This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

baca juga

Sabtu, 18 Juni 2016

KEUTAMAAN BULAN RAMADHAN

Alhamdulillah, wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala aalihi wa shohbihi ajma’in.
Ramadhan adalah Bulan Diturunkannya Al Qur’an
Bulan ramadhan adalah bulan yang mulia. Bulan ini dipilih  sebagai bulan untuk berpuasa dan pada bulan ini pula Al Qur’an diturunkan. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ
“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” (QS. Al Baqarah: 185)
Ibnu Katsir rahimahullah tatkala menafsirkan ayat yang mulia ini mengatakan, ”(Dalam ayat ini) Allah Ta’ala memuji bulan puasa –yaitu bulan Ramadhan- dari bulan-bulan lainnya. Allah memuji demikian karena bulan ini telah Allah pilih sebagai bulan diturunkannya Al Qur’an dari bulan-bulan lainnya. Sebagaimana pula pada bulan Ramadhan ini Allah telah menurunkan kitab ilahiyah lainnya pada para Nabi ’alaihimus salam.”[1]
Setan-setan Dibelenggu, Pintu-pintu Neraka Ditutup dan Pintu-pintu Surga Dibuka Ketika Ramadhan Tiba
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ
Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan pun dibelenggu.”[2]
Al Qodhi ‘Iyadh mengatakan, “Hadits di atas dapat bermakna, terbukanya pintu surga dan tertutupnya pintu Jahannam dan terbelenggunya setan-setan sebagai tanda masuknya bulan Ramadhan dan mulianya bulan tersebut.” Lanjut Al Qodhi ‘Iyadh, “Juga dapat bermakna terbukanya pintu surga karena Allah memudahkan berbagai ketaatan pada hamba-Nya di bulan Ramadhan seperti puasa dan shalat malam. Hal ini berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Di bulan Ramadhan, orang akan lebih sibuk melakukan kebaikan daripada melakukan hal maksiat. Inilah sebab mereka dapat memasuki surga dan pintunya. Sedangkan tertutupnya pintu neraka dan terbelenggunya setan, inilah yang mengakibatkan seseorang mudah menjauhi maksiat ketika itu.” [3]
Terdapat Malam yang Penuh Kemuliaan dan Keberkahan
Pada bulan ramadhan terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan yaitu lailatul qadar (malam kemuliaan). Pada malam inilah –yaitu 10 hari terakhir di bulan Ramadhan- saat diturunkannya Al Qur’anul Karim.
Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3
Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada lailatul qadar (malam kemuliaan). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al Qadr: 1-3).
Dan Allah Ta’ala juga berfirman,
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ
Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.” (QS. Ad Dukhan: 3). Yang dimaksud malam yang diberkahi di sini adalah malam lailatul qadr. Inilah pendapat yang dikuatkan oleh Ibnu Jarir Ath Thobari rahimahullah[4]. Inilah yang menjadi pendapat mayoritas ulama di antaranya Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma.[5]
Bulan Ramadhan adalah Salah Satu Waktu Dikabulkannya Do’a
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ لِلّهِ فِى كُلِّ يَوْمٍ عِتْقَاءَ مِنَ النَّارِ فِى شَهْرِ رَمَضَانَ ,وَإِنَّ لِكُلِّ مُسْلِمٍ دَعْوَةً يَدْعُوْ بِهَا فَيَسْتَجِيْبُ لَهُ
Sesungguhnya Allah membebaskan beberapa orang dari api neraka pada setiap hari di bulan Ramadhan,dan setiap muslim apabila dia memanjatkan do’a maka pasti dikabulkan.”[6]
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالإِمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ
Tiga orang yang do’anya tidak tertolak: orang yang berpuasa sampai ia berbuka, pemimpin yang adil, dan do’a orang yang dizholimi”.[7] An Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Hadits ini menunjukkan bahwa disunnahkan bagi orang yang berpuasa untuk berdo’a dari awal ia berpuasa hingga akhirnya karena ia dinamakan orang yang berpuasa ketika itu.”[8] An Nawawi rahimahullah mengatakan pula, “Disunnahkan bagi orang yang berpuasa ketika ia dalam keadaan berpuasa untuk berdo’a demi keperluan akhirat dan dunianya, juga pada perkara yang ia sukai serta jangan lupa pula untuk mendoakan kaum muslimin lainnya.”[9]
Raihlah berbagai keutamaan di bulan tersebut, wahai Saudaraku!
Semoga Allah memudahkan kita untuk semakin meningkatkan amalan sholih di bulan Ramadhan.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Sumber: https://muslim.or.id/4007-keutamaan-bulan-ramadhan.html

Rabu, 01 Juni 2016

Sosialis yang mulai terkikis apatisme

Menurut Keith Jacobs sosial adalah sesuatu yang dibangun dan terjadi dalam sistem komunitas, dan Lewis mengatakan sosial adalah sesuatu yang dicapai, dihasilkan dan diterapkan dalam interaksi sehari - hari antara warga negara dan pemerintah. sedangkan pengertian sosialisme adalah paham yang bertujuan untuk membentuk  kemakmuran kolektif yang produktif dan membatasi milik perorangan. Dan Apatis menurut kamus besar bahasa indonesia (KBBI) adalah acu tidak acuh, tidak peduli dan masa bodoh.

