakwah yang ada, atau LDK tidak bisa menyentuh massa kampus, atau objek dakwah secara langsung. Pada kondisi dimana dua hal ini terjadi, seringkali mengakibatkan stagnandisasi dakwah yang berakibat pada lemahnya proses dinamisasi ke arah lebih baik dalam pergerakan dakwah.

Hakekatnya memang dakwah ini bisa menyentuh semua lapisan masyarakat kampus, bahkan dakwah pun seharusnya bisa memahami dengan baik bagaimana ciri dan kebutuhan dari objek dakwah yang dihadapi. Disinilah tantangan yang pernah GAMAIS hadapi sekitar dua tahun silam, kemampaman LDK tidak didukung dengan kekuatan dan sinergisasi dari lembaga dakwah program studi terhadap LDK GAMAIS ITB.

Rencana perubahan pun digulirkan dengan sebuah tema “revitalisasi struktur lembaga dakwah kampus”. Analogi yang kami gunakan saat itu adalah, jika diibaratkan dakwah itu adalah perang. Dengan hanya mengandalkan LDK kita menggunakan bom atom, dan dampak dari bom atom adalah, ada yang mati dan banyak yang luka-luka, sedangkan dengan adanya lembaga dakwah program studi ( LDPS ), kita bisa menembak musuh dari dekat dan cukup dengan senjata yang sederhana.

Oleh karena itu, kami berpikir, bagaimana dakwah yang dilakukan bisa berbasis program studi, yang notabenenya lebih dekat dengan massa kampus, dan bisa mengenal lebih mendalam karakteristik objek dakwah kita. Akan tetapi, segala hal ini perlu disinergisasikan dengan agenda dakwah di LDK. Maka muncullah istilah, LDP-LDF-LDPS yakni, lembaga dakwah pusat, lembaga dakwah fakultas dan lembaga dakwah program studi, dan ketiga elemen ini adalah sebuah kesatuan yang disebut dengan LDK atau lembaga dakwah kampus.

Sistematika pembagian yang dilakukan, adalah LDP adalah sebuah lembaga dakwah yang berlingkup satu kampus, LDF adalah sebuah lembaga dakwah yang berlingkup fakultas dan LDPS adalah sebuah lembaga dakwah yang berlingkup program studi atau jurusan. Dengan adanya pembagian dakwah yang jelas serta sinergisasi di dalamnya membuat agenda dakwah ini akan lebih mengena sasaran dan sesuai dengan tujuan.

Pada proses pengembangan dakwah wilayah ( red : LDF dan LDPS ) ini dibutuhkan pentahapan dakwah yang jelas dan terstruktur. Peran lembaga dakwah pusat sebagai core dakwah perlu dilakukan dalam rangka mewujudkan keseimbangan pengembangan dakwah wilayah. Dalam konteks pengembangan dakwah wilayah ini, saya akan menggunakan konsep community development dan dengan berbasiskan community capacity building, yakni pengembangan komunitas berbasiskan pembangunan kapasitas komunitas.

Dalam teori community development ada 4 strategi utama yang bisa dilakukan untuk pengembangan dakwah wilayah, yakni :
1. Pengembangan kepemimpinan, fokus pada keahlian, komitmen, keikutsertaan dan keefektifan dari individu dalam proses pengembangan komunitas. Dimana pada strategi ini kita mencoba membentuk kepemimpinan di fakultas dan program studi yang kuat dan berpengaruh. Dengan adanya pemimpin yang kuat dan banyak, sebuah komunitas akan punya kekuatan lebih dalam berkembang kedepannya. Pembangunan pemimpin ini bisa dengan membentuk pemimpin yang berasal dari fakultas atau program studi tersebut atau dengan mensuplai kader dari LDK yang telah terbentuk secara pemahaman islam dan dakwah.
2. Pengembangan organisasi, bertujuan agar komunitas dapat bekerja dengan lebih baik atau dengan aturan yang baru. Komunitas dalam konteks ini adalah kumpulan para aktifis dakwah di sebuah program studi atau fakultas. proses pengembangan organisasi ini bisa diartikan sebagai pendirian sebuah lembaga dakwah. Dengan adanya lembaga yang formal legal dan wajar aktifitas dakwah akan lebih mudah dilakukan. Bentuk dari lembaga dakwah ini bisa bermacam variasi, sebuah LDF bisa saja dibawah senat mahasiswa fakultas, atau berada langsung dibawah koordinasi Lembaga dakwah pusat ( LDK ). Begitu pula dengan LDPS, biasanya LDPS berada di bawah koordinasi dari LDF atau dalam beberapa kasus inheren dengan himpunan mahasiswa program studi. Dalam membangun sinergisasi dakwah yang terpenting adalah pola dan struktur yang terkoordinasi dengan LDK, pada kampus ITB, LDF dan LDPS berada dalam satu panji dakwah GAMAIS ITB.
3. Menata Komunitas yang memiliki target pengumpulan aspek-aspek dari fungsional komunitas dan memobilisasi individu menjadi kolektif pada akhirnya. Setelah sebuah lembaga dakwah didirikan, lembaga dakwah ini baru melakukan fungsinya dalam mencoba menkonsolidasikan objek dakwah untuk bisa lebih mengenal Islam secara mendalam. Atau dengan kata lain aktifitas dakwah dilakukan. Dalam tahapan ini, komunitas yang dikembangkan tidak sebatas komunitas para aktifis dakwah Islam, akan tetapi pengembangan komunitas sampai pada tahapan pengembangan masyarakat fakultas atau program studi dari segi kepahaman dan aplikasi akan Islam.
4. Kolaborasi antar-organisasi bertujuan membangun infrastruktur komunitas meliputi pengembangan hubungan dan kerjasama dalam level organisasi. Tahap ini merupak tahap lanjut dalam pengembangan dakwah wilayah, dimana lembaga dakwah diharapkan sudah memiliki legitimasi di masyarakat kampus yang menjadi tanggung jawabnya, dan mulai mengibarkan sayap dakwahnya keluar fakultas atau program studi. Bentuk aplikasi dari tahap ini adalah adanya hubungan dan koordinasi antara lembaga dakwah fakultas dan lembaga dakwah program studi yang dikomandoi oleh lembaga dakwah terpusat. Dengan adanya sinergisasi dalam harmoni antara lembaga dakwah ini, tujuan dakwah akan lebih mudah tercapai dan gerak dakwah akan lebih kuat.
Tahapan diatas adalah sebuah tahapan umum dalam membangun dakwah fakultas atau program studi. 

Penjelasan ini diharapkan bisa dipahami bagi LDK yang ingin membangun LDF dan LDPS dengan kondisi telah ada LDK terlebih dahulu. Setelah kita memahami bagaimana pengembangan dakwah wilayah, saya akan mencoba menjelaskan bagaimana LDK dapat berperan dalam pendirian dan penguatan LDF dan LDPS.
Pada teori pengembangan kapasitas komunitas, ada tiga hal yang bisa dilakukan oleh organisasi eksternal dari sebuah komunitas dalam membangun sebuah komunitas. 

Dalam kasus ini bagaimana kita bisa mengoptimasi peran LDK. Tiga strategi yang bisa dilakukan adalah :
1. Technical assistant atau Pendampingan. Metode yang paling sering dilakukan dan masih dilakukan oleh hampir semua LDK yang ada LDFnya. Yakni pendampingan dengan berbasis penyelesaian masalah. Pada cara ini sebetulnya tetap memaksimalkan peran internal fakultas atau program studi, akan tetapi jika menemui masalah LDK harus cepat tanggap memeberikan solusi atas kendala yang dihadapi di lapangan. Proses pendampingan ini dilakukan dengan mengidentisikasi masalah, mengenal medan dakwah dan mendorong pihak internal fakultas untuk menyelesaikan masalah secara mandiri dengan dukungan dari pihak LDK. Sebagai contoh, sebuah LDF mengalami kendala dari segi supply mentor untuk mengisi di fakultasnya, maka LDK diharapkan bisa mengkoordinasi dengan LDF lain yang memiliki jumlah mentor yang banyak untuk di amanahkan mengisi di LDF yang kekurang mentor.
2. Self-help atau mandiri. Cara ini lebih mengandalkan kemandirian dan potensi lokal dari kader di fakultas dan program studi. Karena memang pada dasarnya kader di sebuah fakultas lebih memahami kondisi medan dakwah di fakultasnya dan tentunya diharapkan bisa membuat strategi dakwah yang lebih tepat dan sesuai sasaran. Fungsi LDK dalam strategi ini adalah membangun basis kepemimpinan yang kuat di fakultas tersebut dan memberikan arahan berupa koridor serta standar ideal dari LDF dan LDPS yang diharapkan.
3. Advokasi, merupakan sebuah cara yang dilakukan dari LDK untuk membangun LDF dan LDPS dengan lebih mengedepakan proses hukum. Biasanya hal ini dibutuhkan pada proses legalisasi dan legitimasi LDF dan LDPS. Kita harus bisa mendukung dan memberikan alasan kuat yang bisa meyakinkan bahwa sebuah LDF bisa terbentuk. Cara paling sederhana untuk memberikan keuatan hukum legal formal kepada LDF dan LDPS adalah dengan menempatkan LDF dan LDPS sebagai bagian dari LDK. Sehingga kekuatan payung hukum LDF dan LDPS bisa ditanggung oleh LDK.
Jika digambarkan dalam bentuk matriks hubungan antara community development dan community capacity building adalah sebagai berikut.

Pengembangan kepemimpinan Pembangunan organisasi Penataan komunitas Kolaborasi antar -organisasi
Pendampingan Memberikan pelatihan kepemimpinan Mensuplai sistem pendukung organisasi seperti dana dan jaringan Mensuplai kebutuhan dakwah LDF seperti suplai mentor Sinergisasi LDF dengan memfasilitasi dalam bentuk forum rutin LDF

Mandiri Menjadi tokoh penting/teladan dalam fakultas atau program studi Membangun basis kader inti dan massa simpatisan Membuat mekanisme dakwah yang sesuai dengan kebutuhan objek dakwah di fakultas atau program studi Menjalin silahturahim rutin atau studi banding antara lembaga dakwah
advokasi Mensuplai kader dari luar fakultas atau program studi untuk terlibat langsung dengan aktifitas dakwah di fakultas atau program studi Memberikan dukungan berupa bantuan hukum untuk melegalkan LDF atau LDPS dengan bantuan lobi ke pihak terkait Adanya bimbingan berupa konsultasi pola manajemen dakwah yang baik Dukungan berupa legitimasi LDF/LDPS, dengan itu mereka bisa melakukan hubungan dengan lembaga lain dengan bebas

Pada tahap setelah semua fakultas memiliki lembaga dakwah fakultas dan semua program studi memilki lembaga dakwah program studi, dimulailah tahap sinergisasi dakwah. Pada dasarnya saya menawarkan dua cara yang perlu dilakukan dalam waktu bersamaan, yakni, kesamaan pedoman dakwah dan pola hubungan antar lembaga. Menurut hemat saya, dua hal ini perlu dipahami bersama dalam rangka memberikan hasil yang optimal dalam dakwah kita.


Kesamaan pedoman dakwah
Sebuah organisasi membutuhkan sebuah pedoman dalam bergerak, apalagi organisasi gabungan seperti dakwah kampus ini. LDK agar bisa sinergis dengan LDF dan LDPS perlu membuat pedoman atau kesepakatakan bersama yang terangkum dalam pedoman lembaga dakwah kampus. Pedoman ini berisikan nilai, norma dan kesepakatan yang dibuat bersama dalam menjalankan dakwah. Selain itu pedoman dakwah ini harus berisikan tujuan dan visi dakwah kedepan serta tahap tahap pencapaian dan didukung dengan parameter keberhasilan yang jelas. Dengan adanya pedoman yang jelas ini para kader di semua lini dakwah kampus bisa memahami apa yang perlu dilakukan dan orientasi tujuan yang jelas. Sehingga pada kondisi apapun semua kader akan berpikir untuk memenuhi tujuan atau visi yang diharapkan dari LDK. GAMAIS ITB memulai membuat pedoman dakwah dengan mengadakan rapat kerja selama satu pekan dan menghasilkan sebuah visi bersama yang telah terinternalisasi pada kader, yakni, satu keluarga menjadi model LDK nasional berbasis pembinaan dan kompetensi melingkupi seluruh sayap dakwah menuju Indonesia Islami.

Pola hubungan antar lembaga
Pola hubungan adalah sebuah pola koordinasi dan komando dakwah dengan harapan agenda dakwah dapat berjalan bersama dengan keseimbangan potensi antara wilayah dan pusat. Pada hubungan hirarkis bisa dilihat sebagai berikut :

Secara garis besar bisa kita lihat bahwa ada dua hirarki, LDP mengkoordinasikan LDF dan LDF mengkoordinasikan LDPS. Dalam kondisi ini saya mengusulkan untuk sebuah forum rutin antara pimpinan lembaga dakwah. Bentuk forum ini secara teknis bebas, akan tetapi mempunyai sebuah tujuan agar orientasi dakwah tetap sama dan suhu dakwah tetap sama baik. GAMAIS ITB menggunakan konsep musyawarah pimpinan dan forum bidang sebagai sebuah pola koordinasi rutin.
a. Musyawarah pimpinan, adalah sebuah musyawarah yang mempertemukan semua ketua lembaga dakwah dalam satu forum. Forum ini diadakan setiap bulan. Musyawarah pimpinan merupakan forum formal untuk pengambilan keputusan tertinggi di GAMAIS ITB. Yang menghadiri forum ini adalah kepala LDK GAMAIS, kepala LDF, kepala LDPS.
b. Forum bidang merupakan sebuah forum rutin yang dilaksanakan setiap dua pekan sekali oleh sektor dakwah yang ada. GAMAIS mengenal enam sektor dakwah, yakni internal, jaringan, syiar dan pelayanan kampus, dana, annisaa, dan akademik profesi. Setiap dua pekan sekali ketua sektor di LDP bertemu dengan seluruh ketua bidang dakwah yang sejenis di LDF dan LDPS, jika di bagankan akan tampak seperti di bawah ini:

Dengan bentuk koordinasi seperti ini, semua sektor dakwah yang ada di kampus bisa terselesaikan dengan cepat dan solutif. Rentang waktu pertemuan bisa disesuaikan dengan kesepakatan yang ada di masing-masing LDK.

Demikianlah sebuah penjelasan mengenai bagaimana kita membangun LDF dan LDPS serta cara membangun sinergitas antara LDP-LDF-LDPS. Dengan adanya sinergisasi dalam harmoni ini diharapkan LDK bisa lebih produktif dalam melayani massa kampus.
Referensi : Chaskin.Robert J. Building community capacity. Walter de Gruyter,Inc.New York : 2001


Menuju LDK berskala Nasional
satu keluarga menjadi model LDK nasional berbasis pembinaan dan kompetensi melingkupi seluruh sayap dakwah menuju Indonesia Islami sebuah kalimat visi dari GAMAIS ITB yang membuat saya bergetar ketika membacanya pertama kali. Model LDK nasional, sebuah legitimasi yang tentunya menjadi sebuah amanah tersendiri untuk sebuah LDK. Saya tidak pernah berpikir seperti ini ketika pertama kali bergabung di GAMAIS, saya hanya berpikir bagaimana GAMAIS bisa melayani masyarakat kampus ITB. Akan tetapi, paradigma saya berubah seketika, saat diminta mengisi pelatihan di kampus lain.

