baca juga

Rabu, 27 Mei 2015

Dik, Mengapa kau putuskan aku


--Mawar tertunduk lesu dengan menggenggam sebuah surat dari Tetranychus, pacarnya. Mawar tidak bisa menahan pilu dan tangisnya. Surat Tetranychus berbunyi “ My Dear, semoga kamu masih dalam lindungan allah sang pencipta alam semesta, manusia dan kehidupan, sholawat serta salam kita sampaikan kepada nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan para sahabatnya.

Dik Mawar, selama setahun lebih kita jalan bareng, suka duka dalam pacaran telah kita lalui dan sekarang (akhir-akhir) ini aku menjauh darimu kukan karena kebencianku padamu tapi ada cinta lin yang tumbuh dihati yaitu cintaku pada allah dan rasulnya dan aku harap kamu juga begitu.

Aku sekarang dalam pembinaan islam intensif (Halaqah), dari halaqah inilah aku sedikit banyak mengenal islam yang benar. Tanpa kita sadari karena kebodohan kita banyak aktivitas kita dalam pacaran yang melanggar syariat allah. Dik, aku menyesal pernah memegang tangan mu, memelukmu bahkan mencium pipimu padahal kamu belum menjadi istriku dan aku menyesal pernah berdua-duaan denganmu, karena allah dan rasulnya mengharamkan semua itu.

Dik, bukankah kita ini orang islam yang beriman, yang mengimani adanya allah yang maha esa, muhammad adalah rasulullah, al quran firman allah, malaikat-malaikat allah, adanya hari kiamat dan pembalasan serta taqdir baik dan buruknya dari allah SWT, tetapi mengapa ketika allah membuat aturan, kita tidak menurutinya?. Katanya ingin selamat dunia akhirat tapi mengapa memilih jalan kesesatan, bukan malah jalan yang diridhoi allah yaitu syariat islam?

Dik, aku sekarang ingin menjadi orang yang bertaubat, orang yang beriman dengan sebenar-benarnya, bukan iman dengan embel-embel “Tapi”. Dik, islam telah mengatur hubungan pria dan wanita secara sempurna:
     1.       Islam memerintahkan kepada manusia baik pria maupun wanita untuk menundukan pandangan (lihat Qs. An Nur:30-31)
     
     2.       Islam memerintakan kaum wanita untuk mengenakan pakaian secara sempurna ketika keluar rumah dengan memakai keluar rumah dengan memakai kerudung (khimar) dan jilbab (baju terusan/baju kurung). (lihat surat An Nur 31 dan Al Ahzab:59)
     
     3.       Islam melarang seorang wanita melakukan safar (perjalanan) dari satu tempat ke tempaat yang lain selama sehari semalam kecuali disertai mahramnya.
     
     4.       Islam melarang pria dan wanita untuk berkhalwat (berdua-duaan) kecuali wanita itu disertai mahramnya. Rasulullah bersabda “tidak diperbolehkan seorang pria dan wanita berkhalwat kecuali kecuali wanita itu disertai mahramnya”.
     
     5.       Islam melarang wanita untuk keluar rumah kecuali seizin suaminya. Dari Anas ra “disebutkan bahwa ada seorang laki-laki yang berpergian seraya melarang istrinya keluar rumah, kemudian dikabarkan bahwa ayah itu sakit. Wanita itu lantas meminta izin kepada Rasulullah SAW agar di bolehkan menjenguka ayahnya. Rasulullah menjawab “hendaklah kamu takut kepada allah dan janganlah kamu melanggar pesan suamimu”. Tidak lama kemudian ayahnya meninggal, kemudian wanita itu pun kembali meminta izin kepada rasulullah SAW agar dibolehkan melayat ayahnya. Beliau (rasulullah) kembali bersabda ‘hendaklah kamu takut kepada allah SWT, menurunkan wahyu kepada nabi SAW, sesungguhnya aku telah mengampuni wanita itu karena ketaatan dirinya kepada suaminya”.
     
