baca juga

Senin, 08 Agustus 2011

saleh dan malu

Beruntung, saya pernah mengenal tiga orang saleh, ketiganya tinggal di daerah yang berbeda, sikap dan pandangan agamis mereka berbeda, dan jenis kesalehan mereka pun berbeda. saleh pertama di klender, orang betawi campuran arab. ia saleh, semata karena namanya. orang menyukainya karena ia aktif siskamling meskipun bukan pada malam gilirannya. Orang kedua, Haji Saleh Habib Farisi, orang jawa. agak aneh memang, Habib Farisi sebuah nama jawa, ia saleh dalam arti sebenarnya, minimal kata para jamaah masjid kampung itu, jenggotnya panjang, peci putihnya tak pernah lepas, begitu juga sarung plekat abu2nya itu, tutur katanya lembut, seperti mas danarto. ia cekatan memberi senyum pada orang lain. Alasannya, " Senyum itu Sedekah ". Kepada anak kecil, ia sayang. Hobinya mengusap kepala bocah-bocah yang selalu berisik pada saat sholat jamaah berlangsung.

Usapan itu dimaksudkan agar anak-anak itu tak lagi bikin gaduh. Tapi yang namanya bocah ya tetap aja bocah, biar seribu kali kepala di usap, ribut tetap jalan. seolah mereka khusus dilahirkan buat bikin ribut di masjid.
" Ramai itu baik saja," Katanya dengan sabar ( ketika orang-orang lain pada marah ). " Karena ramai tanda kehidupan ", katanya lagi. " Lagi pula, kita harus bisa sholat khusuk dalam keramaian itu. " Mungkin ia benar, Buktinya ia betah berjam-jam Dzikir di masjid. Sering sholatnya sambung menyambung tanpa terputus kegiatan lain.
Selesai magrib, ia tetap berdzikir sambil kepalanya terangguk-angguk hingga Isya' tiba. Jauh malam, ketika orang masih lelap dalam mimpi masing-masing, ia sudah mulai sholat malam, kemudian dzikir panjang sampai subuh tiba. Selesai subuh dzikir lagi, mengulang-ulang Asmaul Husna dan beberapa Ayat pilihan sampai terbit matahari.

Ketika sholat Duha, tidur lagi satu jam, selebihnya dzikir..dzikir..dzikir. pas betul dengan nama yang disandangnya. Dasar sudah saleh, plus Habib ( nama sufi besar ) ditambah Farisi ( salah seorang sahabat Nabi .
Kalau kita sulit menemui Pejabat karena banyak acara, kita sulit menemui orang jawa ini, karena ibadahnya di masjid begitu padat. Para tetangga menaruh Hormat padanya, banyak pula yang menjadikannya Idola. Namun ia mempunyai kekurangan, ada dua macam cacat utamanya. Pertama,, kalau dalam sholat jamaah tak ditunjuk jadi Imam, ia tersinggung. Kedua, kalau orang tak sering Sowan ke rumahnya, ia tidak suka karena ia menganggap orang itu telah mengingkari eksistensinya sebagai orang ada di depan.

" Apakah ia dengan aktif di masjid karena ingin menjadi Tokoh ?. " Hanya Allah dan dia yang tahu. Pernah saya berdialog dengannya, setelah begitu gigih menanti dzikirnya yang panjang itu selesai. Saya katakan bahwa kelak bila punya waktu banyak, saya ingin selalu dzikir di masjid seperti dia, saya tahu, kalau sudah pensiun, saya akan punya waktu macam itu.
" Ya kalau sempat pensiun, " Komentarnya. " Maksud pak Haji ?. " Memangnya kita tahu berapa panjangnya usia kita ?. Memangnya kita tahu bakal mencapai usia pensiun ?. " Ya, ya benar pak Haji,". saya merasa terpojok.
" Untuk mendapat sedikit bagian dunia, kita rela menghabiskan seluruh waktu kita. Mengapa kita keberatan menggunakan beberapa jam sehari buat hidup kekal abadi di surga ?. " Benar pak, Haji, orang memang senang mengejar dunia." Itulah, cari neraka saja mereka". Maka tak bosan-bosan saya ulang nasehat bahwa orang harus sholat sebelum di sholatkan. " Mungkin tak ada yang salah dari sikap pak Haji Saleh. " Tapi kalau saya takut, sebabnya kira-kira ia terlalu menggaris bawahi " Ancaman ".

Saya membandingkannya dengan orang Saleh ketiga, ia juga Haji, pedagang kecil, petani kecil, dan Imam di masjid kecil. Namanya bukan Saleh, melainkan Sanip, Haji Sanip, orang betawi asli. Meskipun Ibadahnya ( di masjid ) tak seperti Haji Saleh, kita bisa merasakan kehangatan Imannya. Waktu saya tanya, mengapa sholatnya sebentar, dan Do'anya begitu pendek, cuma melulu Istigfar ( mohon ampun ). ia bilang bahwa Ia tak ingin meminta aneh-aneh. ia malu kepada Allah.
Bukankah Allah sendiri menyuruh kita meminta dan bukankah Allah berjanji Mengabulkannya ?
" Itu betul, Tapi minta atau tidak, kondisi kita sudah dengan sendirinya kan. Kita ini cuma sekeping jiwa telanjang, dari hari ke hari nyandong Berkah-Nya, tanpa pernah memberi. Memang Allah Maha Pemberi, termasuk memberi kita rasa malu, Kalau Rezeki-Nya kita makan, mengapa rasa malu-Nya tak kita gunakan ?" katanya.

Bergetar saya, untuk pertama kalinya saya merasa malu pada hari itu. Seribu Malaikat, Nabi-Nabi, Para wali, dan orang-orang suci langsung di bawah Komando Allah seperti serentak mengamini ucapan orang betawi ini.
" Perhatikan di masjid-masjid, Jamaah yang meminta Allah kekayaan, tambahan Rezeki, naik gaji, naik pangkat.
Mereka pikir Allah itu Kepala Bagian Kepegawaian di kantor kita. Allah kita Puji-puji karena akan kita mintai sesuatu, ini bukan Ibadah, Tapi dagang, mungkin bahkan pemerasan yang tak tahu malu, Allah kita sembah, lalu kita perah Rezeki dan Berkah-Nya, bukannya kita sembah karena memang seharusnya kita menyembah, seperti tekad Al-Adawiyah itu, " katanya lagi.

Nafas saya sesak , saya tatap wajah orang ini baik-baik. Selain keluhuran batin, di wajah yang mulai menampakkan tanda ketuaan itu terpancar ketulusan Iman. Kepada saya, pak. Haji itu jadinya menyodorkan sebuah cermin.
Tampak disana, wajah saya retak-retak, saya malu melihat diri sendiri. Berapa banyak saya meminta selama ini, tapi betapa sedikit saya memberi. Mental korup dalam Ibadah itu, ternyata bagian hangat dari kehidupan pribadi saya juga.

~~~~~~
Dikutip dari Buku Kang Sejo Melihat Tuhan
Reactions:

0 comments:

Posting Komentar