Saya melihat bahwa butuh ada LDK yang bisa menjadi kiblat atau prototype LDK nasional, agar LDK lain bisa belajar dan mengetahui tahapan tahapan yang dilakukan oleh LDK yang berskala nasional dalam mencapai kemapanan dakwah di kampus. Ketika terpilih menjadi Kepala GAMAIS ITB, saya berpikir bagaimana caranya agar GAMAIS bisa memberikan lebih untuk pembangunan dakwah di LDK lain, dan saya mulai menggaungkan GAMAIS for Indonesia dengan banyak memberikan pemikiran saya mengenai pentingnya perbaikan LDK skala nasional, dan GAMAIS dituntut untuk bisa menjadi model LDK.

Saat sedang dalam proses, seorang kawan bertanya pada saya “cup, GAMAIS uda siap belum uda memikirkan kampus lain ? apakah kondisi internal di kampus ITB uda stabil ?”
Pertanyaan ini membuat saya berpikir, dan membuat saya mencoba merumuskan strategi untuk mencapai model LDK skala nasional dengan tanpa menganggu agenda dakwah di ITB. Mulailah saya memikirkan dengan teman-teman, hingga lagi-lagi kawan saya berkata “mungkin gak cup, dakwah di ITB dihandle oleh LDF dan GAMAIS bisa fokus di koordinasi LDF dan melayani kampus lain ( fokus eksternal )”
Sebuah ide yang akhirnya saya turunkan dalam konsep “restrukturisasi lembaga dakwah kampus” yang telah saya paparkan pada “sinergisasi lembaga dakwah”. Saya akan coba paparkan secara bertahap, apa saja yang harus dipersiapkan untuk menuju LDK skala nasional.
Sustainibility development LDK

Syarat utama dan pertama dalam ekskalasi ini adalah sebuah pembangunan yang berkelanjutan, dalam dakwah LDK, hal ini ditunjukkan dengan beberapa kriteria, yakni :
1. Tidak ada masalah dalam hal regenerasi kepemimpinan, maksudnya setiap suksesi kepengurusan selalu ada calon pengganti yang berkualitas.
2. Memilki departemen / divisi yang telah memenuhi semua sektor LDK (kaderisasi, syiar, dana, annisaa, jaringan, dan akademik profesi)
3. Perbandingan Jumlah BPH ( badan pengurus inti ) dan jumlah kader minimal 1:3 ( jika jumlah BPH 15, maka jumlah kader non BPH minimal 45 )
4. Keberjalanan program kerja hingga 70 %
5. Tidak ada masalah keuangan
6. Kaderisasi LDK berjalan dengan baik, dan bisa membentuk banyak kader yang punya karakter pemimpin di LDK. Minimal bisa mencetak 5 kader yang memiliki kapasitas yang setara dengan ketua LDK dalam satu angkatan
7. Memiliki agenda syiar rutin dengan skala medioker dan agenda syiar eksidental dengan skala masif
8. Adanya lembaga dakwah fakultas dan/atau lembaga dakwah program studi
Delapan kriteria ini diharapkan bisa dipenuhi sebagai sebuah syarat awal, karena memang tidak mungkin sebuah LDK memikirkan LDK lain jika sebuah LDK tidak memiliki kemapanan dan kemandirian. Oleh karena itu saya mencoba membuat standar yang tinggi, agar sebuah LDK tidak terzalimi ketika mulai berbagi ke kampus lain. Biasanya memang sebuah lembaga yang sudah mapan baru bisa memikirkan tentang rencana yang lebih besar dan jangka panjang.

Penguatan dan sinergisasi Lembaga Dakwah Wilayah
Syarat kedua yang perlu dipenuhi adalah penguatan dakwah di wilayah atau di fakultas dan program studi. Gerak dakwah yang diperlukan adalah mengoptimalkan setiap lembaga dakwah wilayah agar mampu memberikan yang terbaik untuk dakwah di kampus. Lembaga dakwah wilayah diharapkan bisa meyentuh semua massa kampus tanpa terkecuali. Terkait pengembangan dakwah wilayah akan sangat dekat dengan dakwah berbasis kompetensi dan kekhasan objek dakwah. 

Penguatan ini juga perlu diperhatikan beberapa kriteria yang perlu dipenuhi oleh lembaga dakwah wilayah, antara lain :
1. Regenerasi kader yang baik
2. Adanya agenda syiar rutin dan eksidental pada skala fakultas dan program studi
3. Adanya kemandirian kaderisasi dan keuangan
4. Memiliki basis kader inti yang solid dan militan
5. Semua ketua LDF dan LDPS bisa terkoordinasikan oleh Lembaga dakwah pusat
Selain adanya penguatan secara internal di LDF dan LDPS, diperlukan pula sinergisasi gerak antara lembaga dakwah wilayah dengan lembaga dakwah pusat. Sinergisasi gerak ini adalah bentuk usaha bersama untuk mencapai tujuan yang telah disepakati. Dalam mekanisme di lapangan memang sinergisasi ini tidak bisa dibentuk sekejap mata ada tahapan-tahapn yang perlu dipenuhi, seperti kesamaan suhu dakwah, kesamaan tujuan dakwah, dan saling memahami serta menghargai. Karena memang dengan adanya sinergisasi ini, maka akan terbentuk jalur komando antar lembaga dan dibutuhkan kesatuan gerak kader di pusat dan wilayah yang kuat. 

Proses sinergisasi ini perlu pula memenuhi beberapa kriteria, antara lain :
1. Adanya jalur koordinasi dan komando yang jelas antara lembaga dakwah pusat-lembaga dakwah fakultas-lembaga dakwah program studi
2. Adanya pembagian objek dakwah yang telah tersegmentasi dan terpartisi dengan jelas agar tidak terjadi overlapping objek dakwah
3. Adanya sistem kaderisasi terpusat dan terpadu yang bisa menyentuh semua kader baik di pusat maupun wilayah
4. Adanya sistem koordinasi sektoral dakwah yang jelas dan rutin
5. Adanya pembagian kekhasan dan karakter agenda syiar antara lembaga dakwah pusat dan lembaga dakwah wilayah
6. Adanya sistem database terpadu yang bisa diakses oleh kader di semua lini
7. Adanya pertemuan rutin untuk koordinasi antara BPH pusat dan BPH wilayah
8. Adanya temu kader terpusat sebagai wahana untuk mempertemukan seluruh kader
Kriteria diatas merupakan sebuah tools yang bisa digunakan sebagai sebuah usaha untuk meningkatkan efesiensi dan produktifitas dakwah. Sinergi dalam harmoni, adalah sebuah tagline yang kami gunakan untuk menggambarkan bagaimana kekuatan dakwah GAMAIS di pusat dan wilayah.


Hirarki Kepemimpinan
Setelah Lembaga dakwah pusat dan lembaga dakwah wilayah kuat dan saling sinergi, kita perlu melakukan pembagian kerja di BPH lembaga dakwah pusat, agar semua aspek dakwah dapat terfasilitasi. Saya akan berbicara tentang tugas pokok kepala LDK, yakni :
1. Pemimpin seluruh umat muslim di kampus dan sebagai representatif LDK
2. Pemimpin diplomasi, ekpansi jaringan dan politik bagi LDK
3. Panglima dakwah untuk semua kader dakwah
4. Mengkoordinasikan LDF dan LDPS
5. Memimpin Badan Pengurus Harian Lembaga Dakwah Pusat dan memastikan program kerja lembaga dakwah pusat berjalan
Secara umum, lima inilah yang menjadi tugas pokok dari seorang kepala LDK, jika hanya dijalankan oleh seorang saja, saya melihat akan terjadi ketidakoptimalan di semua lini. Oleh karena itu dari lima tugas ini, saya memecah hingga lima tugas ini diemban oleh tiga orang, dan terbentuklah trisula kepemimpinan GAMAIS ITB. Pembagian tugas ini saya paparkan sebagai berikut :
Kepala GAMAIS ITB
a. Pemimpin seluruh umat muslim di kampus dan sebagai representatif LDK
b. Pemimpin diplomasi, ekpansi jaringan dan politik bagi LDK
c. Ditempatkan sebagai tokoh mahasiswa skala nasional

SekJen GAMAIS ITB
a. Panglima dakwah untuk semua kader dakwah
b. Mengkoordinasikan LDF dan LDPS

Kepala Sektor Internal
a. Memimpin Badan Pengurus Harian Lembaga Dakwah Pusat dan memastikan program kerja lembaga dakwah pusat berjalan
Pembagian kerja ini membuat ketiga pemimpin ini bisa berkerja optimal di tugas pokok masing-masing dan tidak ada satu pun rencana kerja kita yang tidak terperhatikan. Sehingga agenda program kerja berjalan, LDF dan LDPS kuat dan sinergis serta agenda pelayanan ke kampus lain pun dapat terfasilitasi.

Inilah sebuah gambaran bagaimana LDK bisa menjadi skala nasional dengan berbasiskan kekuatan internal yang kuat, dengan semakin banyaknya LDK berskala nasional maupun regional di Indonesia. FSLDK akan memilki kutub-kutub perkembangan LDK di Indonesia yang merata, sebutlah di Sumatera kita sangat berharap UNAND dan UNILA dapat menjadi kutub perkembangan disana. Pulau Jawa, selain ITB yang mungkin akan fokus pada perbaikan skala nasiona, diharapkan UI,IPB,UNDIP,UGM,UNAIR,dan ITS bisa menjadi kutub perkembangan skala regional, Kalimantan ada UNMUL yang memiliki kekuatan finansial dapat menopang dakwah di sana. Untuk sulawesi dan Papua kita sangat berharap UNHAS bisa menjadi motor dakwah disana. Ketika banyak kutub-kutub LDK yang bisa jadi kiblat atau prototype LDK lain di sekitarnya,diharapkan akan terjadi trickle down effect perkembangan LDK di sebuah wilayah. Sehingga harapan kita bisa melakukan gerakan dakwah secara masif dan merata di seluruh kampus di Indonesia dapat menjadi kenyataan.


Mentoring LDK
Berbicara tentang mentoring bukanlah hal baru untuk dunia LDK, tulisan, artikel, atau buku tentang menjadi mentor yang baik, pengelolaan mentoring, dan lain sebagainya sudah bisa dengan mudah ditemui di hampir semua toko buku. Pada bagian ini saya tidak akan berbicara konsep dasar mentoring dan lain sebagainya, saya akan lebih mencoba menyentuh sisi teknis lapangan yang mungkin bisa jadi memberikan sebuah cara baru dalam mengelola mentoring di LDK.

Seperti yang telah kita pahami bersama, mentoring seringkali diibaratkan sumsum tulang belakang dari LDK, dimana mentoring lah yang menghasilkan dan mencetak darah baru atau kader baru. Jika sum sum tulang belakang seseorang baik, maka darah yang baik, akan diproduksi, akan tetapi jika sum sum tulang belakang seseorang rusak atau terkena virus, maka darah yang ber-virus atau berpenyakit pula yang akan diproduksi. Begitu pula dengan mentoring, jika dikelola dengan baik akan mampu mencetak kader yang baik, akan tetapi jika mentoring gagal dikelola maka akan menghasilkan kader yang buruk pula.

Begitu pentingnya peran mentoring dalam dunia dakwah kampus, dan sudah sewajarnya mentoring diberikan perhatian khusus dan lebih dalam pengelolaannya. Perhatian khusus ini tidak bisa sekedar dengan adanya proker yang baik, akan tetapi, perlu orang terbaik di tim pengelolaan mentoring dan supply dana yang kuat untuk menunjang agenda pengelolaan mentoring yang dilakukan. Saya menggunakan bahasa pengelolaan mentoring dengan maksud menjelaskan, bahwa yang akan saya paparkan bukan terkait bagaimana menjadi mentor yang baik, akan tetapi dari sudut pandang tim pengelola mentoring.

Secara garis besar ada 5 aspek yang perlu kita bangun bersama dalam mengelola mentoring ini, yakni :
1. Sistem umum pengelolaan mentoring / usroh
2. Mentor / naqib
3. Sistem pengelolaan data
4. Kurikulum
5. Sekolah mentor / naqib
Untuk memudahkan saya dalam memaparkan, saya akan menggunakan istilah yang digunakan di GAMAIS, kami biasa menyebut kelompok mentoring dengan usroh atau secara harfiah berarti keluarga, dan mentor kami biasa sebut dengan sebutan naqib. Istilah ini kami bangun dalam rangka memberikan kesan keluarga dalam kelompok pembinaan ini, dan sejalan dengan jargon kami karena kita keluarga.
Sistem umum pengelolaan mentoring / usroh

Bentuk pengelompokkan
Dalam perjalanan saya menjalani usroh di ITB, seringkali ada masalah yang senantiasa berulang-ulang terkait kecocokan antara adik binaan dengan kelompok usroh yang ia ikuti. Ketidakcocokan ini biasanya berkisar antara masalah, ketidakcocokan jadwal, ketidakcocokan dengan naqib, dan ketidakcocokan dengan teman satu kelompok. Ketiga permasalahan ini seringkali mengakibatkan permentoringan tidak optimal dalam keberjalanannya. Oleh karena itu diperlukan adanya solusi yang tepat dan sesuai, saya melihat secara mendasar, ada dua metode yang seringkali dilakukan dalam sistem umum pengelolaan pengelompokkan, yakni, pengelompokkan berbasis program studi atau fakultas dan pengelompokkan dengan tabulasi jadwal naqib.
Pengelompokkan berbasis program studi atau fakultas

Pengelompokkan ini dilakukan dengan mengelompokkan para peserta usroh yang berada dalam satu program studi atau fakultas. Biasanya setiap program studi memiliki kesamaan dan kekhasan tersendiri. Mahasiswa Teknik Mesin tentu akan berpikir dengan mechanical way-nya, mahasiswa MIPA biasanya lebih realistis dan matematis, mahasiswa teknik Planologi biasanya lebih gemar ngomong, mahasiswa seni rupa biasanya mempunya fantasi yang tidak bisa diduga. Dengan mengelompokkan peserta usroh ini dalam satu kelompok dan dibina juga oleh naqib yang berasal dari program studi atau fakultas yang sama, tentunya akan terjadi chemistry dalam kelompok tersebut. Selain kelebihan dalam hal nyambung dalam berdiskusi, biasanya dalam satu program studi atau fakultas memiliki homogenitas jadwal, sehingga untuk menyesuaikan jadwal pertemuan akan lebih mudah. Pengelolaan dengan metode ini sangat cocok dilaksanakan oleh lembaga dakwah tingkat fakultas atau program studi dengan berkoordinasi dengan lembaga dakwah tingkat kampus.

