baca juga

Rabu, 13 Mei 2015

Mahameru indonesia

—Mimpi memeluk Semeru—

Ribuan langkah telah ditapaki..
Lelah bercampur haru..
Harapan dan pencapaian impian..
Bersyukur ku tersungkur mengucap syukur...

Ini adalah cerita tentang sebuah perjalanan hati mewujudkan mimpi, penuh cerita indah dan kecerian bersama teman-teman baru, menuju satu tempat tertinggi di pulau ini, dengan perjalanan yang penuh kisah tak terperi, untaian doa tak bertepi, dan sebuah harapan mewujudkan mimpi..

Mahameru yang memilki puncak yang menjulang  tinggi yaitu 3676 meter di atas permukaan laut, menjadikannya sebagai gunung tertinggi di pulau Jawa.
Disinilah tempat Sang Idealis angkatan '66 sekaligus salah satu pendiri Mapala UI "SOE HOK GIE" tutup usia di usia emasnya, tepat satu hari sebelum ulang tahunnya yang ke-27. Disini pula sebuah cerita tentang indahnya persahabatan terukir dalam sebuah tulisan yang telah di visualisasikan 5cm.

Mendadak aku bercerita sedikit lebih dramatis perihal ini, sebuah mimpi yang akan berujung pada titik tertinggi di pulau ini. Puncak abadi para dewa. Sebuah tempat yang tak hanya mengharuskan fisik bergelut dengan alam, tetapi juga lapisan tekad yang menyelimuti hati yang bisa membawa kita kesana.
  
Melalui perjalan silaturahim Ihima Adventur, mereka yang akan membawa ku mijajakan kaki dipuncak tertinggi dipulau jawa, melepaskan sejenak rutinitas kerja dan kuliah yang membuatku terlalai dari dunia luar nan indah di luar sana.



--Bandara Hang Nadim—
19 Mei 2014

Dari batam kami berangkat menuju jakarta, saat itu hanya kami bertiga yang berangkat bareng dari batam, duanya berangkat dari bandung, meski satunya cancel karena ketinggalan pesawat.

Saat itu saya adalah mahasiwa semester akhir disalah satu perguruan tinggi di kota batam, untuk menghilangkan kepenatan dalam menyelesaikan skripsi saya memutuskan untuk ikut pendakian ke mahameru, meski awalnya plin-plan karena banyak pertimbangan, dan keputusan akhirnya saya harus berangkat, meski beberapa konsekuensi yang harus saya tanggung.

Saat itu saya biar kan skripsi yang hampir tebengkalai begitu saja, walaupun saya selesaikan ketika pulang dalam waktu seminggu, sampai akhirnya lulus juga, hhehe dan saya juga harus mengundurkan diri lebih awal dari waktu dari yang sudah saya sepakati dengan tempat kerja saya dulu.

Pilihan inilah yang mengantarkan saya kepulau jawa, saya bisa melihat monas yang menjadi kebanggaan ibu kota, sampai saya berhasil menaklukan mahameru indonesia..heheh


--Gerbong Kereta Ekomoni Pasar Senen--
20 Mei 2014

Dari Jakarta inilah saya dan teman-teman memulai langkah menjemput impian. Tepat pukul 15.00 wib, deru mesin dan dinginnya gerbong kereta Martamaja membawaku, bersama beberapa teman yang baru ku kenal saat dijakarta dan segenggam mimpiku menuju satu kota asing yang selalu di rindukan, “Malang nama kotanya”. dalam gerbong Martamaja ini, selama hampir 16 jam perjalanan kami bersua ratusan para pendaki lain yang memenuhi gerbong untuk tujuan yang sama, yaitu puncak mahameru Indonesia.
Kereta terus melaju dengan kencangnya melintasi  hamparan sawah dan hutan yang menawan, menembus bukit dan terowongan yang indah. Alangkah indah dan kaya nya alam di bumi pertiwiyang tercinta ini.Tetapi sayangnya kekaya dan keindahan alam ini hanya sedikit yang bisa menikmati hanya karena keserakahan penduduknya yang lebih mementingkan kepentingan diri sendiri diatas kepentiangan bangsa dan negaranya.

Langit malam pun perlahan memudar, berganti seberkas cahaya jingga di ufuk timur. Sungguh waktu yang sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja. Saat dimana sang fajar menggantikan gelapnya malam. Kereta pun menembus dinginnya kabut di tengah luasnya hamparan sawah.