     6.       Islam sangat menjaga agar dalam kehidupan khusus hendaknya jama’ah (komunitas/organisasi) kaum wanita terisah dari jamaah kaum laki-laki, begitu juga dimasjid, disekolah, dsb. seorang wanita hendaknya hidup ditengah-tengah kaum wanita, begitu pun kaum pria hidup ditengah-tengah kaum pria. Meski demikian dalam islam seorang wanita dapat melakukan aktifitas yang bersifat umum seperti mengajar, jual beli, dosen, dokter, politisi, dsb.
     
     7.       Islam sangaat menjaga agar hubungan kerjasama antara pria wanita hendaknya bersifat umum dalam urusan-urusan muamalah, pendidikan, politik, kesehatan, dsb. Bukan hubungan yang bersifat khusus seperti saling mengunjungi antara pria dengan wanita yang bukan mahromnya atau jalan-jalan bersama. Sebab kerjasama antara keduanya bertujuan agar wanita mendapatkan apa yang menjadi hak-hak nya dan kemaslahatannya, disamping agar mereka melaksanakan apa yang menjadi kewajiban-kewajibanya.

Dik Mawar, itulah yang ku pahami dan ku imani bahkan sekarang ku perjuangkan agar bisa mengentaskan diri dari masyarakat dari kerusakan. Coba lihat kasus-kasus perzinaan akibat pacaran, kehamilan diluar nikah, aborsi, bahkan pembunuhan akibat pergaulan bebas. Aku tidak ingin mengotori inta suci yang diberi allah kepada manusia. Aku ingin membina keluarga yang sakinah, mawadah wa rohmah.

Dik, sekali lagi maafkan aku, bukan karena wanita lain aku memutuskan mu tetapi karena iman yang tertanam di dada, karena aku menyayangi mu dan aku tidak ingin kamu rusak. Aku ingin cinta dan benciku karena allah.

Dik, kita putus pacaran bukan berarti puts persaudaraan. Kamu adalah saudara seiman/seaqidah dan semuslim. Ku harap kamu menjadi wanita halihah yang akan melahirkan generai-generasi pejuang islam. Jika pun kita bejodoh pasti akan dipertemukan dalam singgasana keridhoaanya, tapi aku tidak ingin cara pacaran dan cara-cara yang di murkai allah. Aku ingin ketemu jodoh dijalan yang diridhoi allah (sesuai syariat islam).

Dunia adalah ladang amal
Ku tanam kebaikan, ku petik kebaikan
Ku tanam keburukan, ku tuai keburukan
Yang pasti ladang itu akan musnah
Hanya satu kehidupan yang kekal
Kehidupan yang hanya ada dua pilihan neraka atau surga.
Itulah kampung akhirat tempat kita kembali.
Please forgive me,
Memories never die
Dari saudaramu
Tetranychus

Mawar pun termenung dalam kesendirian, dalam seribu tanya sesak di dada, pemahaman apa yang bisa merubah tetranychus dan keimanan seperti apa yang ia miliki sekarang sehingga ia mampu mengorbankan cinta yang terbina bertahun-tahun.

Jalan islam? Ya, islam yang merubah itu semua hingga kemuliaan menghampiri Tetranychus. Pemikiran mawar berkecamuk, tetapi hatinya sangat kuat untuk mencoba mengikuti halaqah mengikuti jejak tetranychus, hanya karen ingin mendapatkan ridho ilahi atau berubah karena allah bukan karena dan sebab yang lain.

#catatan :
Cerita ini ditulis teruntuk si pria dan si wanita yang sudah pernah atau pun belum pernah pacaran, dan cerita ini ku persembahkan untuk orang-orang yang berani mengambil jalan kebenaran dalam ridho ilahi (mengharap ridho allah). Orang-orang yang bersabar dan istiqomah dalam ketaatan kepada allah swt.


Sumber : Dakwahislam.net
Reactions:

0 comments:

Posting Komentar