Pengelompokkan berbasis tabulasi jadwal naqib
Pada beberapa kampus yang secara geografis tidak besar dan belum memiliki lembaga dakwah di tingkat fakultas, maka pengelolaan mentoring biasanya dilakukan oleh lembaga dakwah tingkat kampus, atau LDK. Dalam konteks ini tentunya akan banyak mahasiswa dari berbagai macam program studi dan fakultas dan tentunya juga memiliki keberagaman karakteristik dan jadwal kuliah. Sehingga untuk menyelesaikan tiga 
kendala yang seringkali dialami oleh pengelola mentoring ini memerlukan metode berbasis tabulasi jadwal. 

Tabulasi jadwal adalah sebuah konsep pengelolaan mentoring terpusat dengan mengumpulkan jadwal kosong setiap naqib dan merangkumnya dalam sebuah tabel. Tabulasi ini tidak hanya berisikan jadwal kosong saja, akan tetapi juga menampilkan karakteristik dan kelebihan yang dimiliki oleh naqib. Sehingga dengan metode ini , peserta bisa memilih kelompok mentoring yang naqib-nya sesuai dengan kebutuhan peserta dan jadwal yang sesuai dengan waktu yang ada bagi peserta. 

Contoh output dari tabulasi adalah sebagai berikut.
Hari / Waktu Senin Selasa Rabu Kamis Jum’at
08.00-09.30 Yusuf (korelis/kepala LDK) Anggit (IPK 4) Yunus(PPSDMS/ketua himpunan) Arvi ( ketua Unit kesenian) Alfian ( juara lomba mapres)
09.30-11.00 Aaf (melankolis/hafidz Qur’an) Bobby(presiden BEM) Fauzi(sangunis/melankolis, S2 elektro) Alam ( alumni wanadri) Luthfi ( pemain sepakbola klub lokal )
12.30-14.00 Gumilar (businessman) Gamma(sangunis empatik) Adhi ( koord.Lab TI ) Albaz ( asisten trainer ESQ) Yuda ( desainer,seniman )
15.30-17.00 Abdurrahman(pengajar tahsin) Iqbal(pengajar Tahfidz/kaderisasi GAMAIS) Verry (korelis,businessman) Adit ( programmer) Gesa ( ketua kaderisasi himpunan mahasiswa)
19.30-21.00 Rendy saputra(businessman/trainer) Aisar ( programmer ) Aji ( mahasiswa berprestasi) Cecep (santri Daarut Tauhid) Ilham ( aktifis LSM )

Tabel diatas adalah contoh sederhana dari tabulasi jadwal naqib. Idealnya memang, setiap jam selalu ada jadwal mentoring dengan pilihan lebih dari satu naqib sehingga peserta dapat memilih naqib sesuai dengan kebutuhan. Bentuk tampilan yang diberikan dapat disesuaikan, apakah hanya nama dan jurusan naqib saja, ataukah beberapa ke-khasan dari naqib,seperti karakteristik, minat khusus, atau amanah. Selanjutnya tabulasi naqib ini bisa dijadikan pegangan dalam pengelompokkan bagi pengelola mentoring di sebuah kampus. Sehingga, ketika ada peserta yang hendak mentoring, peserta tinggal memilih jadwal dan langsung bisa masuk ke database pengelola.

Seleksi Tim pengelola mentoring
Sistem umum lainnya dalam pengelolaan ini adalah terkait kompetensi dan kepahaman pengelola dalam hal kaderisasi, dakwah dan permentoringan. Pemahaman kaderisasi diperlukan agar pengelola benar-benar paham tentang bagaimana kedudukan mentoring ini dalam tahapan kaderisasi dan bagaimana hubungannya dengan tadribul amal peserta. Selain itu dengan pemahaman kaderisasi yang kuat, biasanya akan terbentuk karakter pembina atau karakter pendidik yang ulung. Karakter ini sangat diperlukan, karena memang pengelolaan mentoring bukan sekedar pengelolaan data dan mentor saja, akan tetapi pengelolaan mentoring ini adalah berkaitan dengan bagaimana pembentukan karakter mentor dan peserta usroh. Selanjutnya pemahaman dakwah yang komprehensif dari pengelola mentoring, seringkali saya melihat pengelola mentoring belum memahami bagaimana peran mentoring ini dalam skematik dakwah yang luas. Memang, saya sepakat bahwa baik atau buruknya mentoring adalah akar dari problematika dakwah di kampus. Akan tetapi, pengelola mentoring pun harus mengetahui bagaimana tuntutan dakwah saat ini serta kebutuhan karakter kader yang diperlukan untuk menunjang dakwah saat ini. Dengan pemahaman ini, diharapkan pengelola dapat melakukan inovasi dan dinamisasi terkait permenetoringan. Selanjutnya pemahaman pengelola terhadap pengelolaan mentoring itu sendiri, perlu kita sadari bersama bahwa mentoring bukanlah sebuah sistem komputer yang bisa di ubah dan diatur dengan mudah. Mentoring adalah sebuah pengelolaan manajemen dakwah yang berkaitan atau berhubungan langsung dengan manusia. Maka diperlukan adanya pendekatan yang manusiawi , dalam pengelolaannya, saya merekomendasikan seorang yang memiliki empatik dan memahami dengan baik psikologi manusia untuk mengelola permentoringan ini. Karena ia akan berpikir, ”bagaimana jika saya jadi peserta”, bukan “seharusnya peserta seperti yang saya mau”.

Struktur Tim pengelola
Selain itu diperlukan juga adanya struktur pendukung dari tim pengelola mentoring. Tim pengelola ini memerlukan strukutur yang efesien dan sesuai dengan kebutuhan lapangan. Secara umum, tidak ada strukur yang terbaik, akan tetapi saya mengusulkan beberapa bidang atau divisi yang sekiranya dibutuhkan dalam tim pengelolaan mentoring.

Deskripsi kerja dari setiap divisi adalah sebagai berikut :
• Koordinator, memastikan semua agenda permentoringan berjalan
• Administrasi, berfungsi sebagai sekretaris dan bendahara tim pengelola mentoring
• Penelitian dan Pengembangan, melakukan evaluasi berkala terhadap performa mentoring dan melakukan inovasi untuk perbaikan pengelolaan mentoring, dalam tim ini pula akan menyusun kurikulum mentoring yang sesuai.
• Pengembangan karakter mentor, tim ini melakukan pembinaan rutin untuk para mentor, terkait kepahaman dakwah, softskill yang menunjang permentoringan, sistem informasi data absensi keberjalanan mentoring, dan talaqqi materi mentoring dengan tujuan mentor bisa memahami tugasnya dan memiliki kepahaman ilmu yang memadai. Tim ini juga mempunyai hak untuk memberikan lisensi kualitas mentor.
• Database dan informasi, tim ini berurusan dengan data keberjalanan mentoring, dan sebagai pintu informasi antara tim pengelola mentoring dan para mentor
• Sekolah mentor, tim ini fokus pada pembentukan calon mentor di masa yang akan datang, pembinaan untuk para mentor perlu diasah sejak dini. Oleh karena itu tim ini diharapkan bisa membentuk calon mentor, yang diprioritaskan dari peserta mentoring itu sendiri
• Dinamisasi dan metode alternatif, terkadang tidak semua mentor bisa menyampaikan semua materi dengan komprehensif, serta bagi sebagian peserta mentoring, bisa jadi jika terus-terusan hanya mentoring saja, peserta akan jenuh. Oleh karena itu, diperlukan beberapa improvisasi dan dinamisasi agar peserta mentoring dapat lebih semangat dalam menjalankan agenda mentoring. Bentuk agenda yang dilakukan bisa dengan mentoring gabungan, atau mabit yang diisi dengan tausiyah yang bermaterikan hal yang tidak bisa disampaikan di mentoring, beberapa training, seperti training shalat khusyuk, pelatihan memandikan jenazah, atau agenda outbound dan olahraga bareng.

Bentuk struktur diatas bukanlah mutlak, akan tetapi perlu disesuaikan dengan kondisi SDM dan objek dakwah yang ada. Perubahan dan penyesuaian bentuk struktur ini sangat berpengaruh terhadap kinerja tim, akan tetapi saya menilai bahwa fungsi fungsi diatas diharapkan ada untuk menghasilkan kinerja mentoring yang ideal.
Branding dan Packaging
Saya seringkali berbicara mengenai pentingnya pengemasan dakwah, dengan harapan dakwah ini bisa diterima dengan baik oleh objek dakwah kita. Termasuk dalam hal mentoring ini, perlu adanya pengemasan agar mentoring ini bisa diterima, terkadang dibeberapa kampus kata “mentoring” sudah tidak diterima. Dalam bab ini saya akan mengusulkan dua bentuk pengemasan, yakni, branding nama dan pengemasan dengan menunjukkan kelebihan atau dari mentoring yang kita ajukan.
Pertama, pengemasan nama,maksudnya adalah mengganti istilah mentoring dengan istilah lain yang lebih familiar dan humble di telinga objek dakwah. Sebagai contoh, setelah rilisnya film ayat-ayat cinta, istilah talaqqi menjadi lebih dikenal, bisa saja kita mengganti istilah mentoring kita dengan istilah tersebut. Atau istilah lain seperti islamic learning group, students character building program, islamic weekly education club, atau usroh.
Kedua¸pengemasan konten, secara umum memang bentuk permentoringan akan tetap sama, akan tetapi kita bisa membuat variasi kelebihan, seperti, dengan mengikuti mentoring, maka peserta akan mendapatkan notebook mahasiswa muslim, CD interaktif, kartu perdana GSM, training sofskill, tutorial akademik, dan lain sebagainya. Intinya kita membuat added value yang diyakini bisa menarik perhatian dan membuat semakin banyak mahasiswa yang berminat ikut mentoring.
Mentor / naqib

Pada bagian ini saya akan menyinggung mengenai dua hal, yakni kebutuhan akan mentor ideal dan bagaimana rekomendasi proses seleksi untuk penentuan mentor yang layak untuk mendapat lisensi mengisi kelompok mentoring.

Mentor Ideal
ustadz satria hadi lubis banyak menuliskan tentang karakter naqib yang ideal, secara umum , akan saya coba rangkumkan dalam empat poin , yakni :
1. Seorang kakak / saudara , seorang naqib akan berfungsi sebagai seorang kakak atau saudara bagi peserta usroh dalam hal diskusi dan menceritakan isi hati atau masalah yang mungkin dihadapi, oleh karena itu seorang naqib perlu memiliki karakter empatik dengan harapan dapat menyentuh hati para peserta usroh sehingga terjadi keterbukaan, dan terbentuk nuansa kekeluargaan dalam kelompok usroh tersebut.
2. Sosok pelatih, pelatih adalah sosok yang memberikan arahan, mengajarkan cara melakukan sesuatu, mencontohkan, mengawasi peserta latihan melakukan sesuatu, memotivasi ketika gagal, memberi selamat ketika berhasil, dan setia mendampingi agar peserta dapat melakukan suatu hal. Untuk itu diperlukan karakter pengkader yang ulung bagi seorang naqib. Karena ialah yang akan senantiasa berinteraksi dengan para peserta mentoring untuk dibutuhkan pula kemampuan merangkul dan mempengaruhi dari seorang naqib.
3. Petunjuk jalan, seorang naqib diharapkan dapat sebagai pembimbing bagi para peserta usroh untuk menapaki masa depannya. Dalam hal ini seorang naqib perlu memahami potensi dari peserta usroh dan memberinya alternatif pilihan terkait masa depannya. Sebagai contoh kecil, dalam hal memilih sub-jurusan pada sebuah program studi, seorang naqib dituntut untuk bisa memberikan gambaran yang jelas mengenai pilihan yang ada, dan memberikan rekomendasi kepada peserta usroh. Oleh karena itu seorang naqib diharapkan dapat memiliki karakter pemimpin yang bisa mengarahkan peserta usroh.
4. Pembentuk Mentor baru, kebutuhan dakwah kampus akan mentor atau naqib senantiasa bertambah, oleh karena itu seorang naqib diharapkan dapat membentuk karakter peserta usroh untuk dapat menjadi naqib di masa yang akan datang.

Seleksi mentor
Kualitas seorang mentor sangat menentukan kualitas peserta mentoring, diperlukannya seleksi yang ketat mengenai siapa saja yang berhak menjadi mentor perlu dilaksanakan dalam rangka mencapai tujuan tersebut. Pada bagian sebelumnya saya sudah memaparkan mengenai karakter mentor ideal, akan tetapi ada satu hal yang perlu dimiliki oleh semua mentor dan menjadi syarat mutlak, yakni intregitas. Intregitas disini adalah tidak sekedar kejujuran, akan tetapi bentuk komitmen seseorang untuk melakukan sesuatu dan mengerjakan apa yang telah ia katakan. Kebutuhan intergitas bagi seorang mentor sangat diperlukan untuk menunjang optimasi kinerja dari pengelolaan permentoringan.

Seleksi terkait kelayakan mentor akan saya paparkan dengan proses transformasi seorang peserta mentoring hingga ia bisa menjadi seorang mentor. 
Pertama, seorang mentor mengidentifikasikan peserta mentoringnya untuk mengikuti sekolah mentor, sehingga syarat pertama yang diperlukan adalah ia haruslah sehat secara keberjalanan permentoringannya, atau ia harus mengikuti mentoring. 
Kedua, ia diharuskan mengikuti pembinaan calon mentor, yang akrab saya sebut dengan istilah sekolah mentor, syarat kedua adalah ia harus mengikuti dengan seksama dan kehadiran tinggi dalam proses sekolah mentor. Ketiga, mengikuti tes atau seleksi formal yang diadakan oleh tim pengelolaan mentoring, seleksi ini meliputi kapasitas pribadi seorang calon mentor, seperti kualitas dan kuantitas amalan ibadah harian, kemampuan pemahaman materi, dan seleksi lainnya yang diperlukan untuk menjadi serang mentor. 
Keempat, seorang calon mentor, diharapkan dapat mengikuti proses pemagangan atau belajar menjadi mentor, proses ini diharapkan dapat mengasaha sense untuk menjadi seorang mentor. 
Kelima, jika secara kapasitas individu seseorang telah memilki kecapakan sebagai seorang mentor, ia diharapkan dapat mengisi lembar perjanjian komitmen diri sebagai seorang mentor. 

Adanya kontrak sosial ini diharapkan dapat meningkatkan tanggung jawab mentor dalam menjalankan amanahnya. Kontrak sosial ini berisikan hal-hal yang menunjang agenda permentoringan, seperti siap meluangkan waktu untuk mengisi mentoring setiap pekannya, siap untuk mengikuti pembinaan mentor, dan siap melaporkan data keberjalanan mentoring secara rutin.

Sistem pengelolaan data
Salah satu parameter yang bisa dinilai untuk mengevaluasi keberjalanan permentoringan adalah pendataan yang baik, yakni bagaimana data yang berasal dari mentor dapat sampai kepada pengelola mentoring secara berkala dan tepat waktu. Saya akan memaparkan sedikit mengenai bagaimana pengelolaan data, agar pengelolaan data permentoringan dapat berjalan dengan baik. Pemaparan saya akan saya partisi menjadi tiga sub-bagian, yakni sistem jaringan pengumpul data,pola pengumpulan data, dan database terpusat.