Pergeseran zaman adalah sebuah keniscayaan, seperti pergantian siang dan malam, pergantian musim dan semuana itu dipergilirkan untuk diambil pelajarannya. terkikisnya sifat sosial yang miliki oleh sebagian besar masyarakat oleh sifat indonesia apatis yang hanya mementingkan dirinya sendiri, keserahan, acuh tak acuh dan lainnya meski sebenarnya masih banyak masyarakat indonesia yang sosialis.

Istilah " Berat sama pikul ringan sama di jinjing "ini sangat identik dengan sifat masyarakat indonesia. istilah ini memberikan gambaran bahwa sebenarnya masyarakat indonesia itu sosialis suka membantu sesama, seperjuangan sepenanggungan.

kebiasan gotong royong, kerja bakti, atau apalah namanya kita sudah jarang dilakukan oleh sebagian orang, mereka sibuk dengan diri mereka sendiri, sibuk dengan kerjaan mereka sendiri, mereka sibuk untuk menumpuk harta dan semua yang bisa ditumpuk.

pergeseran ini seharusnya menjadi pelajaran bersama bagi kita agar kita tidak menjadi orang yang terkikis atau istilah lainnya hanyut terbawah perkembangan zaman. Nilai - nilai kebaikan dan budaya luhur masyarakat harus tetap dilestarikan sehingga cita - cita bersama untuk mewujudkan kehidupan sosial yang makmur, produktif dan sejahtera akan dengan mudah terwujud.

menurut kami jika beberapa sifat ini ada  pada diri kita maka kita termasuk mereka yang sifat sosialnya terkikis oleh sifat apatis:
1. ketika sudah hilangnya rasa kepedulian
banyak sebagian orang yang sudah tidak peduli lagi terhadap kondisi sekitarnya, misal sudah tidak peduli lagi dengan sampah yang menumpuk atau tidak peduli lagi dengan kondisi tetangganya, sudah tidak peduli lagi dengan kondisi temannya, sudah tidak peduli lagi dengan kondisi lingkungannya dan lainnya.
kepedulian itu hanya sebuah kepekaan, keterpanggilan untuk merasa serasa dan sepenanggungan, merasa kan perasaan yang sama, merasakan keterkaitan antara satu dengan yang lain.

2. hilangnya rasa memiliki
sifat ini yang banyak salah diartikan oleh sebagian kita, kita mungkin mengartikan memiliki ini hanya untuk di kuasai oleh individu atau peraorangan, padahal sebenarnya makna memiliki ini bisa juga diartikan dengan mengelolah, memelihara, merawat dan lain sebagainya yang memiliki arti yang sama.
contohnya, kita sudah tidak mau lagi diajak gotong royong, kita sudah tidak perlu lagi hadir dalam kegiatan-kegiatan sosial.

3. hilangya rasa tanggung jawab sosial
tanggung jawab sosial merupakan tanggung jawab setiap orang, karena pada dasarnya kita adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendirian. kita butuh orang lain untuk membantu kita.

4. adanya sifat tamak (mementingkan diri sendiri)
kerja - kerja sosial merupakan kerjabersama tanpa pamri, bukan kerja yang sedikit - sedikit mengharap ada imbalan. ketamakan, kerakusan dan sejenisnya inilah yang merusak tatanan sosial kita saat ini.

untuk tidak terkikis sifat sosialis maka perlu kiranya kita merenungkan kembali ungkapan berikut ini " kami jadikan kamu semua bersuku suku, berbangsa dan bernegara agar kamu saling mengenal, saling ingat mengingkatkan dalam kebaikan, tolong menolong, dan berlombah lombah dalam melakukan kebaikan..". atau "berat sama dipikul, ringan sama dijinjing".

renungkanlah bahwa sesunggunya kita adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendirian, kita butuh orang lain untuk saling tolong menolong dalam menjalani kehidupan ini.

berkontribusi dalam kerja - kerja sosial merupakan bentuk amal kebaikan yang menjadi bekal untuk menghadap tuhan kelak.

#ayoolebihbaik