Kami pun tak henti mengucap pujian kepada Allah Robbul ‘alamin, atas nikmat keindahan dan kekayaan bumi Indonesia, meski hanya dapat kami nikmati dari dalam gerbong kereta Api namun ini bener-benar perjalanan yang luar biasa dan akan menjadi pengalaman tak terlupakan dalam kehidupan ini.

Semburat jingga pun terus mininggi membentuk gradasi cahaya yang indah. berlatarkan persawahan khas Jawa, dengan keramahan para petaninya yang seolah mengucapkan selamat pagi dari tepi rel kereta, aku sungguh menikmati perjalanan yang indah menuju kota Malang ini.

                                     
Tanggal 21 Mei 2014

Setelah menempuh perjalanan hampir 16 jam akhirnya sekitar pukul 07.00 kami pun tiba di stasiun kota Malang, begitu memikatnya kota ini, layaknya magnet bagi para pendaki, membuat kami tidak sendiri membawa tas besar dan penuh dengan beban, tapi hampir ratusan penumpang yang turun di stasiun ini adalah pendaki atau sekedar wisatawan yang hendak melihat keindahan alam di kota Malang.

Setibanya distasiun saya dan teman-teman sudah ditunggu oleh dua orang yang akan memandu dan membantu perjalanan kami. Sebelum berangkat menuju ranu pane kami sempat sarapan nasi pecel dahulu distasiun kota malang dan tidak lama setelah selesai sarapan kamipun berangkat menuju ranu pane dengan menaiki truk.
Musim hujan telah jauh berlalu, berganti kering kemarau yang sedikit menyengat. Warna kuning yang dominan menemani perjalanan kami, terlihat pada gugur daun dan rumput yang kering, serta butiran debu yang mudah sekali dihasut angin. Praktis dua hal ini umum ditemui di sepanjang perjalanan.
Seiring roda Truck yang terus berputar, sepanjang perjananan dari stasiun kami di temani perkebunan buah apel khas Malang. Kemudian perlahan berganti ke vegetasi hijau lepas di lereng perbukitan, jalanan naik turun dalam formasi yang terkadang tidak manusiawi, dan sesaat kembali berganti ke hamparan perkebunan. Ketinggian terus bertambah. Mereka menyulap bukit-bukit ini menjadi perkebunan. Manusia memang makhluk paling pintar, sekaligus paling buas dan tak tahu batas.

Lereng-lereng miring yang nyaris tak masuk akal untuk dipijak, di ubahnya menjadi lahan pertanian yang nampak subur dengan hijaunya daun bawang yang dominan menghiasi lahan tersebut, diselingi beberapa gubuk dan pematang, membuatku tertegun sesaat memandang betapa luar biasanya akal dan otak manusia yang mempu mebuat sesuatu yang seolah mustahil, menjadi mungkin.
Semakin ke atas jalan aspal yang kami lalui semakin habis, berganti dengan jalan cor yang tak lagi rata. lubang menghiasi sepanjang jalur perjalanan, tikungan yang nyaris melingkar dengan tanjakan yang tidak wajar membuat kami yang berdiri berdesakan di atas truck bagai di putar di sebuah wahana dunia fantasi. Tanpa sabuk pengaman, tanpa pelindung apapun keculai tangan kami sendiri yang erat memegang dinding truck.



Meski begitu sepanjang perjalanan tak hentinya kami dimanjakan dengan panorama alam yang luar biasa indah dan mengagumkan. Tiba tiba sopir truck mnghentikan mobilnya di satu tempat dimana kami dapat menikmati eloknya dinding pegunungan yang mengelilingi Gunung Bromo
Puas menikmati dan mngabadikan momen di tempat tersebut, perjalanan pun kembali dilanjutkan.
Kali ini, masih dengan jalur yang tak kalah ekstrim, perjalanan kami terus menurun, hingga akhirnya tibalah kami di sebuah pemberhentian; Ranu Pane. Ranu Pane adalah desa terakhir di kaki gunung Semeru, Ranu sendiri berarti Danau.

--Ranu Pane - Ranu Kumbolo--

Selepas shalat, makan dan pengurusan izin pendakian kami menyetujui untuk memulai pendakian pada sore hariAgak sedikit sulit bagiku untuk beradaptasi dengan dinginnya Desa ini, karena karena cuaca kota batam tempat ku tinggal tidak sedingin ini. Ditemani musik nasyid yang tak henti menggaung dari sedari tadi yang kami lantun kan secara bersama-sama, saya pun memanjatkan doa agar perjalanan yang akan  ku lalui senantiasa mendapat lindungan dari Allah Robb Semesta Alam.