Jaringan Pengumpul Data
Pada kondisi dimana jumlah mentor semakin banyak dan tersebar di seluruh penjuru kampus, maka sistem jaringan pengumpul data diperlukan untuk mempermudah arus tersampainya informasi. Konsep dari sistem ini adalah meng-estafetkan data dari mentor ke pengelola mentoring dengan perantara pengelola mentoring di tingkat tertentu. Jika digambarkan dalam bentuk bagan, akan tampak seperti di bawah ini.

Dengan adanya jaringan ini diharapkan dapat terbentuk hirarki data dan informasi. Data disini yang dimaksud adalah terkait presensi keberjalanan mentoring, atau rekomendasi tertentu, sedangkan informasi adalah bentuk info yang sekiranya dibutuhkan oleh peserta mentoring.

Pola pengumpul data
Pola pengumpul data adalah metode untuk melaporkan data keberjalanan mentoring. Banyak sekali cara untuk mengumpulkan data ini, akan tetapi untuk memudahkan mentor, sekiranya pengelola mentoring diharapkan dapat memberikan variasi pilihan kepada mentor untuk mengumpulkan data. Bentuk variasi pengumpulan data antara lain :

• Via sms, pengumpulan data keberjalanan via sms ini sebetulnya merupakan cara yang paling mudah, yakni hanya dengan SMS ke nomor tertentu saja dengan ketentuan yang disepakati. Contoh ketik : nama mentor tanggal mentoring materi izin:nama1,nama2,nama3,dstsakit:nama1,nama2,nama3,dst alpha:nama1,nama2,nama3,dst... dan kirim ke nomor hotline mentoring.
• Via email, pihak pengelola cukup dengan membuat template yang harus di isi dan di email setelah menjalankan agenda permentoringan
• Via data box, pihak pengelola menyediakan kotak data khusus di sekretariat LDK, dan pihak mentor cukup mengisi template kertas yang sudah tersedia dan memasukkan ke kotak
• Via database online, pada tahap yang lebih advance, LDK bisa menyediakan perangkat IT pendukung, sehingga mentor cukup mengakses situs tertentu dan mengisi form yang telah tersedia di layar komputer.
Sistem database terpusat

Sistem database terpusat adalah bentuk one-sheet database yang berisikan tentang keberjalanan mentoring pada jangka waktu tertentu. Bentuk dari database ini bisa dalam bentuk microsoft excel atau lainnya,akan tetapi hal terpenting dalam database ini adalah, data ini harus bisa di akses oleh seluruh pemegang kebijakan dakwah kampus yang berhak untuk melihat data ini dalam rangka menentukan sebuah kebijakan tertentu.
Kurikulum

Mentor biasanya akan menyampaikan materi berdasarkan kurikulum yang tersedia. Kurikulum dalam proses pendidikan adalah hal yang penting, selain akan berfungsi sebagai manhaj (pedoman) dalam menyampaikan materi, kurikulum biasanya juga dibuat dengan marhalah (tahapan) yang menyesuaikan kondisi peserta mentoring. Untuk itu diperlukan adanya penyusunan kurikulum yang sesuai dengan kondisi kekinian dan kesinian.

Kurikulum untuk permentoringan tahap awal, perlu lah menekankan pada tiga hal, yakni aqidah, akhlak, dan ibadah. Penekanan pada tiga hal ini bukan tanpa alasan, karena memang tiga hal inilah yang diyakini sebagai fondasi awal seorang kader dakwah atau bahkan fondasi seorang muslim. Pada tahap kurikulum mentoring tahap lanjut barulah menekankan pada hal bersifat fiqih, dan dakwah. Adanya penyesuaian ini diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap keberterimaan materi.

Saya akan memberi beberapa contoh tema materi untuk mentoring tahap awal, sebetulnya ini bukan materi yang baru, akan tetapi perlu adanya-lagi lagi- pengemasan, bahkan sampai pada tema materi, seperti : thank you Allah ; muhammad is the real idol ; insan akademis ; ungkapan cinta untuk ayah dan bunda; life excelent ; the miracles of holy Qur’an ; hidupku ibadahku ; gue bangga menjadi seorang muslim, dan lain sebagainya.

Buku buku mengenai materi mentoring saat ini sudah bisa didapat di berbagai tempat, yang terpenting bagi pengelola mentoring adalah merangkai materi yang ada agar terbetuk sebuah tahapan pembelajaran yang tepat dan bisa diterima oleh peserta dan mentor mengerti bagaimana memahamkan sebuah materi kepada peserta mentoring.

Sekolah Mentor
Aspek kelima yang harus disiapkan adalah sekolah mentor. Sekolah mentor adalah sebuah sarana yang digunakan oleh pengelola LDK untuk membentuk calon mentor di masa yang akan datang. Sekolah mentor ini diharapkan dapat berjalan rutin sepanjang tahun, sehingga proses regenerasi dapat senantiasa berjalan. Terkait sekolah mentor, sudah saya seringkali saya paparkan hampir dalam setiap aspek lainnya, karena memang kelima aspek ini saling terkait. Sekolah mentor ini diikuti oleh peserta mentoring yang aktif dalam hal kehadiran dan direkomendasikan oleh mentor yang membinanya. Walau memang, seharusnya semua peserta mentoring mengikuti sekolah mentor, akan tetapi adanya rekomendasi dapat memberikan jaminan komitmen dari peserta untuk mengikuti sekolah mentor ini.

Konten dari sekolah mentor seputar segala hal yang diperlukan agar seseorang siap menjadi seorang mentor, secara umum ada tiga konten umum yang perlu disampaikan, yakni :
1. Pemahaman dakwah dan kaderisasi, terkait dasar-dasar pemahaman dakwah yang diperlukan, sehingga mentor melakukan aktifitas mengisi mentoring dengan berfondasikan paradigma dakwah yang kokoh.
2. Penguasaan materi dasar, penguasaan materi dasar ini akan menjadi bekal awal dalam menyampaikan materi di awal-awal mengisi mentoring
3. Kemampuan komunikasi dan menguasai peserta mentoring, kemampuan mendinamisasi kelompok, serta cara menyampaikan materi yang tepat agar peserta paham dan menarik untuk didengar.

Selain itu, diperlukan pula adanya latihan mengisi mentoring dalam bentuk simulasi dengan sesama peserta, agar peserta bisa mulai belajar untuk menjadi mentor yang baik. Pemberian tips dan trick khusus dari para pementor senior pun, perlu diberikan agar peserta sekolah mentor bisa memahai medan mentoring dengan baik.
Materi pendukung lainnya di sekolah mentor, adalah meningkatkan kualitas dan kuantitas amalan ibadah harian peserta, seorang mentor, memerlukan kekuatan maknawiyah yang kuat agar dapat optimal dalam memberikan materi. Peningkatan amalan ibadah harian ini bisa dilakukan dalam bentuk motivasi dan pengecekkan secara rutin ibadah harian pada setiap pertemuan sekolah mentor. Perlu kita dipahamkan pula bahwa kekuatan rabbaniyah lah yang akan bisa menopang aktifitas dakwah seorang kader.


 Sekulerisme
Secara umum sekuler sering diartikan sebagai pemisahan antara pemerintahan dan agama. Pengdikotomian yang sering membuat pemikiran dan keberjalanan kehidupan menjadi terdikotomi atau tersekat-sekat. Pemisahan antara pemerintahan dan agama merupakan bentuk dari tidak adanya pengakuan dari konsep Islam yang komprehensif. Islam yang mengajarkan kepada kita segala sesuatu tentang kehidupan. Pada bagian ini saya akan sedikit memaparkan kekhawatiran akan kondisi aktifis dakwah di kampus.

Definisi sekuler yang saya coba paparkan adalah pengdikotomian aktifis dakwah terhadap wadah dakwah yang ada di kampus. Wilayah dakwah di kampus secara garis besar bisa terbagi dalam tiga wilayah. Pertama, Wilayah khidamy dan dakwiy ( pelayanan dan dakwah ) yang diwakili oleh lembaga dakwah kampus, mahad kampus, lembaga dakwah fakultas, dan lain sebagainya. Kedua, wilayah siyasi dan sya’bi ( politik dan kemasyarakatan ) yang diwakili oleh badan eksekutif mahasiswa, himpunan mahasiswa dan lain sebagainya, serta yang ketiga, wilayah faniy ( akademik ) yang diwakili oleh aktifitas kuliah, riset, asisten dosen, koordinator lab dan lain sebagainya.

Biasanya aktifis dakwah memilih untuk berada dalam salah satu wilayah ini. Apakah ia aktif BEM, di LDK, atau di Lab. Memang saya sering mengatakan bahwa kader dan amanah ibarat tumbuhan dan habitatnya, maksudnya seorang kader akan bisa produktif jika diberi amanah sesuai dengan potensinya. Akan tetapi, saya memncoba membuka paradigma kita, walau kita di amanahkan di suatu wilayah dakwah tertentu kita harus senantiasa siap membantu jika wilayah lain membutuhkan bantuan, dan bersedia memikirkan pula kondisi dakwah di wilayah lain.

Sebagai contoh, seorang aktifis LDK, juga perlu mengetahui terkait dakwah di kemahasiswaan. Begitu pula aktifis di kemahasiswaan perlu memahami tentang bagaimana dakwah di lembaga dakwah kampus, dan seorang koordinator lab juga perlu tanggap terhadap isu sosial politik yang seringkali didengunkan oleh kawan-kawan aktifis kemahasiswaan. Seorang aktifis yang sering demonstrasi diharapkan pula memiliki basis akademik yang kuat, seorang alumni pernah berkata “aktifis mahasiswa itu haru diatas 3 IP-nya, gimana mau merubah bangsa kalo IP aja masih seok-seok”. Terpikir dalam benak saya, benar sekali apa yang disampaikan oleh beliau, seringkali kita berasumsi bahwa “jangan sampai akademik mengganggu aktifitas”.

Berlanjut ke pembahasan di bagian ini, adanya sebuah pandangan integral tentang dakwah kampus ini perlu dibangun oleh setiap aktifis dakwah kampus di semua lini. Pandangan integral ini sebetulnya akan membuat paradigma dan wawasan dirinya tentang dakwah yang komprehensif dan terstruktur akan terbentuk. Think globally and act locally, istilah yang sering kita dengar ini bisa kita terjemahkan dalam kondisi real dakwah kita. Sebutlah, seorang aktifis dakwah yang lebih gemar belajar dan meneliti, tentu akan lebih berminat untuk aktif di lab atau asisten dosen. Seorang aktifis ini diharapkan pula memahami tentang permentoringan secara umum atau agenda dakwah yang akan dilaksanakan dan mengetahui cara-cara dakwah di lab. Dengan adanya pandangan ini diharapkan ia bisa memahami posisinya di lab, tidak hanya sebagai seorang akademisi, akan tetapi sebagai seorang da’i juga. Contoh-contoh tindakan yang bisa dilakukan adalah seperti memimpin do’a sebelum dan sesudah praktikum, mencontohkan kejujuran dan kedisiplinan ( membangun citra positif kader dakwah ), atau mengajak untuk mentoring kepada peserta praktikum.

Seorang yang biasanya memahami tentang bagaimana membuat agenda dakwah di kampus diharapkan pula mengetahui mengenai kondisi sosial politik bangsa, sehingga agenda kajian atau ta’lim yang diadakan tidak hanya seputar ibadah dan fiqih islam, akan tetapi bisa divariasikan dengan bagaimana peran islam dalam 
menghadapi isu sosial yang tengah marak. Seorang aktifis BEM pun diharapkan dapat memiliki kekuatan ruhiyah yang kuat untuk menopang aktifitasnya, karena kondisi dakwah di BEM yang cukup heterogen menuntut kedeketan dengan Allah secara intens, terkadang kondisinya justru terbalik dimana seorang aktifis BEM justru jauh dari ibadah-ibadah yang dapat memberikan kekuatan spiritual bagi dirinya.

Ketika sektor dakwah ini merupakan matriks dari skematik target dakwah kampus yang kita lakukan, penguasaan dan pengondisian para kader dakwah di ketigak lini ini diharapkan dapat mendukung penanaman nilai Islam di kampus. Kenapa harus ketiga lini ini di kondisikan ? karena memang mahasiswa yang heterogen hanya dapat di dekatkan dengan berbagai metode pula. Tidak semua mahasiswa senang mengaji, tidak semua mahasiswa senang meneliti, tidak semua mahasiswa senang untuk demonstrasi. Akan tetapi jika semua sarana yang ada di optimalkan untuk dakwah tentu kita akan dapat mengondisikan kampus kita.

Perlu dipahami bersama pula bahwa, tipikal dan karaktek kader dakwah di setiap lini akan berbeda. Di wilayah dakwiy, kondisi lebih homogen, dimana pendekatan spiritual dan keteladanan harus ditonjolkan lebih banyak, oleh karena itu perlu didukung pula oleh kader yang baik dalam pemahaman dasar Islam dan dakwah Islam. Di wilayah siyasi, dituntut kekritisan dan ketahanan akan heterogenitas mahasiswa. Seringkali tidak semua kader nyaman dalam kondisi heterogen ini dimana banyak kendala-kendala lapangan yang membutuhkan banyak penyesuaian dan tarbiyah dzatiyah yang kuat. Kekuatan leadership dan pelayanan perlu ditonjolkan karena kita adalah citra dari dakwah itu sendiri. Di wilayah faniy, dituntut adanya kepekaan akan kesempatan dakwah yang bisa dimanfaatkan, di wilayah ini biasanya seorang kader lebih “tenang” dalam berdakwah, karena relatif tidak ada penolakan, akan tetapi diperlukan kejelian melihat kesempatan, seorang kader yang berbekal intelegnsia tinggi diperlukan disini, sehingga akan terframe pula bahwa seorang kader dakwah adalah seorang yang baik dalam hal akademik.

Secara umum memang nilai , leadership, spiritual, intelegence dan social empathty diperlukan oleh seluruh kader dakwah. Adanya wilayah dakwah ini perlu dilihat bukan sebagai pemilah milah kader, akan tetapi sebagai spesifikasi keahlian seorang kader dengan itu ia akan lebih produktif, dan seorang kader dakwah harus siap berkontribusi di semua lini jika diperlukan.

Setelah kita memahami mengenai paradigma ini, saya akan mematparkan bagaimana mengorganisasikan kader agar selalu berpikir dan bergerak secara integral. Bentuk pengorganisasian ini tentu perlu dilakukan dengan menggunakan 2 cara, yakni :
1. Adanya pemimpin dakwah secara umum, pada tahap lanjut perkembangan dakwah di kampus, ketika wilayah dakwiy sudah mantap, maka tentu akan ada pelebaran dakwah ke wilayah faniy dan siyasi. Oleh karena itu, diharapkan ada pemimpin pergerakan dakwah di suatu kampus yang mengkoordinir pergerakan dakwah di tiga ini agar sinergis dan komprehensif. Bentuk pemimpin ini bisa dalam bentuk majelis syuro yang berperan dalam kebijakan-kebijakan.
2. Adanya pembinaan terbuka, maksudnya adalah, biasanya seorang kader dakwah di wilayah dakwiy banyak memperoleh pembinaan penguatan ruhiyah, kader di wilayah siyasi banyak memperoleh pembinaan terkait pemahaman sosial dan politik, dan kader di wilayah faniy banyak mendapat pembinaan terkait program peningkatan kompetensi akademik. Oleh karena itu diperlukan adanya pembinaan terbuka, yakni semua kader dakwah di suatu kampus diwajibkan mengikuti pembinaan di semua lini dakwah tanpa terkecuali, sehingga ada input pemahaman yang sama di semua kader dakwah.

Dua cara ini menjadi pendekatan struktural yang baik dalam membangun paradigma ini. Selanjutanya secara kultural diperlukan juga beberapa pendekatan, seperti :
1. Apresiasi masing-masing lini dakwah perlu dikembangkan, biasanya seorang kader enggan masuk ke lini lain karena berbagai faktor antara lain, tidak merasa memahami medan dakwah, tidak cocok dengan medan dakwahnya, tidak merasa klop dengan kader di wilayah lain. Biasany ketidak cocokan ini bermula ketika adanya underestimate kemampuan sesama kader, yang membuat kader di wilayah yang berbeda merasa minder dan tidak mau membantu. Oleh karena itu diperlukan adanya nuansa saling menghargai sesama kader dakwah di semua lini.
2. Saling mengajak satu sama lain, mengajak ini dalam rangka memberikan kesempatan agar semua kader dakwah dapat merasakan beramal di semua lini, dan dengan saling menginformasikan dan mengajak satu sama lain akan terbentu rasa saling memiliki dan keterikatan antara kader dakwah antar lini.
Harapan besar tentunya dalam dakwah kampus ini, dimana ketiga lini ini dapat tersentuh nilai Islam dengan baik. Adanya sinergisasi antar lini ini diharapkan dapat membentuk sebuah dampak yang baik dalam perubahan kondisi di sebuah kampus-tentunya ke arah yang lebih baik-. Sebagai penutup dari bagian ini, saya ingin mengingatkan bahwa hal terpenting dalam berorganisasi dakwah adalah ukhwah diantara para kader, tidak perlu semua lini dikuasai jika ternyata malah menyebabkan perpecahan diantara kita, tidak perlu kita memiliki banyak agenda jika ternyata masih ada dengki dan iri diantara hubungan sesama kader. Karena ukhwahlah yang akan mendatangkan ridho Allah dan ridho Allah lah yang kita cari dalam dakwah ini.

Perubahan struktur sosial masyarakat kampus
Memasuki era baru kebangkitn Indonesia yang ditandai dengan peringatan 100 tahun kebangkitan nasional memberikan sebuah pandangan baru dalam pergerakan mahasiswa. Pandangan baru ini sebetulnya belum ada yang bisa membuktikan apakah sebuah degradasi pergerakan mahasiswa atau perbaikan dalam pergerakan mahasiwa. Saya sendiri belum melihat adanya hal yang pasti dalam perubahan ini, karena saya pun masih melihat mahasiswa masih mencari bentuk yang tepat untuk menata pergerakannya.

Perubahan ini bukan serta merta mendadak dan tanpa sebab, atau perubahan ini juga bukan karena di rekayasa langsung oleh mahasiswa. Bisa dikatakan perubahan ini lebih disebabkan perubahan input mahasiswa itu sendiri. Perubahan yang terjadi pelan-pelan ini tidak bisa disadari begitu saja, tapi ketika ada evaluasi atau membandingkan kondisi 10 tahun lalu dengan kondisi saat ini akan tampak perbedannya. Sekali lagi, saya belum bisa menilai apakah ini sebuah perubahan yang positif atau perubahan yang negatif. Berikut saya akan mencoba memaparkan mengenai perubahan yang terjadi terhadap mahasiswa dan perubahan ini tentunya bukan sebuah masalah, akan tetapi sebuah kesempatan bagi kita untuk merumuskan dan berpikir metode dakwah yang terbaik kedepannya.

Saya akan mencoba menstrukturkan bab ini dalam 6 poin pembahasan yang diharapkan dengan adanya identifikasi perubahan diharapkan pula dapat memudahkan identifikasi masalah yang dimana juga akan memudahkan penyusunan solusi. Ke-enam poin tersebut adalah : ekonomi, orientasi, kebijakan kampus, kebiasaan / habit, pergerakan, dan kepekaan sosial.

Perubahan ekonomi
Adanya kebijakan BHMN pada beberapa kampus dan akan menyusul pada kampus negeri lainnya berakibat pihak kampus membuat kebijakan ujian mandiri atau seleksi mahasiswa secara khusus yang memungkinkan peningkatan jumlah pendapatan dari ujian ini. Biaya masuk yang bisa sampai angka ratusan juta ini berdampak pada bertambahnya jumlah mahasiswa dengan kelas ekonomi atas di sebuah kampus yang mempunyai tradisi kampus yang banyak dihuni oleh masyarakat golongan ekonomi menengah dan rendah. Semakin meningkatnya jumlah mahasiswa “borju” ini kan mengakibatpada perubahan gaya hidup dari mahasiswa itu sendiri. Motor dan mobil bukan lagi barang langka yang sulit ditemukan, handphone jenis terbaru dapat dengan mudah ditemui di kampus. Jika mendengar cerita dari alumni ITB, digambarkan bahwa mahasiswa ITB biasanya adalah mahasiswa yang makan tiga kali saja sulit, berasal dari daerah dan dengan modal pas-pasan kuliah di ITB, tidak memiliki kendaraan dan sangat sederhana, jauh dari kehidupan mewah dan hingar bingar, memang banyak juga mahasiswa yang berasal dari keluarga mapan, akan tetapi mereka tidak tampak mapan secara ekonomi jika sudah kuliah di ITB. Sungguh merupakan bentuk toleransi ekonomi yang sangat mulia. Berbeda dengan kondisi saat ini, mahasiswa ekonomi atas seakan terpisah dari mahasiswa ekonomi rendah, dan mengakibatkan perbedaan yang cukup mencolok.

Perubahan orientasi
Kampus selalu dikenal dengan nilai pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat. mahasiswa kini seperti lupa satu poin dalam tri dharma perguran tinggi, yakni pengabdian masyarakat. mahasiswa saat ini seperti sebuah cash flow di dalam kampus, dimana ia masuk dan keluar tepat waktu dan tidak memikirkan hal lain selain belajar, dan belajar. Orientasi yang dimiliki mahasiswa saat ini kebanyakan hanya seputar bagaimana ia dapat mendapat IP tinggi, lulus cepat dan dapat kerja di perusahaan dengan gaji besar. Hal ini membuat sebuah pergeseran nilai sebuah kampus, yang seharusnya dapat membentuk karaktek pembelajar dalam artian luas, dimana ia bisa mengembangkan potensi yang dimilikinya dan dengan fasilitas yang dimiliki di kampus ia dapat berkembang. Kampus yang seharusnya dapat mengembangkan potensi, justru menjadi pencetak buruh berdasi. Iming-iming kehidupan mapan membuat orientasi ini pelan-pelan berubah,adanya perubahan ini perlu disikapi dengan bijak oleh para aktifis yang saat ini lebih banyak melnyaksikan mahasiswa berkutat di lab atau perpustakaan dan aktifitas malam extrakulikuler yang hampir punah.

Perubahan kebijakan kampus
Selain perubahan terkait ujian mandiri, kebijakan lain yang belum bisa dikomunikasikan dengan baik kepada mahasiswa pun bermunculan, seperti adanya tuntutan lulus tepat waktu, biaya kuliah yang berlipat di tahun kelima, pembatasan aktifitas non-akademik, penambahan beban akademik, syarat beasiswa yang rumit, jadwal akademik diluar SKS, dan lain sebagainya. Berbagai kebijakan yang ada menurut pengamatan saya ini lebih sering membuat mahasiswa menjadi enggan untuk beraktifitas organisasi mahasiswa. Bahkan pada beberapa kampus , agenda orientasi mahasiswa dilarang dengan alasan yang tidak bisa diterima. Kebijakan yang mematikan potensi organisasi mahasiswa kian merebak dengan motivasi awal dapat mensuplai para ahli , teknokrat dan cendekiwan yang bisa menjadi buruh intelektual di masa yang akan datang.

Perubahan kebiasaan
Kebiasaan mahasiswa kini pun berubah menjadi kepada aktifitas hedonis dan individualis. Pendekatan yang saya lakukan adalah kebiasaan mengisi waktu senggang. Mahasiswa kini mengisi waktunya dengan bersenang-senang di cafe, pub and bar, atau diskotik, dan tempat-tempat hiburan lainnya, serta sebagian lain yang cenderung sedikit teman, lebih memilih menonton DVD atau bermain game di kost atau tempat tinggal. Kebiasaan lain, yakni mahasiswa lebih senang berkendaraan pribadi ketimbang menggunakan angkutan umum. Kebiasaan berpakaian pun berubah, dari mahasiswa yang biasa berpakaian sederhana menjadi mahasiswa yang selalu mahal dalam berpakaian. Kebiasaan beraktifitas pun juga berubah, dalam mengikuti sebuah organisasi seorang mahasiswa lebih senang menjadi pengikut atau hanya sebagai penerima ilmu atau mengikuti pembinaan dari organisasi tersebut.

Perubahan gerakan
Mahasiswa kini lebih senang dengan gerakan mahasiswa yang lebih koorperatif, damai, jauh dari konflik, dan mengutamakan persamaan. Perubahan cara pandang akan gerakan mahasiswa ini juga berdampak pada metode yang digunakan, mahasiswa lebih menghindari demonstrasi, mengutamakan dialog dengan cara elegan dan melihat bahwa pergerakan mahasiswa yang terbaik adalah dengan belajar. Ketika mendengar cerita dari alumni, mahasiswa dalam sejarahnya tidak pernah bisa damai dengan pemerintah, mahasiswa betul-betul eternal policy guardian bagi pemerintah. Mahasiswa dikenal selalu kritis terhadap isu dan permasalahan yang terjadi di masyarakat, mahasiswa yang dikenal peka dengan kepedihan rakyat, kini sedikit bergeser. Pergerakan mahasiswa yang sedianya dikenal dengan pergerakan intelektual, pergerakan moral dan kekritisan. Saat ini mulai berkurang kadar dari nilai-nilai ini. Perubahan bentuk pergerakan juga berdampak pada perubahan kebutuhan pemimpin, mahasiswa tidak lagi membutuhkan pemimpin yang berfilosofis dan menggebu-gebu secara berlebihan, tetapi mahasiswa lebih mengharapkan pemimpin kharismatik dan ramah.

Perubahan kepekaan sosial
Meningkatnya taraf hidup dan meningkatnya mahasiswa yang apatis terhadap kondisi sekitar membuat mahasiswa menjadi tidak peduli dan peka dengan isu dan masalah yang berkembang di masyarakat. Mahasiswa tidak merasakan kepedihan dari masyarakat yang menderita akibat kenaikan BBM, ketidakresahan ini akibat karena memang mahasiswa tidak merasakan langsung kenaikan BBM bagi dirinnya. Ketidakpekaan ini membuat gerakan sosial mahasiswa menjadi hanya bakti sosial simbolik yang tidak terfollow up dengan baik. Semua hanya tampak formalitas, dan kehilangan nilai empati yang mendalam.

Perubahan-perubahan ini sangat bijak jika kita tanggapi dengan positif, bukan sebagai sebuah masalah, akan tetapi sebagai sebuah kesempatan untuk memimpin dalam perubahan. Pergerakan mahasiswa tidak bisa dipaksakan begitu saja, akan sangat menyesuaiakan dengan input mahasiswa yang ada. Pola dakwah pun perlu secepatnya beradaptasi dengan kebutuhan objek dakwah. Berkaitan dengan perubahan struktur sosial ini, saya mencoba mengkasifikasi mahasiswa menjadi 5 kluster, yakni, akademisi, atlet, seniman, aktifis, hedonis, dan apatis.


Akademisi adalah tipikal mahasiswa yang banyak berkutat atau bahkan memang dunianya hanya terkait kuliah dan praktikum atau sering disebut dengan istilah study oriented only.
Aktifis adalah tipikal mahasiswa yang aktif berorganisasi sebagai pengurus dan berperan aktif dalam mengembangan organisasi. 
Atlet adalah tipikal mahasiswa yang senang berolahraga. Banyak berkembang belakangan ini dengan berbagai macam jenis olahraga tentunya.
Seniman adalah tipikal mahasiswa yang senang ber-seni ria, jenis seni pun berkembang seperti seni lukis, patung tekstil, dan yang terkait multimedia seperti desain visual, fotografi dan sinematografi.
Hedonis adalah tipikal mahasiswa yang lebih memilih hura-hura sebagai aktifitas selain kuliah, biasanya mahasiswa dengan tingkat ekonomi atas yang banyak menjadi tipikal ini.

Apatis adalah tipikal mahasiswa yang hanya peduli dirinya, cenderung introvert, dan lebih banyak menghabiskan waktu untuk dirinya, seperti dengan bermain game dan nonton DVD.
Dengan mengetahui perubahan struktur ini diharapkan LDK dapat segera melakukan tindakan dan rencana dakwah untuk mengadaptasi perubahan ini. Kita tidak mungkin melawan perubahan ini secara frontal, akan tetapi kita bisa membimbing pelan-pelan mahasiswa ke arah yang lebih baik sesuai dengan nilai-nilai yang kita pahami. Oleh karena itu konten turunan dan metode dakwah yang dilakukan perlu disesuaikan. Harapannya dengan itu semua gerakan dakwah kita kian diterima dan dapat membuat perubahan di kampus kita.

20 Surat ku Untuk Badan Pengurus Harian GAMAIS 2007-2008
Ikhwan dan akhwat fillah BPH GAMAIS 2007 – 2008 yang saya cintai karena Allah. Ikhwan dan akhwat fillah BPH GAMAIS 2007-2008 yang telah berkontribusi banyak dalam dakwah khususnya di wajihah dakwah GAMAIS ini. Sekitar 2 tahun kita telah melakukan sebuah dan beberapa buah hal bersama dalam bingkai dakwah yang indah dan penuh kedamaian.

Mari sebelumnya kita mamanjatkan rasa syukur serta pujian dalam keadaan kerendahan diri dan penghambaan kepada Allah subhanahu ta’ala. Mari kita lantunkan shalawat terbaik kita kepada al qudwah al uswah al qiyadhah al murrobbi nabi Allah Muhammad . Mari kita haturkan do’a kepada para pejuang, para tabi’in, para mujahid dakwah, para ulama, para aktifis dakwah kampus yang tak pernah henti mengusung panji islam dan menegakkan kalimat Allah di muka bumi. Tak lupa pula kita semua ucapkan rasa terima kasih kita kepada kedua orang tua kita yang telah membesarkan kita dan menjadi sumber motivasi, inspirasi dan kekuatan dalam menjalani kehidupan di kampus ini.