Sore itu kami mulai berangkat menuju ranu kumbolo, perjalanan yang cukup melelahkan, perjalanan yang menempuh waktu 5-6 jam, ketika kami sampai diranu kumbolo hari sudah gelap menunjukan jam 10 malam hari. Diranu kumbolo kami memasang tenda dan membuat api kemudian dilanjutkan dengan makan malam.

Pemandangan yang sangat luar biasa menyambut kami ketika tiba diranu kumbolo, begitu indah oleh gemelap gemerlip cahaya lampu para pendaki yang menginap diranu kumbolo. Suhu diranu kumbolo pada malam hari sangat dingin tak hern jika orang menjuluki ranu kumbolo sebagai tempat terdingin dipulau jawa.
Menginap semalaman diranu kumbolo cukup untuk menambah energi kami untuk melanjutkan perjalanan menuju kali mati tempat ngecamp selanjutnya. Berpuas ria menikmati ranu kumbolo, setelah salarapan siang harinya kami melanjutkan perjalan menuju kali mati.

                                                        --Ranu Kumbolo - Kalimati--
22 Mei 2014
Dalam perjalan menuju kali mati kami melintasi berbagai tempat yang sangat indah seperti; tanjakan cinta, padang oro oro ombo, comoro kandang, Jambangan dan kalimati.
Tepat pada pukul 4 sore akhir nya kami sampailah di kalimati tempat ngecamp kedua setelah ranukumbolo. Nama Kalimati berasal aliran sungai yang kering. Air sungai akan mengalir hanya pada saat musih hujan saja. Aliran air ini saya dengan aliran lahar gunung semeru.
Setibanya dikalimati kami mendirikan tenda dan masak buat persiapan makan malam, sebagian lagi shalat dan kita ganti-gantian. Setelah makan malam usai kami breafing sebentar dan kemudian semua nya disuruh istirahat. Dan tepat jam 22;15 wib kami semua bangun dan siap-siap untuk summit menuju puncak mahameru.

                                                 --Kalimati - Puncak Mahameru--
23 Mei 2014
Sebelum berangkat kami berdoa bersama, semoga perjalan malam ini allah beri kekuatan dan sampai dipuncak mahameru indonesia. Meski ada dua orang teman kami yang tidak bisa ikut summit karena kondisi sakit dan sedih rasa nya harus meninggalkan mereka di tenda camp kalimati, namun semangat untuk mencapai puncak tetap menggelora.
Perjalanan pun dimulai, berjalan dimalam hari yang hanya berbekal senter dan tenaga sisa dari ranukumbolo – kalimati kamipun melangkah dengan mantap nya menuju puncak mahameru. Ketika itu kami hampir tersesat karena kami mengikut orang entah siapa mereka, namun karena ada rombongan yang dibelakang kami mengingatkan akhirnya kamipun kembali ke jalan yanga benar..hehe
Kami melintasi hutan cemara dan bebukit yang banyak menguras tenaga, karena jalur yang kami lalui sangat terjal yang diselimuti hutan lebat saat menuju arcopodo dan track berbatu serta berpasir yang kemiringan tanjakannya mencapai 45 derajat saat menuju puncak mahameru.
Dan akhirnya tepat pada pukul 07 pagi sampai lah saya di puncak mahameru yang sangat dirindukan. Puncak tertinggi dipulau jawa yang menjadi kebanggaan bagi mereka yang sampai dipuncaknya.
Dan saya harus berpuas diri karena harus melihat sunrise hanya ditanjakan mahameru saja, namun pemandangan sunise di ditanjakan mahameru sudah sangat indah sekali dan sudah cukup untuk mengobat lelah perjalanan pendakian ini.
Setiba sampai nya diatas puncak mahameru hanya beribu kata syukur dan tahmid yang bisa saya ucapkan sebagai pengakuan kemahabersaran ciptaan sang maha pencipta. Saya juga selalu teringat dan terucap ketika sampai dipuncak adalah firman allah “fabiayyiallah irobbikumaatukaziban” “nikmat tuhan mu yang mana lagi yang kamu dustakan.
Kemudia jam sembilan lewat teman ku yang sama-sama berangkat dari batam baru sampai puncak. Dan tepat jam 10;00 wib kami semua harus turun karena setelah lewat jam 10 wib mahameru akan mengeluarkan gas beracun, jadi semua pendaki harus turun.

Bersambung.....

“Teruslah bermimpi, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu"



Reactions:

0 comments:

Posting Komentar