Ikhwan dan akhwat fillah, sebelumnya saya ingin mengucapkan rasa terima kasih yang sebesar besar nya kepada antum semua. Jujur dari dalam hati saya, kehadiran antum semua dalam BPH ini memberikan sebuah kekuatan dan ketenangan di diri saya. Karena saya merasa memiliki tim yang hebat dan memiliki daya inisiatif yang tinggi, sehingga roda dakwah ini dapat berjalan tiada henti. Kedekatan pribadi antar BPH yang saya rasakan saat ini membuat nuansa”keluarga” yang kita usung menjadi sangat terasa. Keterbukaan yang terjadi di antara kita semua, menjadikan roda wajihah ini menyenangkan dan penuh suka ria walau tak perlu dipungkiri bahwa amanah dakwah di GAMAIS memang berat dan tiada henti.

Ikhwan dan akhwat fillah, pada kesempatan ini saya ingin mengungkapkan sebuah pemikiran saya tentang GAMAIS , yang mungkin seharusnya saya utarakan sejak dini. Tapi karena berbagai macam pertimbangan dari saya, atas izin allah ide ini saya coba sampaikan pada tulisan ini.
Bismillahirahmanirahiim

GAMAIS di pandangan saya merupakan unit yang besar dan penuh potensi. Banyak hal yang bisa dilakukan oleh unit ini dan tentunya juga banyak yang bisa dilakukan oleh para anggota GAMAIS dengan memanfaatkan sarana dakwah ini.

GAMAIS saat ini tengah mengalami banyak transisi dan perubahan yang insya Allah menuju ke arah sebuah perbaikan yang bisa mengakselerasi dakwah di kampus ITB pada khususnya dan indonesia pada umumnya.
GAMAIS ITB yang kabarnya dikenal dan sangat diharapkan oleh kampus lain di indonesia dalam membantu percepatan lembaga dakwah kampus. Sebuah ekspektasi yang seharusnya bisa dijalankan oleh GAMAIS dengan baik.

GAMAIS ITB saat ini perlu di akui gagal dalam sentuhan syiar masif kepada masyarakat kampus ITB. Media yang digunakan kurang tepat dalam tema dan branding. Pelayanan terhadap masyarakat kampus juga tak tampak. Konsep “give what they need” kurang dilakukan di GAMAIS. Sehingga lagi-lagi agenda padat modal yang dilakukan tidak mempunyai efek yang optimal. Pure first class service, maksudnya adalah memberikan pelayanan yang maksimal kepada kader dan massa kampus. Konsep pelayanan inilah yang harus segera di lakukan, dan meninggalkan metode dakwah terdahulu yang telah terbukti kurang begitu efektif.

GAMAIS ITB saat ini mempunyai permasalahan dalam hal regenerasi kader. Perlu di perhatikan dan di evaluasi kembali dengan seksama tentang pola pembinaan kedepannya. Perlu di ingat juga GAMAIS bukanlah mahad tapi ini adalah lembaga eksekusi dakwah. Sehingga di wajihah ini perlu dibentuk sosok kader yang punya karakter eksekutor, inspirator, inisiator, dan komunikator. Walau memang perlu ditunjang dengan kekuatan ruhiyah yang kuat sebagai penopang. Kita adalah lembaga amal sehingga orientasi dakwah kita adalah beramal. Kaderisasi yang dibentuk haruslah menunjang hal tersebut. Teringat kisah perang khandak, dimana allah memberikan pertolongan kepada kaum muslimin. Memang saat itu kaum muslimin berada dalam keadaan ruhiyah terbaik, akan tetapi perlu di ingat juga bahwa kemengangan ini tak terlepas dari usaha dan taktik kaum muslim yang dengan daya eksekusi bisa membuat sebuah metode perang yang handal, dan barulah pertolongan itu datang ( ar ra’du 11 ).

Keadaan umat muslim saat ini memang berbeda, para penghafal qur’an di zaman rasul adalah mereka yang menghafal dan mengamalkan satu persatu tiap ayat sebelum menghafal ayat selanjutnya. Tapi saat ini zaman sedikit berbeda. Perlu sebuah spesifikasi kader dan amal. Seorang khalid bin walid di pilih sebagai panglima tentu nya karena kemampuan beliau dalam berperang.

Karena GAMAIS haruslah bersentuhan dengan masa kampus, maka daya komunikasi kita ke masyarakat kampus menjadi modal utama. Karena GAMAIS haruslah bisa melayani segala kebutuhan masyarakat kampus, maka kedekatan dan kepekaan kita terhadap masyarakat kampus menjadi sebuah kebutuhan mutlak. Hal ini perlu diperhatikan lebih, sehingga dakwah yang kita lakukan menjadi efektif.

Mengkritisi agenda ramadhan yang dibuat oleh panitia ramadhan 1428 H. Saya melihat kegiatan-kegiatan yang di usulkan dan seperti nya akan di eksekusi ( mungkin usulan saya tak di follow up oleh panitia ) tampak sangat kuno dan busuk , maaf kalo bahasanya kurang sopan. Tapi itulah yang saya lihat dari kurang kepahaman SDM di syiar dalam merencanakan sebuah agenda. Sekilas saja, agenda ramadhan yang di usulkan tampak seperti menggurui mahasiswa. Tampak seperti agenda satu arah yang sama sekali tidak melibatkan masa kampus. 

Bahkan untuk masa di LDF dan LDPS sekalipun. Tidak ada unsur pelayanan kepada umat dalam agenda ramadhan besok. Yang ada hanya event dan lagi-lagi event yang hanya menghabiskan uang dengan tujuan tidak jelas serta menghabiskan waktu kader dalam beribadah di bulan ramadhan. Kita perlu pahami bersama, gagalnya kita me-manage kepanitiaan ramadhan dengan baik membuat kepanitiaan ini menjadi perternakan ke futur an kader terbesar. Dilematis tapi mari kita berdo’a walau agenda ramadhan esok tidak terjadi hal yang sama.

GAMAIS saat ini merupakan unit dengan struktur terkompleks, adanya LDF dan LDPS yang sudah kita declare di bawah panji GAMAIS menjadi sebuah tanggung jawab tersendiri bagi kita semua dalam mensinergisasikannya. Alhamdulillah atas izin Allah saat ini 10 dari 11 LDF/LDS sudah terbentuk struktur nya akan tetapi saya memang belum melihat ada kemajuan yang signifikan dalam keterikatan antara wilayah dan pusat, agenda dakwah masih berjalan sendiri-sendiri, koordinasi pusat dan wilayah juga tampak belum berjalan, atau mungkin tampak malu-malu. Semoga kedepannya koordinasi tersebut dapat berjalan dengan baik.

Departemen FSLDK
Saya punya sebuah harapan bahwa keberjalanan pendampingan LDK di 50 LDK se bandung dapat terjalin dengan baik. Pola pendampingan dengan pertemuan rutin setiap 2 pekan sekali dapat di realisasikan. ( 2 pekan sekali dengan badan pekerja, 2 pekan sekali dengan LDK binaan ). Dengan pola mutabaah seperti ini ada harapan, sistem maintanance dan upgrading LDK di bandung dapat berjalan. Perubahan struktur di PUSKOMDA juga perlu di lakukan, re-shuffle badan pekerja perlu dilakukan dengan pertimbangan yang lebih matang, serta pembentukan tim mentoring puskomda yang merupakan gabungan dari beberapa kampus yang punya stok kader yang berlebih. Saya sangat mengharapkan pembentukan tim mentoring di eksekusi dengan cepat agar percepatan LDK dapat terjadi. Melihat lebih luas ke level nasional, saat ini GAMAIS akan mendapatkan amanah nasional, yakni menjadi Badan pekerja khusus training manajemen dakwah kampus. Hasil pembicaraan saya dengan ketua puskomnas, menghasilkan sebuah kesepakatan bahwa pada setiapa forum LDK daerah-saat musyawarah daerah harus di adakan sebuah sekolah LDK yang akan langsung di isi oleh GAMAIS ITB. 
Alhamdulillah di awal kepengurusan kita bisa menglaunching sebuah buku yang insya allah telah gunakan oleh lebih dari 200 kampus se-indonesia. Saya melihat ini sebagai sebuah amanah dan kesempatan untuk ekspansi dakwah ke kampus lain. Saatnya GAMAIS berpikir nasional dan memposisikan perannya sebaik mungkin dalam membantu percepatan LDK di indonesia. Nilai FSLDK yang saya lihat sudah mulai terintenalisasi ke beberapa BPH. Walau memang ekspektasi saya lebih banyak lagi BPH yang bisa punya paradigma nasional.

Departemen Humas Ekstenal
Membangun jaringan hebat adalah keniscayaan bagi sebuah lembaga seperti GAMAIS. Kebutuhan akan jaringan yang kuat merupakan dampak dari tuntutan semua elemen yang ada di GAMAIS dalam memajukan bidang-bidang yang ada. Pembentukan hubungan yang saya harapkan adalah pembentukan sebuah hubungan pelanggan dengan penjual. Definisi pelanggan disini adalah, sebuah kebutuhan akibat terjadi hubungan yang saling menguntungkan. Dengan adanya pelanggan terhadap GAMAIS maka follow up dari hal-hal yang dirasa perlu untuk di follow up dapat terjalin. Dengan siapa saja kita bisa membuat sebuah hubungan, yang pertama dengan alumni tentu nya. Dimana alumni diharapkan dapat memberikan bantuan dana, link atau jaringan ke instansi lain, dan masukan yang bermanfaat tentunya. Hubungan dengan alumni tidak lah harus alumni yang pernah beraktifitas di GAMAIS, tapi kepada alumni yang beragama muslim. Alumni yang berasal dari angkatan 70an adalah alumni yang sudah mapan secara ekonomi dan biasanya sudah mulai memilki sebuah kedekatan religius yang baik. Selanjutnya hubungan dengan media, hubungan dengan media bertujuan banyak, seperti mempunyai sebuah media rutin yang siap memberikan kesempatan kepada GAMAIS dalam promosi kegiatannya atau pelatihan-pelatihan yang bisa mengupgrade potensi kader dalam menulis dan skill branding/media

Hubungan dengan LSM atau ormas masyarakat atau ormas islam bisa di jalin sebagai sebuah kesempatan dalam menambah khazanah keilmuan kita dan mempercerdas wawasan. Pendekatan ke tokoh lokal maupun nasional dilakukan dengan sebuah harapan bisa menjadi tarbiyah buat kita, sebagai tempat berdiskusi dan memanfaatkan pengaruhnya dalam menunjang aktifitas dakwah, dan tentunya juga bantuan pendanaan untuk kas GAMAIS. Dalam pendekatan ke beberapa elemen eksternal, kita pun diharapkan mampu memilki posisi yang tegas dan jelas dalam bersikap. Kekuatan sikap ini memberikan GAMAIS sebuah ruang gerak yang tidak bisa di ganggu gugat. Ada satu agenda yang sebetulnya saya ingin humas eksternal bisa jalankan, yakni gala dinner dan alumni gathering setiap tahunnya untuk promosi agenda GAMAIS dan sekalian penggalangan dana. Alumni yang di undang tidak harus alumni GAMAIS, yang penting dia muslim dan punya pandangan postif terhadap dakwah islam.

Sekretaris Jendral
Sebuah amanah yang sangat strategis dan alhamdulillah di emban oleh seorang yang sangat layak untuk jadi kepala GAMAIS. Posisi sekjen ini diharapkan bisa mengontrol LDF dengan sebaik-baiknya. Pemantauan yang baik dan dengan pertemuan evaluasi secara rutin ini diharapkan bisa merangsang LDF dalam percepatannya. Seperti yang sudah direncakan, januari 2008 kelak akan di adakan muktamar dakwah kampus ITB bersama seluruh stakeholder dakwah kampus dan semua lini dakwah GAMAIS. Dalam menunjang proses tersebut diharapkan LDF sudah bisa mempunyai struktur yang baik dan berjalan walau belum stabil. Harapan besar sangat diharapkan kepada sekjen dimana bisa menjadi kepala GAMAIS untuk para kader GAMAIS di semua lini.

Sekretaris umum
Perbaikan serta menyelamatkan data yang ada dan di zaman dahulu serta perangkat administrasi yang ada. Perlu kita pahami bersama bahwa organisasi ini sangat lemah dalam pendataan , sehingga tidak ada bukti atau hal-hal peninggalan sejarah yang bisa digunakan untuk perbaikan ke depannya. Sekum diharapkan dapat memulai mengumpulkan data-data pada kepengurusan kepengurusan sebelumnya dan di masa yang akan datang, data-data yang ada haruslah rapih dan terstruktur dengan baik. Data-data yang ada diharapkan ada dalam berbagai bentuk, seperti tulisan, foto, video, atau audio. Tidak bisa dipungkiri bahwa satu hal yang berbentuk fisik yang bisa ditinggal kan kepengurusan ini kepada generasi selanjutnya adalah data yang berguna. Maka saya sangat beharap sekum dapat memulai dengan tegas perangkuman data-data kepengurusan ini dengan baik. 

Kajian strategis
Fungsi kajian strategis ini mungkin agak sedikit berbeda dengan sebelumnya. Tim kajstra ini saya harap bisa menjadi tim yang senantiasa berpikir dan menghasilkan sebuah keputusan yang bisa digunakan dalam pengambilan kebijakan di GAMAIS. Sebagai contoh jika ada ajakan aksi / demo oleh sebuah lembaga lain, maka tim kajstra lah yang menentukan sikap GAMAIS. Jika ada sebuah isu di kampus, kajstra lah yang membuat pernytaan sikap dan pola pandang GAMAIS terhadap isu tersebut. Tentunya juga kajstra juga melakukan kajian yang bersifat preventif. Tim di kajian strategis tidaklah harus banyak , karena kajstra diharapkan bisa merangkul semua kader dalam pembahasan agenda. Hal ini bertujuan agar kader bisa lebih cerdas dan budaya diskusi berkembang di GAMAIS.

Lingkar survei GAMAIS
Asumsi hanyalah sampah belaka di zaman ini. Hanyalah data yang bisa bebicara dan tentunya bisa dipertanggungjawabkan. Penggunaan data dalam setiap aktifitas GAMAIS haruslah dibiasakan sejak sekarang. Sudah saatnya kita mengukur keberhasilan syiar kita dengan data. Saatnya kita melakukan program kaderisasi dengan data sebagai acuan. Saatnya data berbicara, dan perlu dipahami bersama bahwa memang data itu mahal. Proses pengambilan data juga perlu dipertimbangkan dengan bijak dan dengan ilmu yang tepat. Banyak sekali data yang seharusnya GAMAIS punya untuk bekal dalam menyusun strategi dakwah dan saat ini tidak ada dengan sebuah alasan yang sangat tidak masuk akal. Seperti tidak mengerti cara mengambil data atau bahkan tidak ada orang bisa menganalisanya. Saya melihat kedepannya hal seperti ini harus ditinggalkan, dan mari kita memulai lembaran baru dakwah kampus ini dengan data sebagai pedoman menetukan gerak dakwah. Pada sesi ba’da momen ramadhan, LSG diharapkan dapat mencari dan menganalisa data-data yang dibutuhkan untuk pembahasan dalam muktamar dakwah kampus ITB januari 2008.

Force-T
Barisan ini punya fungsi khusus dan sangat flexibel. Force-T disini punya beberapa tugas yang rasanya perlu dijalankan dengan kapasitas SDM yang mumpuni. Tugas tersebut antara lain seperti bertugas dalam menjalankan pemasangan-pemasangan alat-alat penujang proses dakwah. Menjadi koordinator lapangan saat aksi, dan tugas yang sedianya mungkin sedikit butuh kemampuan dan keberanian yakni eksekusi akan tindakan kemaksiatan yang ada di kampus. Serta investigasi dan monitoring keadaan kampus terkait isu isu yang perlu di kaji dan moralitas kampus.

Internal
Peranan sektor internal sedianya berfungsi sebagai kepala bagi BPH pusat, dimana bisa mengondisikan keberlangsungan operasional di tingkat BPH pusat. Kepala internal juga sedianya bisa mengondisikan tim kaderisasi, mentoring, mushola dan kekeluargaan di seluruh fakultas. Dua potensi dan kesempatan besar ini diharapkan mampu untuk di jalankan oleh internal, dengan harapan stabilitas infrastruktur dan suprastruktur di LDF dan LDPS bisa berjalan dengan semestinya paling lambat pada bulan desember 2007. Perkembangan dakwah kita saat ini membutuhkan sebuah struktur kuat dan terdistribusi dengan merata untuk menunjang ultra struktur GAMAIS ITB. Ada sebuah harapan serta keinginan dengan baiknya keadaan di internal GAMAIS, yakni mencakup LDP, LDW, Ddan LDPS dakwah di tingkat yang lebih besar bisa dijalankan oleh GAMAIS dengan potensi dan kapasitasnya. Seorang dosen pernah mengatakan bahwa seorang mahasiswa seharusnya punya pola pandang yang besar. Saat tingkat satu berpikir tentang dakwah di kampus, saat tingkat dua berpikir tentang dakwah di kota , saat tingkat tiga berpikir dakwah di negara, saat tingkat empat berpikir dakwah secara internasional. Ada sebuah lintasan pikiran bagaimana jika dakwah di kampus ITB bisa berjalan hanya dengan sinergitas antara LDF saja, sehingga LDP bisa melakukan ekspansi dakwah ke luar kampus. Percepatan dakwah kampus saat ini tidak bisa dipungkiri menjadi sebuah kebutuhan dan tidak bisa dicegah. Dan GAMAIS haruslah berperan dalam pembangunan peradaban LDK di indonesia dengan karya dan suara.

Manajemen sumber daya anggota
Proses kaderisasi saat ini sejatinya sudah lebih baik ketimbang tahun – tahun sebelumnya. Tapi memang perlu di akui bahwa kita masih sangat lemah dalam penjagaan kader. Mekanisme memanusiakan manusia terasa sangat kurang terjalankan dnegan seksama. Kader kadang diperlakukan dengan metode yang sama, padahal tiap kader tentunya mempunyai karakteristik yang berbeda-beda. Perlakuan yang spesifik ini tentunya bisa menjadi sebuah cara baru dalam kaderisasi. Permentoringan yang ada kadang juga tak berjalan dengan optimal, tidak adanya sinkronisasi dengan syiar membuat kaderisasi sering di abaikan.

Sebuah cara pembinaan yang saya lihat sedikit baik dalam hal pengemasan dan juga menyentuh sisi pelayanan, adalah cara yang dilakukan oleh K-link internasional, sebuah perusahaan multilevel marketing dari malaysia. Perusahaan ini memberikan sebuah training untuk para anggota nya yang meliputi training emosional, teknis penjualan, pengembangan diri, tips dan trick dalam ber MLM, dll. Semua pembinaan tersebut dirangkum dalam sebuah buku saku yang terdiri dari jadwal tiap agenda pelatihan tersebut. Dengan waktu dan tempat serta pemateri yang akan tampil. Setiap anggota bebas memilih pelatihan yang akan dihadiri sesuai dengan kebutuhan.

Sentuhan kaderisasi yang dilakukan di GAMAIS tidak harus selalu berhubungan dengan masalah keislaman dasar dan pemahaman dakwah. MSDA seharusnya juga bisa memberikan sebuah pelayanan pembinaan yang strategis. Berbagai contoh bisa saya utarakan adalah training manajemen dakwah kampus, fund rising, sekolah syiar, personality training, motivasi dan emosi training, leadership, pelatihan yang bersifat fisik seperti olahraga, latihan shalat khusuk, shalat jenazah, memandikan jenazah, bimbingan akademik,bahasa arab dan inggris, training pasca kampus, dakwah fardiyah, mindmaping kehidupan, cara mengendarai mobil dan motor, cara memasak, konseling psikologis, dll.

Bentuk kaderisasi di GAMAIS seharusnya juga sudah mulai menjalankan variasi metode yang bisa dicerna dengan mudah, perlu kita cermati bahwa input kader yang masuk GAMAIS kian lebih majemuk dan massa ammah lebih banyak, ini adalah kesempatan tuk kita dalam memajukan GAMAIS dan menginklusifkan GAMAIS. Akan tetapi pola dan metode haruslah menyesuaikan. Pemberdayaan daurah kader terpusat II dan III yang idealnya adalah representatif dari semua wilayah sebisa mungki di galangkan sejak dini. Membuat sebuah sistem kaderisasi terpusat bagi semua LDF dan LDPS adalah sebuah hal yang akan dituju agar LDF dan LDPS bisa menjalankan fungsi syiar dengan optimal.

Pada hakekatnya pembentukan kader ini selalu bermula dari karakter yang ingin dibentuk di GAMAIS. Profil kader yang telah disepakati saat ini adalah intelek, qur’ani, profesional, inklusif, dinamis, dan sehat ( i-Qpids ), dengan mempunyai bagaimanan karakter itu kita bisa menurunkan ke hal-hal lain. GAMAIS juga punya prospek untuk mensuplai kader ke wajihah dakwah lain, seperti unit mahasiswa, himpunan atau kabinet dan kongres. Disinilah peran GAMAIS yang seharusnya bisa dijalankan, membuat sistem pembinaan selama tingkat satu dengan intens dan ditingkat selanjutnya dia bisa menjalankan aktifitas nya sesuai dengan keinginan mereka dan tentunya dengan sebuah frame berpikir yang sama tentang dakwah ini.

Badan rumah tangga dan kekeluargaan
Berpikir bukan bagaimana event bisa sukses. Akan tetapi berpikir bagaimana kader bisa bahagia dan nyaman beramal di GAMAIS. GAMAIS adalah lembaga syiar dan ekseskusi dan bukan lembaga mahad, saya sangat memahami dan mengakui bahwa kaderisasi di GAMAIS tidaklah sanggup untuk menangani semua permasalahan kader. Pembinaan kita dalam hal ruhiyah memang kurang. Tapi justru disanalah kelebihan kaderisasi GAMAIS. Bagaimana kita bisa membentuk kader yang punya hamasah yang istiqomah. Kunci nya ada pada kata “keluarga” . GAMAIS telah dan akan selalu menjadikan konsep kekeluargaan sebagai kunci utama penjagaan kader. BRTK punya fungsi disana. Pengadaan agenda-agenda kekeluargaan, fun day, atau mungkin jalan-jalan bareng dan sebagainya atau mungkin olahraga bareng menjadi sebuah hal yang perlu di jalankan dengan seksama.

Sekreku rumahku. Sekretariat GAMAIS yang saat ini di masjid salman, belum lah terfungsikan dengan semestinya. Fungsi sekre ibarat hanya tempat menyimpan barang ketimbang sebagai tempat merumuskan ide dan bersendau gurau. Optimalisasi fungsi sekre ini menjadi sebuah hal yang penting. Saya punya sebuah harapan sekre ini bisa jadi sebuah tempat transit dan halu halang para kader. Setiap kader wajib ke sekretariat minimal 1 kali dalam sehari. Walau memang sangat miris melihat jatah sekretariat kita yang kecil, apa perlu kita jadikan aksara sebagai sekre kita.

Rumah Allah di kampus atau sering dikenal dengan sebutan mushola tidak terberdayagunakan dengan baik. Bukan salah para mahasiswa yang tidak mau beribadah, akan tetapi memang tempat ibadah dan tempat wudhu yang ada tidaklah layak untuk digunakan. Dalam kasus ini GAMAIS lah yang seharusnya mempunyai tanggung jawab. Badan rumah tangga dan kekeluargaan juga mempunyai fungsi untuk mensejahterakan setiap mushola yang ada di kampus. Pada dasarnya dari hal pendanaan bukanlah hal yang sulit, karena bisa bekerja sama dengan pihak rektorat, tinggal bagaimana kita bisa bekerja sama dengan pihak yang bersangkutan.

Badan koordinasi mentoring
Sebuah karunia atas izin Allah semata. BKM yang dulu sangat jauh dari peredaran bph GAMAIS, sekarang sudah sangat dekat dan terjadi koordinasi yang mulai membaik. Keinginan saya terhadap BKM tidak lah muluk. Cuma satu hal, yaitu mengkoordinasikan dan memanajemen semua hal yang terkait dengan MENTORING di kampus ITB. Baik itu usroh kader GAMAIS, mentoring di LDF, mentoring di LDPS. Dengan satu pintu untuk mentoring, sinergisasi diantaranya dapat terjalin. Upgrading mentor juga tentunya menjadi tanggung jawab BKM. Besar harapan BKM bisa menjalankan fungsinya dengan baik. Karena nama BKM-GAMAIS berarti anda menjadi badang yang mengkoordinis mentoring untuk anggota GAMAIS, dan perlu kita ingat bersama bahwa anggota GAMAIS adalah semua mahasiswa muslim.

Syiar dan pelayanan kampus
Dakwah dengan konsep pelayanan kepada masa kampus adalah sebuah pola dakwah yang akan kita mulai usung kedepannya. Full first class service, pelayanan utuh yang pelu dilakukan dengan konsep “give what they need”. Terkadang kita perlu menyadari bahwa agenda yang dilakukan oleh GAMAIS sangat lah ekslusif, memang eksklusif, bukan hanya kadernya yang eksklusif karena tidak bisa berkomunikasi dengan baik dengan masa kampus dan kurang mau berbaur dengan masa kampus. Kegiatan yang dilakukan pun memang terkesan dipaksakan dan menyedikan hal-hal yang dibutuhkan oleh para kader , bukan oleh para mahasiswa ammah yang butuh hal-hal yang lebih enjoyable dan ringan.

Konsep pelayanan dalam syiar ini bisa tetap menjadikan agenda syiar ini berbobot dan bermakna dengan tentunya menyesuaikan dengan kebutuhan massa kampus. Sebagai contoh, tutorial akademik, ta’jil buka puasa, wake up sms, layanan bus mudik harga hemat, jaringan program magister, strategi pembuatan CV yang baik, sharing dengan alumni sebagai persiapan pasca kampus, dan lainnya tentunya.

Musyarokah saat ini menjadi sebuah kebutuhan dalam berdakwah. Pelibatan elemen-elemen yang ada di kampus seperti unit kegiatan mahasiswa, dosen ,himpunan, LPKM, Kabinet harus dimulai dari saat ini. Banyak hal yang bisa dilakukan dengan melibatkan elemen tersebut, sebutlah festival film islam dengan LFM, kajian ekonomis syariah denge KSEP, penampilan unit angklung atau paduan suara dalam agenda-agenda GAMAIS, tarbiyah asykariah dengan menwa, outound dan tracking atau mungkin muqoyam dengan pecinta alam. Kajian diskusi panel dengan unit kajian, gerakan perbaikan akhlak kampus dengan unit keagamaan lain, program ITB bersih dengan u-green, sahur on the road dengan himpunan mahasiswa program studi, siaran on air menjelang berbuka puasa dengan radio kampus, pembuatan dan kerjasama programming produk terkait dakwah dengan HMIF, survei kampus dengan HMP atau HIMATIKA, tadabbur alam di boscha dengan HIMASTRON, media bersama dengan boulevard, aksi sosial dengan garda ganesha, pelatihan conversation bahasa inggris dengan SEF, dan banyak lagi tentunya. Pelibatan dosen dalam ta’lim di prodi atau wilayah sebisa mungkin lebih banyak jumlahnya, dosen disini berperan sebagai pemateri, ini bagian dari dakwah ke dosen dalam porsi yangs sesuai untuk GAMAIS. Sebuah pelibatan akan setiap agenda GAMAIS dengan masa kampus membuat GAMAIS memang untuk semua.

Kajian atau menyikapi isu-isu yang ada, salah satu tujuan syiar adalah mencerdaskan umat, dalam bentuk penyikapan isu yang beredar di kampus dan kita memberikan pola pandang islam terhadap kasus tersebut atau membawa isu yang kita nilai bisa dijadikan sebuah hal yang positf. Contoh reaktif terhadap isu , saat ini ITB sedang beredar isu tentang homoseksualitas dan atheisme, disini peran syiar dalam mencerdaskan kampus, contoh syiar yang bersifat membawa isu, di bulan mei akan ada hari pendidikan, GAMAIS bisa membuat program hormat kepada dosen, dan membuat semacam propaganda terkait penghormatan kita kepada dosen, bisa jadi kita membuat best lecture of the year di setiap program studi. Bentuk pencerdasan ini bisa dalam bentuk media-media tertulis maupun elektronik atau dengan kajian-kajian dengan medium class dilakukan.

Departemen syiar multimedia
Mesin propaganda GAMAIS terhadap objek dakwah. DSM disini menjalankan fungsinya sebagai pintu keluar branding GAMAIS di kampus. Adanya standarisasi publikasi yang dibuat menciptakan sebuah brand images untuk GAMAIS. Brand images ini bisa di manfaat dengan baik untuk pembentukan justifikasi publik terhadap GAMAIS.

Selanjutnya DSM diharapkan bisa membuat produk-produk multimedia yang handal dan bisa digunakan dalam berdakwah, sebagai contoh membuat sebuah company profil GAMAIS dalam bentuk macromedia flash dan film GAMAIS, mars GAMAIS, dan sebagainya sehingga bisa digunakan dalam berdakwah. DSM disini juga harus mempunyai sense marketing dan branding yang baik karena pada hakekatnya kita berurusan dengan manusia, maka bagaimana memarketisasi dengan baik GAMAIS haruslah di kuasai oleh tim ini. Ada dua tips dalam membentuk branding, yang pertama dengan berulang-ulang dan yang kedua dengan emosi ( sentuhan hati ). Jika melakukan branding atau publikasi dengan di ulang-ulang maka akan ada konsekuensi dana yang besar akan tetapi jika di imbangi dengan sentuhan emosional yang menjamah sampai ke dalam kalbu bisa menjadi sebuah branding yang baik dan di terima oleh objek dakwah.

DSM juga diharapkan bisa menuansai kampus dengan tulisan dan kata-kata. Transformasi buletin lentera menjadi majalah seharusnya bisa dijalankan tahun ini. Pembuatan buletin saya rasa sudah bisa dijalankan oleh pihak LDPS dan LDF dan inilah saatnya kita mempunyai sebuah media pusat bersama yang lebih elegan dan berisikan hal hal yang dibutuhkan oleh objek dakwah dan hal hal yang dirasa perlu kita sampaikan.

Sebuah keinginan dari saya agar jiwa menulisa dari para aktifis dakwah GAMAIS bisa mulai di asah sejak saat ini, dengan memanfaatkan media yang kita buat seperti buletinm majalah, artikel atau sejenisnya. Saya punya harapan 90 % isi dari media yang akan di publish untuk dakwah baik dalam bentuk apapun adalah hasil tulisan para kader. Saya akui dengan penulisan sendiri, ruh yang terkandung lebih kental dan tadrib amal untuk kita juga terjadi. Walau memang perlu di akui tulisan ulama hebat lebih baik, tapi jika kita tidak bisa menulis dan menggagas ide, ulama-ulama kaliber bisa jadi terancam punah di masa yang akan datang. Karena tulisan lah saat ini jadi metode dakwah yang bertahan lama.

Humas internal kampus
Menjalin sebuah hubungan dengan pihak dan elemen kampus yang ada, atau dengan kata lain menjalin hubungan dengan semua stake holder yang ada di kampus. Humas internal kampus ( HIK ) berperan dalam ekspansi dan memperkenalkan islam dan GAMAIS ke masa kampus dengan pendekatan yang lebih personal kelembagaan maupun personal pemimpin. Pendekatan ke unit sebagai sebuah cara dalam menampung aspirasi warga unit dan mencoba mencari titik temu dalam rencana mengadakan agenda dakwah bersama. 

Pendekatan ke himpunan sebagai sebuah cara dalam menjalankan fungsi dakwah strategis , dimana himpunan harus di ubah kultur nya, disini pendekatan GAMAIS pusat dengan pemimpin lembaga sangat penting dan LDPS bisa melakukan sebuah pengenalan islam ke anggota himpunan. Pendekatan ke dosen atau ka.prodi dan dekan, pendekatan ini sebetulnya lebih efisien jika dilakukan oleh LDF dan LDPS, akan tetapi GAMAIS pusat juga bisa melakukan pendekatan untuk lebih meyakinkan. Besar harapan dari saya terhadap departemen ini bisa berkembang dan membentuk kader-kader yang sekaliber mushaf bin ummair yang bisa mensyiarkan islam di tempat yang jauh.

Annisaa
Berbicara tentang muslimah saya memang sedikit kurang paham bagaimana semestinya dan bagaimana seharusnya. Tapi sejauh saya memandang memang kemuslimahan di ITB adalah hal yang sangat penting, itulah mengapa saya juga menjadikan annisaa yang sebelum nya di bawah departemen syiar berubah menjadi sektor khusus annisaa. Muslimah punya pendekatan yang sangat lembut dan personal, dan muslimah punya sebuah kelebihan dalam berdakwah , yakni ketika terjadi sebuah keterikatan hati maka seorang muslimah akan sangat percaya dengan kader kita. Muslimah di kampus ITB memang sedikit sekitar 3000 muslimah jika saya tidak salah. 3000 muslimah ini sebenarnya bisa kita optimalkan dalam dakwah, sebuah tujuan mulia dalam pembinaan muslimah ini, karena perlu kita pahami kita tidak hanya menyelamatkan para muslimah tersebut akan tetapi kita juga menyelamatkan keturunan dari para calon ibu tersebut.

Satu hal lagi yang perlu dipahami oleh kita bersama bahwa mahasiswa yang masuk GAMAIS adalah mahasiswa yang ingin memperbaiki diri nya serta menyelamatkan masa depannya. Bagi saya pemanangan muslimah tidak berjilbab ketika agenda PMB atau kaderisasi anggota mula adalah hal yang membahagiakan, karena berarti GAMAIS memang untuk semua muslimah. Setelah mendapat pembinaan, barulah muslimah itu kita pahamkan tentang urgensi berhijab. Wallahu ‘alam. Saya tidak berani berkata banyak tentang annisaa karena saya yakin anda para kader muslimah lebih paham apa yang terjadi dan harus dilakukan di bumi anda.

Dana
Dakwah butuh jihad dan jihad butuh dana. Keberlangsungan dakwah ini tak bisa dipungkiri sangat bergantung pada dana. Kebebasan finansial di sebuah lembaga dakwah kampus menjadi sebuah kebutuhan. Saat ini GAMAIS masih punya hutang yang harus dilunasi, dan sejatinya hal ini bukanlah menjadi tanggung jawab departemen dana saja, karena kita semua keluarga maka sudah seharusnya ini jadi tanggung jawab satu keluarga.

Penggadaan dana di sebuah LDK saat ini perlu di akui agak sulit jika mengandalkan sponsorship. Pada kenyataannya untuk dana sposnsrship diatas rp.20.000.000, sangatlah sulit untuk didapat, label dakwah yang tertera pada GAMAIS biasanya menghambat hal ini, akan tetapi ini bukan lah sebuah masalah yang perlu disesalkan. Cara mennggalang dana saat ini mengalami perubahan, sebuah usaha mandiri dengan project yang masif dan bermodal sedikit besar perlu mulai dijalankan. Sebagai contoh penjualan pin hasil buatan sendiri, kita membuat pin bisa dengan harga 1200 rupiah dan bisa dijual dengan harga 3500 rupiah. Pembuatan buku, GAMAIS bulan lalu telah meluncurkan buku risalah manajemen dakwah kampus sebuah keuntungan yang sangat besar ( mencapai 8.000.000 ) dengan hanya mencetak 500 buah buku. Penyewaan infokus, pengadaan bimbingan belajar akademik, jualan makanan dengan jaringan satu kampus, jual voucher pulsa handphone, dan sebagainya. Adanya kekuatan berdagang ini bisa menjadikan sebuah lembaga dakwah kampus sehat secara finansial, dan ketika sebuah lembaga dakwah sudah sehat secara finansial maka tidak ada kekuatan ekonomi manapun yang bisa membatasi gerak dakwah ini.

Menjadikan setiap departemen yang ada di GAMAIS bisa juga mencari dana mandiri adalah sebuah visi untuk menjadikan lembaga ini sejahtera, sesuai dengan visi departemen eknonomi yakni “satu keluarga menuju GAMAIS sejahtera”. Dengan adanya kemandirian finansial di setiap departemen membuat sebuah departemen bertanggung jawab akan dana yang akan di anggarkan.

GAMAIS tahun ini memang sedikit punya jiwa “kapitalis” dalam menggalang dana, segala potensi dan peluang yang ada akan di manfaatkan dengan baik. Pola pandang bahwa GAMAIS adalah perusahaan bagi para pengurusnya adalah menjadi sebuah rasa yang ditanam sehingga, segala macam upaya dikerahkan untuk mencapai sebuah tujuan bersama. Ada sebuah ide yang masih saya coba usulkan ke sahabat-sahabat departemen ekonomi, tentang pembentukan GAMAIS member card dengan bekerjasama dengan bank syariah. 

Sehingga kita punya data yang valid akan kader dan bisa memudahkan penarikan infaq anggota. Proses auto debet rekening yang bisa kita coba teruskan ke para alumni atau mahasiswa yang punya kelebihan dana sebaiknya dijalankan. Karena pada kenyataanya kita memang jarang memanfaatkan donatur sebagai sebagai sumber keuangan. Dengan sistem auto debet ini, proses penarikan uang dapat lebih mudah dan kita bisa menganalisa berapa pemasukan GAMAIS setiap tahunnya dari donasi. Banyak sekali alumni kampus ini yang telah baik secara finansial dan biasanya alumni punya tanggung jawab terhadap almamtaternya.

Bendahara umum
Menjaga kas umat, sebuah amanah yang memang berat akan tetapi saya sangat yakin telah menempatkan orang terbaik di bidang ini di BPH GAMAIS. Proses auditing keuangan yang sehat dengan cara yang profesional membuat kader bertanggung jawab pada setiap rupiah yang dikeluarkan. Selanjutnya membuat sebuah sistem adiministrasi keuangan yang berbasis teknologi sehingga proses penarikan uang dan perhitungan menjadi lebih mudah. Selanjutnya bendahara diharapkan juga bisa me-maintain cash flow setiap departemen dan LDF/LDPS, dengan adanya pemantauan yang tegas, waste money yang terjadi di GAMAIS bisa terminimalkan. Saya terkadang melihat GAMAIS masih sering banyak waste dalam hal keuangan. Hal ini adalah hal tentunya sangat mubazir dan perlu dipertanggung jawabkan.

Akademik dan profesi
Sebuah departemen yang bau ada pertama kali saat ini, departemen yang saya nilai pada masa yang akan datang akan menjadi andalan GAMAIS dalam berdakwah, karena proses akademik dan profesi tidak akan usai di kampus tentunya. Sebuah harapan akan AkPro ini yang pertama tentunya bisa menjadi sarana dalam pemantauan dan peningkatan performasi kader di kelas dan saat ujian. Dengan berbagai metode, seperti tutorial untuk tingkat satu, pengadaan soal-soal tahun sebelumnya yang tentu di koordinir oleh LDPS, dan pengecekkan IPK agar perbandingan beban kuliah dan amanah bisa berjalan dengan baik.

Selanjutnya pola dakwah yang dilakukan oleh akpro tentunya dengan kerjasama dengan sektor syiar dan pelayanan kampus, seperti membuat expo advance degree, success interview, success buat CV, sharing dengan alumni, training pembuatan life plan, atau pembuatan university plan, sebuah proses perencanaan hidup, kelompok riset yang kabarnya akan diberi brand QORIS ( halaqoh riset ), sebuah proses pendampingan 
kelompok dengan penilitian sebagai bahasan utama.

Terkait pada teknologi dan profesi, sangat diharapkan sektor ini bisa menghasilkan kader-kader yang banyak mengikuti lomba-lomba akademik dan profesi, dengan bimbingan dari QORis dan kerjasama dengan semua stakeholder yang ada, akPro diharapkan bisa mensupport kader yang bergerak di bidang ini. Pembentukan produk-produk dakwah yang berbasis teknlogi, seperti sistem databse online, metode survei dan random sampling, sistem evaluasi mentoring terpadu, dan produk-produk yang bisa menunjang proses dakwah.

Lebih lanjut, akpro GAMAIS sudah seharusnya punya kontribusi terhadap kampus ITB, dengan basis akPro, 
seperti memasok banyak asisten dosen, atau bahkan berkontribusi dengan produk yang bisa digunakan di kampus, konsep smart building, untuk penghematan listrik, cara pemilahan sampah yang baik, dan lain-lain. Pada dasarnya ini adalah isu umat yang sangat umum, sehingga adanya GAMAIS di ranah ini adalah hal yang wajar.

Lembaga dakwah wilayah ( LDF/LDS dan LDPS )
Lembaga dakwah wilayah di masa yang akan datang akan jadi tulang punggung dan ujung tombak dakwah GAMAIS di ITB. GAMAIS pusat akan punya fungsi koordinatif, agenda-agenda syiar pun akan dicoba untuk di distribusi ke semua wilayah, pembentukan panitia dengan SDM dari wilayah atau tender event terhadap wilayah. Optimalisasi fungsi wilayah ini akan jadi fokus kita semua sampai desember 2007. Diharapkan insfrastruktur dan suprastrukr LDW bisa berjalan dengan semestinya walau mungkin belum sepenuhnya ideal.

LDW di akan jadi mitra yang akan merajut dakwah bersama, dengan sinkronisasi yang baik diharapkan, dakwah ini bisa terasa setiap hari di kampus ini. Satu branding GAMAIS yang di usung oleh LDW juga menjadi sebuah cara agar GAMAIS bisa terasa di mana-mana. Karena perlu kita pahami dan akui bersama bahwa GAMAIS adalah wajihah formal di kampus., satu koordinasi ini pula yang bisa menjadikan LDPS dan LDF menjadi legal dan punya kekuatan hukum yang memungkinkan untuk ekspansi atau bekerjasama dengan lembaga ekstra kampus.

Mekanisme koordinasi dengan dipimpin langsung oleh sekjen yang akan memimpin para ketua LDW, kep. Sektor intenal yang akan memimpin para ketua kaderisasi,mushola dan ukhwah di LDW, kep.syiar dan pelayan yang akan mengakomodir tim syiar , media di LDW, Kep. Annisaa yang akan memimpin para kepala kemuslimahan di wilayah.kep.dana yang akan memantau dan membimbing ketua tim dana di wilayah dan kep.akPro yang akan membimbing apra ketua akpro di wilayah. Dengan cara seperti ini diharapkan percepatan pembangunan LDW bisa berjalan, sehingga sinergisasi dakwah kampus ITB dapat terjalin.

Muktamar Madani keluarga mahasiswa islam Januari 2008
Insya allah pada januari 2008, kita akan mengadakan sebuah mutamar madani untuk menyusun rancangan dakwah 2008-2012, sehingga keberlanjutan dakwah dapat berjalan. Untuk itu mari kita persiapkan bersama, setelah momen ramadhan, semua kader akan terfokus pada pembinaan dan agenda syiar dengan skala sedang, dan tentunya mempersiapkan segala hal untuk mensukseskan muktamar madani ini.

Dalam muktamar ini semua stakeholder GAMAIS [ pusat, wilayah/LDF/LDPS ] akan membahas bersama terkait rancangan dakwah kita untuk empat tahun kedepan dan pembentukan berbagai grand design dakwah, kaderisasi, dan syiar, serta-serta hal lain yang dianggap perlu dibahas untuk keberlangsungan dakwah ITB yang lebih sustainable.

Ikhwan dan akhwat fillah, sekiranya itu saja yang bisa saya ungkapkan . Saya sangat memohon agar tulisanini bisa di forward ke milis lain seperti milis LDPS dan LDF agar kita semua memahami apa yang akan kita lakukan. Tulisan ini bisa digunakan oleh semua kader di semua lini dan level wajihah, anda tinggal mengkoversikan ke keadaan yang ada di lembaga anda. Tulisan ini saya harap juga bisa di forward ke milis LDK lain agar bisa dijadikan sebuah inspirasi dalam menjalankan amanah dakwah di kampus masing-masing.
Akhir kata, semoga hal-hal yang di ungkapkan ini bisa menjadi trigger dan wawasan dalam berdakwah, walau ini hanya sebuah pemikiran seorang manusia saja. Saya mohon maaf untuk segala kekhilafan yang ada. Semoga dakwah ini bisa tetap pada asholahnya dan ke futuh-an kampus ini segera terwujud.
Tulisan ini ditujukan untuk semua aktifis dakwah di Indonesia
Terutama untuk saudara ku yang sedang berjuang membangun LDK
Untuk saudaraku yang sedang berjuang menguatkan LDK
Untuk saudaraku yang akan mempercepat pertumbuhan LDK di wilayahnya
Dari LDK mula, LDK muda, LDK madya, dan hingga LDK mandiri

Ditulis oleh
Ridwansyah yusuf achmad
Kepala LDK GAMAIS ITB
http://ridwansyahyusuf.blogspot.com
yusuf_ahdian@yahoo.co.id
ridwansyahyusuf@gamais.itb.ac.id


Reactions:

0 comments:

Posting Komentar